Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Aku Divaksin Covid! Kamu?

Hai, hari yang kutunggu tiba. Divaksin! 

Yup, setelah setahun lebih Virus Coronce berkeliaran bebas di Indonesia, ribuan orang  tewas, sejuta lebih terifeksi, berbagai sektor terkena imbas hingga banyak yang bangkrut dan karyawan di-PHK. Belum lagi rasa was-was setiap  mau ke luar rumah, takut ketemu sama orang dll.

Kini, perasaan khawatir itu sedikit terobati dengan VAKSIN.

Ya memang, dengan banyaknya orang yang sudah divaksin, bukan berarti pandemi berakhir. Tapi paling tidak, vaksin memberikan kekebalan terhadap tubuh kita. Jadi kalau kita kena coronce, gak akan parah dampaknya. Itu mengapa daku bahagia dengan kehadiran si vaksin.



Alhamdullilah, menurut pemerintah, Indonesia adalah negara terdepan di Asia Tenggara dalam  pelaksanaan vaksin. Di Saat negara-negara masih berebutan jatah vaksin, Indonesia malah berlari ke tahap dua vaksinasi Covid. Siapa dulu  dong presidennya? eaaaa..... ☺☺☺

Jumat, 26 Maret Maret 2021, pukul 11.30 WIB saya menuju menuju Balai Kota Jakarta atau kantor Gubernur Anies Baswedan. Di tempat inilah digelar vaksinasi tahap kedua khusus pekerja media. Tahap 1 sudah digelar sekitar awal Maret di Gelora Bung Karno untuk sekitar 5000-an pekerja media di Jabodetabek.

Namanya pekerja media, jadi tak hanya jurnalis atau wartawan yang divaksin, tapi semua karyawan yang bekerja di media. Mulai  dari staf HRD, keuangan, sales, markom, admin, sekuriti, office boy, dll.

Saat tiba, aula yang bakal jadi tempat vaksinasi, rupa-rupanya dipakai dulu untuk Salat Jumat. Baiklah saya harus menunggu. Padahal, pukul 12 siang saya udah nyampe lho, walau jadwalnya pukul 13-an, saking semangatnya gaes, hehehhe

Karena shift saya belum dimulai, jadi saya nyari tempat duduk buat nunggu waktu. Kebetulan di halaman balaikota ada tenda kosong. Duduklah saya di sana sembari tetap kerja dari hape ditemani sepoi-sepoi manja angin siang penghilang gerah. Tak lama, ada beberapa orang yang juga ikut ngadem di dalam tenda.

Saya melihat ada yang memakai baju seragam hitam, seragam merah dan seragam biru. Seragam itu adalah khas seragam salah satu TV swasta di Indonesia. Juga ada mobil OB Van berlogo TV swasta.

OB Van adalah sebuah studio berjalan (mobile studio). Di dalamnya ada peralatan untuk produksi sebuah siaran layaknya studio in-house sebuah stasiun TV untuk menghubungkan ke Master Control Room sebuah stasiun.

Biasanya, kalau ada OB Van, akan ada siaran LIVE. Apakah  vaksinasi covid khusus pekerja media ini di-live-kan juga oleh stasiun TV swasta tadi? Bisa jadi. Atau bisa juga, sopir atau tim OB Van tadi ikut vaksinasi, jadi mereka membawa mobilnya ke Balaikota, hehehe..

Selain melihat OB Van, di dalam tenda yang sama, saya juga mendengar obolan soal "media" 

"Beruntung deh kita gak di-PHK," ujar salah satu mbak berhijab hitam yang duduk di depan saya saat ngobrol bersama teman di sampingnya. Dari obrolan mereka, saya tahu mereka juga pekerja media dan tengah menunggu waktu vaksinasi, sama seperti saya.  

Yach.., namanya juga vaksinasi khusus untuk pekerja media, jadi yang saya temui tak jauh dari orang-orang media dan obrolan soal media pula, hehehe....

Tiba pukul 13, saya menuju aula. Ternyata sudah rame dan antre. Panitia sudah duduk di tempatnya, kegiatan yang dinanti pun langsung dimulai. 

Celingak-celinguk mata saya, nyari teman sekantor yang jadwalnya barengan sama saya. Oh, ketemu! Ada Derry dan Bimo. Eh, saya juga ketemu teman kantor yang sudah resign. Mbak Dessy.  Dia masih kerja di media juga. Reuni deh, hehehe

Antrean saat didata atau diverifikasi awal bagi pekerja media yang sudah terdaftar

Tahap kedua ini, selain pekerja media, yang diprioritaskan juga untuk menerima vasin adalah  guru/ dosen, pedagang pasar, wakil rakyat, tokoh dan penyuluh agama, pejabat negara, sektor transportasi, atlet dan petugas pelayanan publik lainnnya.

Nama-nama yang akan divaksin sesuai jadwal, sudah ada dalam data base panitia. jadi gak bisa on the spot atau ujug-ujug datang ke lokasi tanpa melalui pendaftaran melalui aliansi dan pihak terkait terlebih dahulu. 

Di meja registrasi awal, panitia akan cek dan ricek dulu nama dan nomor KTP peserta. Kalau nama kita sudah tercantum, ya bearti lanjut proses vaksinasinya.

Proses ini tak memakan waktu lama. Lancar jaya. 

Setelah dikroscek, saya diarahkan menuju aula tempat vaksinasi. Sebelum masuk aula, antre lagi, karena harus menunggu pergerakan peserta sudah ada di dalam dulu. 

Nomor Antreanku menuju aula vaksinasi.
 Penulisan "Antre" secara baku, benar. Bukan "Antri" 

Dan proses ini juga tak lama. Hanya nunggu 5-10 menit nomor saya dipanggil dan masuk ke aula. Nah, di aula ini lumayan lama nunggu panggilan nomor saya. Adalah sekitar 30 menitan. 

30 menit itu karena para peserta harus menunggu peserta lain untuk proses tanya jawab dengan nakes. Lalu pindah ke meja lain untuk tensi darah, dan meja terakhir tanya jawab sama dokter.

Saat di tensi, lumayan tinggi tensi darahku, tapi untungnya masih termasuk dalam ambang normal atau diperbolehkan untuk vaksin. Kalau gak salah 130 per 80. Ya Alloh,  padahal selama ini  biasanya cuma 120-an. Apakah karena aku tegang atau lagi banyak masalah, hingga tensi darahku naik? Atau aku terlalu gembira karena mau divaksin, hingga tensi darahku juga ikut meluap-luap seperti rasa gembiraku,  hehehe

Suasana di dalam ruangan vaksinasi. Ada 6 meja berjajar, dan 3 meja berderet ke belakang.
Meja demi meja itu adalah proses cek dan ricek, tensi darah dan tanya jawab.


Di meja terakhir, tanya jawab sama dokter, terkait penyakit yang kita idap. 'Pernah terinfeksi covid? Mengidap sakit asma, darah tinggi? Ada alergi apa?" begitu kita-kira pertanyaan dari dokter.

Sesi tanya jawab dengan dokter berakhir, saya langsung menuju ke meja vaksinator untuk divaksin.

 OMG, ini adalah momen yang kunanti-nanti selama pandemi ini.  

Setelah hanya sempat melihat dan mendengar cerita-cerita dari teman-teman yang dapat giliran tahap 1 sekitar 3 mingguan lalu, kini sampailah tahap kedua. Oh, Beb, daku akhirnya merasakan juga  dienjus..enjus... duh manjah banget sih jarumnya... 

Momen langka ini tentu tak luput kuabadikan. 

Saat tiba giliran diri ini menuju meja tempat  divaksin, hape udah stanby buat selfie video, hahahah.. Sengaja divideoin daripada difoto, biar dapet banget momentnya. Kalau difoto, kadang blur-lah, gak pas dapat momen saat vaksinatornya menyuntikkan jarum, dll. Ini udah kupikirin  banget sejak dari rumah, wkwkw. Saking happy-nya mau divaksin, hehehe. 

Dan, gegara sibuk memerhatikan penampakan diriku yang syahdu dan penuh pesona ini di video saat selfie,  gak terasa jarumnya tiba-tiba udah mendarat aja di lenganku yang montok inih.... Aw...


Tips, untuk kamu yang takut jarum, saat vaksin, ya fokus ke hal lain saja. Semisal cara saya tadi. Fokus melihat ke video saat selfie, eh tahu-tahu sudah disuntik aja. Jadi gak usah lihat jarumnya, hehehe.

Untugnya saya gak takut sama jarum, jadi lebih tenang saat divaksinasi sambil ngerekam gambar atau ngambil video. 

Gimana rasanya setelah divaksin? Unnccch, aku berasa tambah manjah deh...

Sakit gak disuntik?

Duh, Beb, sesakit-sakitnya ditusuk jarum suntik, lebih sakit lagi saat kau tusuk-tusuk hatiku dengan janji palsumu....... *langsung mesen kopi "kenangan mantan"  ⌣⌣⌣




Setelah divaksin, kami diwajibkan untuk 'ngetem' dulu di lokasi selama 30 menit, untuk jaga-jaga kalau ada gejala/efek setelah divaksin atau Kejadian Ikutan PascaImunisasi (KIPI). Istilahnya: masa obervasi. 

Alhamdullilah, saya tidak merasakan dampak apa pun. Ada beberapa teman-teman yang merasakan ngantuuuuuuk banget atau lapaaaar banget setelah divaksin. Saya Alhamdullilah baik-baik saja, tidak merasakan dampak tadi.

Oh ya, dua hari sebelum divaksin, kalau bisa tidur cukup, jangan begadang, karena kurang tidur bisa memengaruhi imunitas tubuh. Setelah divaksin pun, juga kudu jangan begadang, agar lebih menstabilkan imunitass tubuh. Ini saran dari Kemenkes lho. 


Yang di depan petugas adalah tempat/ kursi khusus observasi bagi yang sudah divaksin

Ini petugas yang memberikan info, pascaobservasi

Sisi ruangan tempat observasi


Setelah sampai di rumah, saya lanjut bekerja lagi. karena dapat giliran jadwal KDR atau Kerja dari Rumah, karena Jakarta dan beberapa daerah lain sedang dalam masa PPKM Mikro. Kantor tempat saya bekerja masih membatasi pekerja yang KDK (Kerja dari Kantor). Jadi yang datang ke kantor hanya sekitar 30-50 persen karyawan saja, sisanya kerja dari rumah. 

Alhamdullillah ya Beb, sudah setahun ini ngerasain kerja dari rumah, berjibaku dengan laptop, zoom, dan kordinasi via WA yang adakalanya gak putus-putus, sampe jempol capek, hehehe...

Yachhh, semoga pandemi segera berlalu. Jangan takut dan malas untuk divaksin ya.. Jangan terpengaruh berita bohong atau keliru soal vaksin ya Beb, ntar kamu sendiri yang rugi, udah dikasih gratis, masak masih gak mau juga? hehehe...

Kini daku tinggal menunggu vaksin sesi kedua. Semoga kita sehat selalu dan pandemi segera berlalu. Aamiin. 

Kamu sudah divaksin?


Pintu Keluar


Dari Hutan Hingga Mejeng di Supermarket, Perjalanan Si Jamur Kuping yang Jadi Santap Siangku




Kupikir hutan itu gelap, seram dan angker. 

Oh, mungkin diri ini sering mendengar drama radio yang menggambarkan kalau hutan itu tempat tinggalnya mak lampir, dedemit dan  teman-temannya, hehehe...

Tapi gambaran itu sirna, setelah saya merasakan masuk ke hutan untuk pertama kalinya sekitar 10 tahun lalu. Tak ada kesan angker, gelap dan seram. 

Di hutan yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur Jawa Barat (sebelumnya saya menulisnya Cirebon, dengan ini saya ralat, maafken sayah) kesejukan dan udara bersihlah justru yang saya nikmati. 

Otot Menegang di Malam yang Tegang


Pukul 1 dini hari


Sunyi senyap. Tak ada yang menemani. Saatnya beranjak ke kasur untuk tidur. Baru saja tubuh menyatu dengan kasur, eh tetiba kepala dan pundak tegang atau kaku hingga susah digerakkan. Panik langsung menyerang. Ada apa ini? Kenapa gak bisa menoleh ke kiri atau ke kanan seperti mati rasa hingga bagian bahu?  





Sendirian di rumah. Di Bekasi. Suami sedang pergi ke Bogor mendampingi muridnya yang berkegiatan di sana. Keluarga inti ada di Solo. Sepupu terdekat ada di Jakarta Selatan.

Karena takut dengan otot yang tegang dan kaku itu, yang ada di pikiran ya ke rumah sakit. Kartu BPJS, kartu asuransi serta ATM dan pernak-pernik lainnya untunglah  tersimpan di dompet. Jadi tak perlu repot mencari-cari dulu yang akan membuat suasana makin tegang dan riweh.

Ingin rasanya membangunkan tetangga, minta tolong. Namun mengingat saat itu sudah larut, niat itu diurungkan. Terpaksa sendirian menyusuri jalan cluster komplek menuju pintu gerbang. Langkah kaki menghampiri satpam yang berjaga di pos gerbang komplek. "Tolong antar saya ke rumah sakit, Pak. Kepala saya kaku. Saya sendiri". Untunglah satpamnya bersedia.

Menegangkan sekali malam itu. Tegang, setegang otot yang dirasakan dari kepala hingga bahu.

Malam yang tegang itu dialami teman kantor saya, Wydia.

Bukan Wydia yang ada dalam cerita KKN di Desa Penari ya, hahahha. Kalau cerita versi Wydia yang ditulis akun twitter Simple Man, bukan hanya bikin otot yang tegang, hati dan pikiran juga tegang karena larut dalam ceritanya, hehehe.

Wydia tiba di rumah sakit jam 2 dini hari. Ia tak langsung dapat kamar inap karena kudu antri untuk mendapat kamarnya. Jadi, ia harus ‘mondok’ di kamar UGD dulu. Sudahlah ia sendirian karena tak ada keluarga yang menemani, apa-apa dia mesti ngurus sendiri pula. Jam 6 sore, barulah ia dapat kamar. Artinya 16 jam ia harus menunggu di ruang UGD. Drama banget dah.

Suaminya di Bogor cemas dan tak bisa pulang ke Bekasi karena ada tugas, Wydia pun ditelponin melulu. Teman di kantor gak kalah sibuk menelpon rumah sakit memastikan keadaannya. Sementara adiknya Wydia sedang dalam perjalanan dari Solo ke Bekasi untuk menemaninya selama di rumah sakit.

Begitulah......


Karena “ketegangan” ini, Wydia harus dirawat di rumah sakit selama tiga malam. 

Di hari kedua, kami para teman kantornya yang manjah dan ngangenin ini baru sempat menjenguknya. Hari itu tepat ulang tahun Wydia yang ke.....

Kue ulang tahun syantik dan imut pun menjadi buah tangan kami saat membesuknya.

Wydia ulang tahun di rumah sakit

Dokter bilang, Wydia mengalami Cervical Root Syndrome (sindrom akar syaraf leher) atau bahasa awamnya frozen shoulder (bahu kaku) hingga tak bisa menoleh ke kanan dan ke kiri.

Dari hasil pemeriksaan lainnya, syaraf leher Wydia tidak kejepit atau tidak ada penyempitan. Tulang dan leher tidak osteopororis, dan kondisi jantung juga baik.

Saat geng kantor membesuk Wydia


“Sakit orang modern,” kata Wydia bercanda menirukan ucapan dokter. Dan penyakit ini, kata dokter yang memeriksa Wydia, cukup banyak dan meningkat.

Rupanya, orang yang ngerasa kerjanya gak berat atau tak membutuhkan tenaga fisik yang besar perlu mewaspadai hal ini. 

 
Wydia dan saya, sama.

 

Di kantor bisa mengetik hingga berjam-jam atau duduk di depan komputer dalam waktu lama. Anda juga?

Beruntungnya saya selalu menyelingi aktivitas mengetik atau ‘ngetem’ di depan kompi itu dengan mengambil air minum di pantry. Jarak pantry dari tempat duduk saya sekitar 50 langkah.

Atau saya selingi dengan beli kopi di warung dekat kantor, ke ATM atau ‘wara-wiri’ di seputar ruangan kantor. Jadi gak terlena di depan kompi. Cukuplah Ike Nurjana saja yang terlena.

Selain itu, saya juga mau menyelamatkan mata saya dari paparan komputer, karena mata terasa lelah dan pegal jika tanpa istirahat menatap layar datar itu. Maka itu saya harus lari sejenak dari kompi.

Nah, kalau Wydia?

Dia bisa berjam-jam depan kompi tanpa beranjak. Kecuali mau pipis atau ada keperluan penting.

Makan pun ia santap di meja kerja. Dan untuk merelaksasikan pikirannya, ia isi dengan nonton film di youtube, ya via kompi juga. Artinya ia tetap duduk di depan kompi. 

Wydia lagi kerja

Karena kebiasaan Wydia yang betah depan kompi, Ia pun dinasehati dan diberi saran oleh dokter.

Menurut dokter, maksimal waktu yang digunakan untuk mengetik atau berada di depan komputer adalah 4 jam. Sedangkan Wydia, bisa sampai 8 jam sehari lho.
 
“Tips dari dokter: setiap 2 jam sekali harus meninggalkan meja atau bergerak dan tidak duduk. Harus istirahat dulu. Postur tubuh harus tepat saat duduk di depan kompi.

Nah, per 1 jam-nya, ada latihan dengan streching atau pelemasan. Misal menoleh ke kanan, ke kiri dan menunduk, masing-masing 8 kali dan dilakukan 3 set,” kata Wydia.

Hampir dua minggu berlalu, meski sudah bisa beraktivitas normal, Wydia masih dalam masa kontrol dengan menjalani  fisioterapy dan mengkonsumsi obat.

Duh, ngeri-ngeri sedap ya. Otot kaku datang tiba-tiba tak mengenal waktu. Untung saja yang dialami Wydia hanya dari kepala hingga bahu. Jadi ia masih bisa berjalan. Gimana kalau otot kaku seluruh badan. Ya tuhan, semoga jangan sampai terjadi.

Pelajaran banget nih untuk sering melemaskan otot di waktu senggang (satu sampai dua jam sekali) terutama bagi yang bekerja menghabiskan waktu lama di depan kompi.

Nah, Anda pernah mengalami otot atau bagian tubuh yang  kaku juga?

Cepet sembuh ya Wydia

Suaraku Tlah Kembali


Sudah 2 bulan ini saya bisa bersuara lagi, setelah 5 minggu  sang suara “hilang” karena radang pita suara. Penyebabnya? Sedihnya?  Saya tulis di sini.

Pada minggu ke-5 itu pun, meski suara sudah keluar, tapi masih serak-serak becek dan masih takut juga buat ngomong kenceng atau dengan nada tinggi, takut pita suara ngambek lagi.



Hasil browsing sana-sini, kalau mengalami radang pita suara lebih dari 4 minggu, itu termasuk kronis. Ini meleset dikit dari perkiraan dokter yang bilang saya menderita radang pita suara akut.

Ternyata, kalau akut radangnya hanya kisaran 1-3 mingguan. Nah, diriku, oh... sampe 5 mingguan, ya bearti temasuk kronis.  Gilleeee....Untung bisa pulih lagi.

Untung pula gak nyampe 3 bulan, seperti penyanyi Adelle atau sepupu teman kantor saya. 5 minggu aja mesti puasa ngomong ya ‘tersiksa’, bijimane kalau sampe 3 bulan. Berapa banyak konser yang harus daku batalkan, eeaaaa...

Untuk pemulihannya, semua pengobatan saya jabani. Mulai dari konsultasi ke dokter dengan obat yang rupa-rupa dan mehong, konsumsi jamu/ tradisional sampai bekam.

Di minggu ke-3 radang, di saat obat dokter sudah satu minggu habis, saya pergi ke tempat bekam (2 Juli 2018) atas saran dari teman. Terapisnya membekam di sekitar titik-titik pita suara, di area leher depan dan belakang. Sakit bro, tapi lebih sakit lagi saat kamu boongin akuh. 

Empat hari setelah bekam terlihat ada kemajuan. Paling tidak, tak separah sebelumnya. Namun saya tetap puasa ngomong karena radang suara belum pulih benar.


 

Selain bekam, saya juga rajin mengkonsumsi madu, jamu kunyit asem, dan mengkonsumsi air hangat setiap kali minum. Minum air hangat baik untuk pemulihan tenggorokan dan radang, dan ini adalah anjuran dari dokter dan juga terapis bekam. Ya, saya ikutin dong. Kan mau cepet sembuh. Eh, saya juga menghindari makan yang pedes-pedes, yang dingin-dingin dan gorengan, bisa kumat lagi, selain juga bikin batuk.

Selisih delapan hari dari bekam pertama, saya bekam lagi untuk kedua kalinya (10 Juli 2018).

Seminggu setelah bekam kedua (sekitar 16 Juli 2018), akhirnya beb... suara saya sudah muncul dengan volume besar/ normal namun masih serak. Oh, teringat saat radangnya masih parah dulu,  walau bisa ngomong tapi volume suara yang dihasilkan kecil gak bisa besar. Mau dipaksain gede pun, gak akan bisa. Pita suara yang radang seperti ‘memblok’ suara. 

23 Juli 2018, saya sudah bicara ‘beneran’. 





Untuk menyempurnakan kesembuhan, walau sudah bisa bersuara normal, saya tetap bekam ke tempat yang sama. Bekam yang ke-3 kali ini mengakhiri ‘ritual’ pengobatan radang pita suara saya. Alhamdullilah.

Kalau ditanya apakah saya sembuh karena bekam? Atau memang sudah saatnya saya sembuh? Ya, bisa jadi faktor keduanya.

Namuuunn, pasca suara sudah pulih, ada yang tersisa beb. Saya merasa pita suara saya ‘lecet” akibat radang tersebut. Saat bicara dengan nada kencang misalnya (bukan karena lagi marah ya) seraknya keluar. Dan saat ngomong terlalu banyak, suara terasa mandek atau capek. Ini tak pernah terjadi sebelumnya.  Selain itu, saat bangun tidur seraknya juga lebih parah, daripada sebelum saya menderita radang.

Yah, begitulah.

Tapi saya bersyukur sekarang sudah bisa ngobrol lagi sama keluarga dan teman-teman. Semoga Anda tak mengalami apa yang saya alami, gak enak beb. Menjaga makanan dan minuman yang kita konsumsi memang penting. Karena kesalahan itu, saya mengalami ini...oh....




Oh, Pita Suaraku


Saat ini suara saya hilang. Kalau pun keluar, parau terdengar.

Itu karena saya mengalami radang pita suara. Hikss..  Jangan ditanya sediihnyaaaa....

Meski tak perih, tapi sedihnya sampai ke ulu hati, untunglah masih bisa curhat lewat tulisan.... Eaaa.... 







Ya emang begitu. Hanya gara-gara menenggak sebotol minuman kemasan teh bersoda yang rada sedikit dingin, maka merusak aset berhargaku hingga saat ini. Sudah 3 minggu sis bro. Ya Alloh. Daku kalau ngomong sama teman meski pakai kertas atau ngomong berbisik-bisik.


'Kamu menderita laringitis akut. Untung gak bengkak (tenggorokan), kalau bengkak, itu akan berpengaruh pada pernafasan” ujar Dokter THT yang praktik di salah satu rumah sakit yang ada di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ini adalah dokter pertama yang saya datangi, saat baru dua hari suara hilang.

'Gak boleh ngomong dong seminggu ya,” ujarnya lagi.

Ketika dokter bilang begitu, saya kira itu hanya saran dia agar saya istirahat ngomong saja. Tak mengira bahwa beneran saya gak bisa ngomong hingga berminggu lamanya.

Saya kira pula, dengan meminum obat yang diresepkannya, radang pita suara akan pulih dalam beberapa hari saja, dan saya pun bisa ngomong normal dan manja lagi. Ternyata, ini tak main-main sodara-sodara.

Lebih ngenes lagi, suara hilang jelang dua hari lebaran. Oh... Kebayangkan, di saat lebaran, rencananya mau cerita-cerita sama saudara atau bercanda sama ponakan, ealah, saya malah kudu ngerem suara. Saya gak bisa bercengkrama banyak, gak bisa ngomelin dan becandaan sama  ponakan, dan lain-lain. Hhhhh...



Seminggu berlalu. Tak juga keluar suara ini. Panik mulai menyerang. Mengingat beberapa hari lagi masa cuti lebaran saya habis, kudu masuk kerja. Gak lucu dong, kerja gak bisa ngomong sama rekan-rekan di kantor. Di situ kadang saya merasa gak syantik.

Saya ke dokter THT lagi. Kali ini dokter yang ada di kampung halaman saya. Karena saya tengah berada di kampung, untuk berlebaran.

Dokter yang kedua ini mengatakan, saya tak boleh berbicara selama dua minggu. WHAT? Lebih lama lagi anjurannya dari dokter yang pertama, yang cuma bilang seminggu.

“Gak boleh ngomong, bukan hanya untuk pemulihan, tapi juga terapi. Kalau dipaksakan ngomong, pita suara akan menebal. Sembuh sih sembuh, tapi suara kamu akan jadi seperti Renny Djayusman atau Ikang fauzi. Mau kamu?“ jelas Dokter THT yang kedua.  

Saya turutin saran pak dokter. Lagipula, meski bersuara atau bicara akan menyusahkan saya dan menyusahkan yang mendengar, hahahha. Wong suara parau ala-ala yang keluar, terputus putus pula. Hmmmm....

By the way, apakah gak boleh ngomong atau puasa bicara jaminan akan sembuh? Entahlah? Sudah tiga minggu ini, radang pita suara belum nampak membaik. Padahal sudah diberi obat yang mahal, ngomong hanya yang penting-penting saja.

Tersiksa rasanya sodara-sodara.

Waktu lagi meeting di kantor, misalnya, saya gak bisa menjelaskan tentang sesuatu hal yang harusnya saya jelaskan karena berkaitan dengan tugas saya. Atau, ada omongan teman yang pengen saya sela, karena merasa gak cocok atau ingin diluruskan, tapi gak bisa. Ya Tuhan. Jadwal konser 3 negara pun harus dibatalkan, hahahha

Hanya dengan Babang ojek online saya ngomong. Ya mau gak mau. Karena abang ojeknya kan tanya sesuatu, gak mungkin saya jawab pake bahasa isyarat. Belum lagi kalau dia nelpon, kan kudu dijawab. Kan dia juga gak tahu kalau saya gak boleh ngomong. Kalau mau dijelasin tentang kondisi saya, itu malah bikin saya susah sendiri, hehehe.

Kini, ketika obat dokter telah habis, sengaja diri ini tak ke dokter lagi, karena saya tahu, kalau saya konsul,  ujung-ujungnya disarankan gak boleh ngomong. Obat, tak terlalu membantu.

Browsing sana sini soal radang pita suara pun saya lakukan. Penyanyi Adele dan Megnan Trainor rupanya pernah mengalaminya. Ternyata memang lama penyembuhannya karena ini menyangkut pita suara. Ada yang 3 minggu, 6 minggu, ada pula yang 3 bulan baru sembuh. Duh!  

Beda kalau radang tenggorakan doang, cepet sembuhnya. Saya pernah mengalami radang tenggorakan dan suara pun jadi parau persis sama seperti yang saya alami saat ini. Tapi, cuma 3-4 hari saja, sembuh sendiri. Cuma butuh istirahat saja.

Nah, radang pita suara tentu lebih serius dan berbahaya. Bagi yang gak ngerti dengan kondisi saya, seperti si ibu penjual nasi uduk atau si mbak toko kelontong yang saya beli dagangannya, akan bilang “minum air asem, minum jeruk nipis sama kecap manis, minum obat ini dan itu....”

Tak semudah itu, beb. 

Kalau batuk dan radang tenggorakan, iya, itu tentu bisa. Ini beda. Saya sudah minum obat dari dokter yang harganya mahal tak jua sembuh, apalagi obat biasa.

Untuk obat herbal, saya hanya mengkonsumsi madu dan air perasan lemon. Sampe saya borong dua botol madu sekaligus. Itu juga, sampai saat ini tak membantu. Meski begitu, saya tetap berharap dan sabar, mengingat manfaat madu yang luar biasa. Walau saat ini madu belum menyembuhkan radang pita suara saya, paling tidak, madu berguna untuk kesehatan lainnya.

Hari ini, seorang teman mengirimkan pesan kepada saya melalui WA, menawarkan pengobatan alternatif. BEKAM! Yes,  tawaran yang tak terpikirkan oleh saya. Akan saya coba, namanya juga usaha. Alamat dan kontak personnya saya sudah ada pada saya. Sore ini akan saya kunjungi. Doakan, semoga ada kemajuan.

Kisah BEKAM dan akhirnya saya sembuh, saya tuangkan di sini.


 

Pengalaman Memutihkan Gigi di HHDC Clinic


Saat menulis cerita ini, saya tengah dalam proses teeth whitening atau pemutihan gigi.  Tadi malam, adalah hari ke 7 saya menjalani prosesnya.

Bukaaaan....

Bukan,  karena gigiku terlampau kuning , makanya butuh diputihkan. Bukan pula pengen kayak artis yang giginya putih mentereng dan bersinar..... cling...

Tapi, ini saya lakukan karena tak mau menyia-nyiakan voucher dari HHDC klinik Thamrin City, yang saya dapat saat menghadiri acaranya sekitar sebulan lalu. Voucher itu, nilainya 3 juta rupiah, beb. Masak iya saya cuekin secarik kertas berharga itu ...? Gak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini,toh..? Iya, saya berhasil merebut vocher itu karena jerih payah jempol yang ikutan live tweet saat acara yang diadakan HHDC berlangsung, hehehe..

So, sudah dikasih rezeki dengan nominal voucher yang mahal, masak tak dipakai? Lagipula, saya juga pengen dong merasakan bagaimana kalau gigi saya menjadi lebih putih? Siapa tau Jashon Statham yang gagah dan rupawan itu akan naksir sama diri ini. :)))

Maka, 3 minggu  setelah acara edukasi itu, setelah membuat janji, saya menyambangi HHDC untuk melakukan proses pemutihan gigi. Ada drg. Ira yang menyambut saya dan membantu  melakukan proses pemutihan gigi . Ternyata, prosesnya gak langsung dikasih obat pemutih gigi. Tapi, gigi saya kudu dicetak dulu. Alat pencetaknya itu menggunakan sendok cetak dan  ada bahan yang sekilas seperti sabun mandi batangan gitu. Tapi, kata drg. Ira itu seperti silikon bahannya. 

Jadi, saat si sendok cetak yang menghantar bahan cetak dimasukkan  ke mulut, bahannya pun bisa mengikuti bentuk gigi, karena elastis. 


Tujuan pencetakan  gigi ini adalah untuk membuat semacam pembungkus gigi. Namanya tray. Nah, setelah gigi saya dicetak, udah deh saya pulang, hehehe. Gitu aja..? Iya, gitu aja, karena cetakan gigi tadi harus dikirim dulu oleh pihak  HHDC Thamrin City, ke HHDC yang ada di Sudirman untuk dibentuk menjadi tray.

Dua hari setelahnya, Mbak Yani dari HHDC mengabari saya kalau tray saya sudah jadi. So, saya harus datang kembali ke HHDC untuk mengambit tray sekaligus diajarin cara memasang dan mengoleskan gelnya di dalam tray.

Jadi, didalam tray itu dioleskan gel pemutih. Gel itu disimpan dalam wadah seperti alat suntik gitu. Buatan USA lho gel pemutih ini, makanya biaya pemutihan gigi itu mahal ya, bahannya saja dari impor, hehehe. Nah, saat “menyuntikkan” gel ke tray, cukup 1/3 bagian dari tray saja. Karena kalau kebanyakan, maka saat tray dipasang di gigi, gelnya bisa keluar atau meluber. Jadi gak enak, toh.

Oh ya, sewaktu drg Ira mengajari atau memperlihatkan kepada saya bagaimana cara mengoleskan gel ke tray, ia mewanti-wanti, kalau dalam prosesnya nanti, tetiba saya mengalami ngilu terus menerus karena dampak  keasaman gel pemutih, maka pemakaian harus dihentikan. Itu artinya, gigi saya tak cocok dengan proses  tersebut  Jadi, bisa saja say bye bye dental whitening, hehe...

Tapi, untungnya, setelah pemakaian pertama, saya tak terlalu merasakan ngilu yang berlebihan. Kalau asamnya terasa, iya, tapi gak terlalu menohok.. Artinya, saya bisa melanjutkan proses ini.

Penggunaan gel, minimal 4 jam dan  maksimal 6 jam, selama kurang lebih 12 hari, atau sehabisnya gel pemutih tadi. Dan itu harus dilakukan rutin setiap hari. Dihari pertama pemakain tray dan gel yang dibantu drg. Ira, saya melihat saat itu jam menunjukkan angka 2 siang. Artinya, saya harus melepaskan traynya sekitar jam 7 malem. Selama pemasangan tray, saya tak boleh minum dan makan. Tau dong kenapa? Ya, karena akan mengganggu prosesnya. Tapi kalau untuk ngobrol bisa dong, hehehe. Pemasangan tray ini tak mengganggu kenyamanan kita saat berbicara, kok. 


Nah, setelah tray dilepas, gelnya terasa euy belepotan di gigi, licin-licin gitu, wkwkwkw. Tapi, cukup di kumur kumur saja , habis itu sudah bersih kembali dan tak meninggalkan rasa apa pun, kok. 

Dan ketika saya melihat penampakan warna gigi saya di cermin, wow, warnanya langsung putih dari sebelumnya cuy.... “Hmmm,  cepat juga  prosesnya", bathin saya. Setelah itu, saya makan, karena laper euy, 5 jam lebih kagak ngudap-ngudap, hihihi.... 



Pantangan dan akibatnya bila melanggar !! 

Agar  putihnya maksimal, kata drg. Ira, syaratnya gak boleh minum kopi, teh, jus, merokok, dan makanan berkuah yang menggunakan bumbu kunyit, seperti soto. Tau dong ya, kunyit itu kan warnanya kuat bingit, dan akan mempengaruhi warna gigi. So, saya  harus meninggalkan minuman yang enak-enak itu selama beberapa hari kedepan. Tapi, demi si gigi putih. Gak apa-apa deh..:) 


Hari pertama, kedua, ketiga dan  keempat, saya lalui dengan mulus. Oh ya, dari hari pertama sampai hari ketiga, saya memakai tray saat siang sampai malam. Setelah itu makan. Tapi, karena  mendengar cerita teman, katanya orang yang dalam proses pemutihan gigi itu, biasanya memakai tray plus gelnya di malam hari sebelum tidur, biar gak ditimpa makan lagi sesudahnya. Cuma, kata drg Ira, takutnya ketiduran atau kebawa sampe tidur. Dan itu bahaya. Kan, maksimal pemakaian perhari 6 jam, kalau lebih, ntar ada dampaknya.

Tapi eh tapi, saya kepengen juga memakai tray di malam hari. Akhirnya di hari ke 4, saya melakukannya sebelum tidur. Saya pun mengatur waktu. Hari itu, saya makannya sore, sekitar pukul 18.00. Trus, kasih jeda sedikit, jam 19 baru pasang tray sampai jam 12 malam. Pada hari ke lima, saya pun mengatur waktu melakukan hal yang sama.   

Namuunn.... 

Lhooo......besooknya kok gigi saya ngilu teramat sangat, menjadi sensitif. Disundul pake lidah aja ngilu. Minum air yang rada dingin aja, ngilu ngilu. Ulalala, apa yang salah..? Ouw, barulah saya ingat, kemarinnya sekitar jam 18.00, sesudah makan nasi, saya meminum minuman jeruk kemasan. Botolnya ukuran gede lagi. Saya minum dong tanpa ras awas was.

Ternyata eh ternyata, minuman itu mengandung asam sitrat tinggi, yang menjadi salah satu pantangan dalam proses pemutihan gigi. Alamak..Piye..? Saya baru ngeh, kalau minuman ini, ya sejenis jus gitu. Hadeeehhh...Kan sudah dibilangin, minum jus gak boleh... :((

Ya, saat saya baca di buku petunjuknya, mengkonsumsi jus yang mengandung asam sitrat tinggi akan menyebabkan gigi sensitif. Dan itu terjadi...! Karena, secara logika, minuman jeruk kemasan itu asam, nah, ditampol gel pemutih yang juga asam. Ya, gitu hasilnya. Jleb banget deh, saya melanggar pantangan tanpa sengaja.

Ketakutan pun datang, apakah gigi saya akan sensitif selamanya? Ataukah hanya sementara waktu..? Mau bilang ke dokternya maluuuukk.. Kan kesalahan ada pada saya sendiri, hihihih...

Jadi, karena takut kenapa-kenapa, akhirnya di hari itu, yang harusnya menjadi hari ke 6 saya dalam proses ini, saya tak memasang tray dan gel, karena  takut gigi saya semakin sensitif. 

Esoknya, saya tunggu. Apakah rasa sensitif itu akan hilang? Ternyata belum. Tapi, sudah mendingan. Esoknya lagi, atau Rabu (25/11) sudah lebih mendingan lagi. Hanya sesekali saja sensitifnya muncul. Akhirnya, malamnya saya memberanikan diri untuk memasang tray dan gel. Sepanjang malam, saat tray dan gel dipasang, sampai tray dilepas, gigi saya tak menunjukkan reaksi yang gimana-gimana gituh. Saat terbangun tidur pada Kamis pagi (26/11), gigi saya aman-aman saja, meski ada sedikit rasa ngilu yang hilang timbul. 

Namun, saat Kamis sore, ngilunya mulai kambuh lagi, tapi malamnya saya tetap pasang gel dan tray. Eh, Jumat pagi ini (27/11), gigi saya kembali ngilu dan cenat cenut yang mengganggu. Oh, ternyata gigi yang sensitif gegara meminum minuman asam, belumnlah sembuh benar. So, apakah ini pertanda saya tak bisa meneruskan proses ini..? Malam ini, sepertinya saya tak akan memasang gel/tray dulu. Karena takutnya akan bahaya bila dipaksakan memasang gel sementara gigi saya tengah sensitif. Saya tau ini bukan kesalahan pada obat dan prosesnya, tapi kesalahan saya yang melanggar pantangan... 
 
Hari ini pun saya sudah berencana berkirim email ke drg. Ira, untuk mengkonsultasikan hal ini. Apakah bisa dilanjutkan atau di stop saja..?

Haduuuuh ...kapok deh kalau gak hati-hati membaca pantangan teeth whitening.

Oh ya, proses  yang saya lakukan ini adalah proses pemutihan gigi yang dilakukan di rumah, lho. Ada pula yang prosesnya langsung di ruang praktek dokter, yang hanya memakan waktu kurang lebih 60 menit. Gigi pun  langsung putih, gak  perlu lagi mesti sampai beberapa hari pakai gel. Tapi, tentu saja, proses yang dilakukan langsung oleh dokter giginya itu ya mahal,lah. Hihiihi....

Nah, ada yang mau giginya diputihkan juga? Coba intip-intiplah websitenya HHDC untuk mencari lebih dalam informasinya Tapi, ingat jangan melanggar pantangan seperti saya, ya..


Pasta Gigi Oxyfresh, Kandungan Oksigennya Membuat Nafas Segar dan Gusi Sehat

Waktu mencobanya pertama kali, saya merasa cocok dan nyaman. Sayang, tak begitu lama bersua dengannya. Bentuknya yang kecil dan imut, membuatnya  cepat habis. Dicari-cari tak ketemu. Ternyata, ia begitu eksklusif, hanya ditemukan pada tempat-tempat tertentu saja.

Namun, 2 minggu lalu, saya kembali menjumpainya. Seneng deh, kayak ketemu temen lama, hihihi. Ia bertengger dengan manis bersama temen-temennya yang tak kalah menariknya untuk didekati. Tapi, karena saya emang mengincarnya dari rumah, maka saya langsung mendekatinya. Sayangnya, hanya tersedia ukuran kecil.

“Ukuran besarnya habis mbak”, begitu kata si mas yang saya tanyai.

Tak mengapa, biar tersedia ukuran kecil, saya tetap membelinya. Diskon 50 persen pula, hihihi. Yang diskon-diskon mah, menarik hati diincar cewek  :)  

Ini si dia yang saya incar.. ...si pasta gigi oxyfresh

Yup, saya senang bisa menjumpai lagi si pasta gigi Oxfyresh. Baru 2 bulan belakangan ini saya mengenalnya. Pertama mencobanya, rasanya tidak pedas, berbusa sedikit, mengandung fluoride dan cocok untuk gigi sensitif.  Itu dia alasannya mengapa saya merasa cocok dengan pasta gigi ini. Makanya, pas ketemu kedua kalinya dengan produk-produk Oxyfresh, yang saya incar ya si pasta gigi ini, hehehe.. 

Meski sempat jeda menggunakanya, namun ketika saya kembali menggunakannya  beberapa hari ini, rasa, aroma, volume busa, dan kualitasnya tetap tak berbeda.

Saat menyikat gigi, saya hanya membasahi pasta gigi dengan air, trus langsung saya gosokkan. Berbusa sedikit, dan pastanya terasa. Tanpa dicampur air juga gak apa-apa, kok. Pasta gigi ini, bisa pula digunakan sebagai bahan poles pasca scalling. Nah, karena rasanya tidak pedas, jadi semakin nyaman menggosoknya. 

Satu hal special yang membedakan pasta gigi ini dengan pasta gigi lainnya adalah adanya kandungan oxygen. Fungsi dari oxygen yang ada pada pasta gigi oxyfresh adalah mencegah infeksi gusi, dan membuat nafas segar atau menghilangkan bau dan gas  mulut.




Dengan manfaat seperti itu, so, habis membersihkan gigi, rasanya segar, apalagi kalau sebelum sikat gigi, lidah dibersihkan dulu, wuih...segarnya double. Siap diajak berkencan dengan.....

Oh ya, saat menyikat gigi, saya miringkan gagangnya 45 derajat terhadap gusi, lantas digetarkan perlahan, agar  tidak heboh. Sikat gigi dari Oxyfresh yang saya gunakan, bentuknya lurus dan pendek. Bulunya tidak menumpuk dan  lembut. Bahkan ujung bulunya diolesi dengan tehnologi khusus agar tidak melukai gusi.




Yang mengenalkan saya dengan pasta gigi dan sikat gigi oxyfresh adalah Wiyanto Kodrat dari PT. PT.Ohawe Indonesia /oxyfresh. Beliau mengenalkannya pada acara Dental Health Education yang diadakan klinik gigi HHDC, Thamrin City. Jadi, pertama kali ketemu pasta gigi oxyfresh, ya di acara ini. Namun, di acara yang pertama yang saya hadiri sekitar 2 bulan lalu, saya melahap ilmu soal bagaimana menjaga kesehatan gigi dan faktor penyebab bau mulut.  Nah, di pertemuan yang kedua ini, ilmu tentang  implan gigi yang saya dapatkan.

Di dua acara ini, selain memberikan penjelasan soal manfaat oksigen yang ada di dalam produk-produk oxyfresh, Wiyanti Kodrat juga berbagi pengetahuan soal penyebab bau mulut dan betapa banyaknya bakteri yang ada di dalam area mulut kita... hiii...


Wiyanto Kodrat

Nah, di akhir acara, kami diberikan produk oxyfresh untuk dibawa pulang. Yang ditawarkan saat itu adalah obat kumur, pembersih lidah, pasta gigi, dental gel, dan sikat gigi. Para tamu diperbolehkan memilih salah satu produk untuk diberikan kepada anggota keluarga atau untuk diri sendiri. Yang jelas, produk apa pun yang dipilih, itu demi memberikan perawatan yang terbaik pada gigi dan mulut.

Diantara ke 5 produk itu, yang belum saya cicipi adalah dental gel. Sedangkan, pembersih lidah, sikit gigi dan pasta gigi oxfresh, sudah saya cicipi. Saya mendapatkannya dari acara yang pertama saya hadiri dulu. Namun, walau sudah mencicipi pasta gigi oxyfresh, saya tetap memilihnya lagi untuk dibawa pulang, karena sesuai dengan yang saya butuhkan  dan sudah tahu khasiatna.
 

Oh ya, kalau di artikel ini saya pajangkan dua pasta gigi oxyfresh, itu karena satunya lagi saya beli saat acara belum dimulai, seperti cerita saya diawal. Kenapa saya bela-belain beli, karena produk-produk oxyfresh buatan Amerika ini,  belum dijual bebas. Sampai saat ini,  produk ini hanya dijual eksklusif di klinik-klinik dan rumah sakit-rumah sakit tertentu. Jadi mumpung ketemu sama oxyfresh, ya kudu beli, hehehe...

Nah, yang penasaran dengan Oxyfresh, bisa ikutan acara yang diadakan HHDC dan Oxyfresh di kesempatan lain. Bagi Anda yang ingin tau lebih dalam soal oxyfresh dan apa saja produk-produknya, bisa pula diintip di www.terapigusi.com Dan, yang ingin melakukan perawatan gigi di HHDC, silahkan tengok websitenya di hhdc-clinic.com

produk-produk oxyfresh