Featured Slider

Setu Babakan, Paduan Wisata Jakarta dan Budaya Betawi

Saya gak tahu kalau Setu Babakan itu ada danaunya. Saya pikir cuma nama perkampungan doang. Aku yang manjah ini memang kudet.

“Setu” itu artinya Danau!

Lah, daku gak ngeh kalau itu artinya danau, hihihi.

Sekitar dua bulan lalu saya jalan-jalan ke sana.

Setu Babakan
Setu Babakan terletak di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kawasan ini dikenal sebagai pusat Perkampungan Budaya dan pelestarian budaya Betawi. Maka itu saya tertarik datang ke sini.

Saat memasuki kawasannya, ragam boneka ondel-ondel ada dipinggir jalan. Boneka itu dijual, sengaja dipajang di pinggir jalan oleh si penjual.

Selain ondel-ondel, ada juga pernak pernik khas Betawi lainnya. Namun kalau untuk perkampungan Betawi atau rumah-rumah adat Betawi tak semuanya ada di kawasan ini. Ada juga rumah model biasa. 

Mau beli patung ondel-ondel?
Sebagian besar penduduk Setu babakan orang asli Betawi yang sudah turun temurun tinggal di daerah tersebut. Bagi warga yang sudah lama tinggal di sana, terlihat rumah khas Betawinya yang sudah jadul. Pun rumah pendatang yang baru dibangun juga terlihat kayunya yang masih bagus.

Menurut salah satu pengelola perkampungan ini, warga yang membangun rumah khas Betawi di sana, tak bearti adalah orang Betawi asli. Ada juga pendatang dari Sumatera Barat, tapi dia membangun rumah khas Betawi yang mewah dan besar, posisinya tak jauh dari gerbang gapura.

Ini adalah salah satu pintu masuk ke perkampungan Betawi
Suasana di dalam perkampungan Betawi.

Melangkah masuk ke dalam lagi, ada museum khas Betawi. Saya mampir ke sini.

Duh, gedungnya megah. Sekuriti atau penjaga di pintu masuk gerbang dengan hangat menyambut tamu yang mau bertandang ke tempat ini.

Tak begitu luas museumnya, hanya satu lantai. Di dalamnya saya melihat ada benda-benda jadul, seperti kendi,setrikaan besi, pakaian adat Betawi, boneka ondel-ondel sepeda,topeng, replika kue-kuean, kerak telor, bir pletok dan makanan khas Betawi lainnya.

Barang-barang jadul khas Betawi di museum

Pakaian muda-mudi Betawi
Pengunjung museum melihat baju pengantin Betawi

Selain ada museum, rupanya tempat ini juga merupakan gedung atau Kantor Unit Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.

Mengapa kampung ini ada kantor pengelolanya? Karena kawasan ini adalah salah satu kawasan cagar budaya Indonesia, selain dari pusatnya pelestarian budaya Betawi.

Siapapun boleh masuk ke tempat ini. Gratis!

Masuk museum gratis, menonton pertunjukan seni budaya Betawi yang biasanya disajikan setiap Sabtu dan Minggu juga gratis. Pertunjukan itu seperti pencak silat, tarian dan lagu-lagu khas Betawi.

Ini pintu masuk Kantor Unit Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Gedung Kantor Unit Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Arena tempat pertunjukan di dalam Kantor Unit Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Saat saya ke sana pada November 2019, siang hari terlihat panitia sedang mempersiapkan peralatan untuk pertunjukan seni budaya Betawi yang akan digelar pada malam harinya. Pertunjukan ini juga sekaligus memperingati Hari Pahlawan.

Panitia sedang mempersiapkan peralatan untuk pertunjukan

Nah, tempat pertunjukan ini dikelilingi replika rumah-rumah adat Betawi yang berdiri di atas empang (kali kecil). Di sebelahnya ada hamparan rumput hijau yang syantik membuat tempat ini menjadi alam terbuka yang asri dan asik dinikmati kala sore. Sepertinya lahan kosong yang dihuni rumput itu sengaja dibiarkan kosong agar suasana alaminya masih terasa.

Untuk menyinggahi rumah satu ke rumah lainnya, bisa lewat dari jembatan yang penampakannya instagramable bangets.

Replika Rumah Adat Betawi di area Kantor Unit Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.


Ondel-ondel dan khas kursi Betawi
Si jembatan instagramable
Nah, setelah puas menikmati tempat ini, tak jauh melangkah, jalan sedikit sekitar 100 meter, ketemu deh sama Danau Babakan. Duh, diri ini langsung seger rasanya melihat airnya yang tenang dan luas yang bikin lega.

Di pinggir danau dipenuhi dagangan.

Dari makanan, mainan anak-anak, lukisan, sandal dan lain-lain. Pembeli pun disediakan tempat duduk atau lesehan di pinggir danau. Kebayang deh asik banget beb icip-icip bakso panas sambil menikmati hijaunya danau.

Nah. lesehan begini beb pinggir danau
Ketemu kuda di Setu Babakan


Kalau mau main-main di atas danau juga bisa kok. Ada perahu yang berbentuk bebek bisa disewa untuk mengeliling danau. Ada puluhan perahunya dan antri lho yang mau sewa perahu.

Apalagi kalau cuacanya mendung-mendung manjah tapi tak kelabu, alias adem, pas banget itu untuk menikmati danau. Tapi saya gak tahu berapa biaya sewanya karena gak sempat nanya, hihihih,..
 
Sewa-sewa perahu bebek-bebekan


Danau ini bisa menjadi pilihan hiburan warag Jakarta yang ingin menikmati sejuknya air (selain Ancol) di tengah ganasnya udara dan polusi Jakarta. Murah meriah tapi asyik.

Pada akhir pekan, pengunjungnya ramai, lalu lalang kendaraan pun padat dan aktivitasnya ramai, seperti yang saya lihat saat itu.

Kalau Anda mau ke sini, bisa menggunakan transportasi umum, seperti KRL atau Trans Jakarta. Gapura kayu bertuliskan Pintu Masuk 1 Bang Pitung Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan akan Anda temui jika ke mari diantar Trans Jakarta.

Berminat mau ke sini?

Gapura masuk Setu babakan. Di sebelah gapura ini ada halte Trans Jakarta

Duet “Pesulap” Sampah Menjadi Rupiah


Salah satu gang yang saya lewati awal Desember tadi, mampu menghentikan langkah kaki jenjang ini di tengah teriknya matahari. Hijaunya syantik dan manjah. Kiri kanan dindingnya dipenuhi tetanaman. Ada sayur mayur hingga tanaman hias. Tong warna warni berjejer di sana, menambah semarak keindahan.

Ah, begini rasanya masuk ke Kampung Pro Iklim. Meski tata ruang kampung ini gang per gang dan padat, namun sejauh mata memandang penuh penghijauan.

Daun-daun kangkung yang baru tumbuh melambai-lambai di tembok gang menyambut tamu yang datang. Di depan sayuran kangkung, ada baju-baju yang dijemur, juga warga yang berlalu-lalang dan beraktivitas seperti biasa.

Ini dia gang itu!
Kalau saja tak ada orang yang menggerakkan penghijauan di sini, tentu kampung ini tak akan memanjakan mata saya dan menarik kaki saya untuk bertandang ke sana.

Kalaulah jua tak ada cerita soal sampah yang bisa menghasilkan uang, soal kampung yang penuh penghijauan dan tentang kampung yang mau menampung sampah lewat bank sampah, hingga bisa mengubah kebiasaan warga, saya mungkin tak akan bertemu dengan Pak Sutarno.

Bagaimana sampah bisa disulap jadi uang dan seperti apa bibit-bibit halus tanaman bisa jadi pohon duit, Pak Sutarno jagonya. Ia paham betul bagaimana mengolah sampah dan bertanam. Sampah yang biasanya dibuang begitu saja dan sering dipandang dengan tatapan nanar nan menjijikkan itu, ditangannya menjadi “emas”dan menyokong kehidupan tetanaman dan manusia

Sampah sayur busuk, ia olah menjadi kompos cair lalu di jual, selain untuk dipakai sendiri. Anyirnya bau kompos cair akibat pembusukan sampah organik, ia siasati dengan tong-tong komposter dengan konstruksi racikannya yang bisa menghilangkan bau. Hasil tong racikannya pun dijual dan mendatangkan rupiah.

Air bekas limbah penyejuk udara atau AC ia tampung dan menjadi kolam ikan lele dan ikan patin. Ia dan keluarga pun tak perlu lagi membeli lele di pasar, cukup mengambil dari kolam lele buatannya. Hemat uang belanja, hemat air, hemat ongkos buat beli bahan bakar, dan mengurangi polusi.

Apalagi?

Aha, botol-botol plastik bekas air kemasan dan bekas plastik minyak dan deterjen ia kumpulkan dan dipakai lagi untuk wadah bibit-bibit tanaman. Jika sudah berbuah, tinggal petik saja atau disayur untuk lauk. Tanaman-tanaman itu selain untuk dikonsumsi sendiri, ada yang dipakai untuk menghiasi kampung dan rumahnya, ada pula yang kirimkan kepada sekolah-sekolah yang memesan. Pundi-pundi rupiah pun ia terima.

Berkatnya, tak hanya sekolah dan kampungnya yang menjadi hijau, namun sampah-sampah organik pun jadi berkurang, dan sampah non organik semisal plastik dan kaleng pun jadi berguna.

Bekas wadah minyak dijadikan media tanam

Pak Tarno

Pak Tarno, panggilan akrabnya, mulai menekuni dunia sampah dan penghijauan sejak 2008. Demi kecintaannya pada lingkungan ia rela pensiun dini dari profesinya sebagai salah satu guru SD di Jakarta. Ia lebih memilih bergelut dengan lingkungan dan sampah yang menjadikannya panutan banyak orang.

Namun, jangan salah, walau kini ia berteman dengan ’sampah’, jiwa gurunya masih menggelora. Buktinya, ia sering menjadi guru tamu di beberapa sekolah dan instansi atau kelompok masyarakat yang mengundangnya. Ia diminta mengajarkan banyak hal tentang bagaimana mengolah sampah dan bertanam.

“Sampai sekarang saya masih jadi guru! Saya guru TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi (seperti Binus dan UI) serta Karang Taruna. Tapi jadi guru tamu. Hehehe. Kalau saya masih bekerja jadi guru, saya gak mungkin sekarang mengajar mahasiswa,” ujarnya diselingi tawa.

Pak Tarno

RT 09 RW 01 Sunter Jaya tempat Pak Tarno tinggal adalah Kampung Pro Iklim Tingkat Madya pada 2015. Karena itu, kampung ini menjadi kampung percontohan bagi kampung-kampung lain di Jakarta. Sementara di tingkat Nasional, kampung ini mendapat predikat juara ketiga Kampung Pro Iklim pada 2016.

Disebut Kampung Pro Iklim karena kampung ini pro dengan iklim. Misalnya, saat musim kemarau suasananya tetap sejuk karena banyak penghijauan. Lalu, ada banyak tanaman obat keluarga (Toga), tanaman sayur maupun tanaman hias yang ditanam warga di pekarangan rumahnya. Ada pohon salak, ada kangkung, pokcay, lidah buaya dan beberapa tetanaman sayur lainnya. Semua itu demi ketahanan pangan.

Selain itu, warga juga memanfaatkan air bekas pakai atau air hujan yang ditampung untuk menyiram tanaman atau mencuci mobil. Jadi hemat air bersih deh.

Dorongan kepada warga agar berpartisipasi dalam pengurangan sampah juga terus digalakkan. Disiasati dengan daur ulang atau dipakai kembali. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Nah, kampung ini sudah melakukan itu.

Pak Tarno, adalah salah satu penggeraknya, khususnya di RT 09. Ia menerapkan konsep “Mengolah Sampah tanpa Lahan, Bertanam tanpa Lahan”.

Pak Tarno memasukkan sampah sayur di tong komposter

Maka itu, jangan kaget ketika bertandang ke rumahnya, ada banyak tetanaman yang menghiasi dinding samping rumahnya. Gang yang saya sebut di awal, yang mampu menghentikan kaki saya, adalah gang yang berada persis di samping rumah Pak Tarno. Dialah yang membuat dinding gang yang menyatu dengan rumahnya itu menjadi hijau dan penuh warna.

Tetanaman itu ia olah dalam wadah bekas kemasan plastik dan bekas botol plastik. Ia suburkan dengan pupuk kompos buatannya. Jadilah ia penghias kegersangan dinding dan menutupi cat-cat yang mengelupas. Kampung pun sejuk. Warga yang melihatnya jadi adem, jepretan kamera pun menjadi instagramable. Ah, sesuatu sekali.

Bekas plastik  minyak kemasan yang dijadikan media tanam
Gang di samping rumah Pak Tarno

“Saya orang kampung, melihat di gang ada orang yang buang sampah dan ada tumpukan sampah, gak nyamanlah. Nah, pada 2008 kami mulai membersihkan got dan mengembalikan sampah bekas kemasan ke pabriknya, walau saat itu belum trend,” cerita Pak Tarno mengingat awal ia mulai bergerak menghijaukan kampung.

Berkat kegigihannya mengajak dan mengajarkan warga untuk bertanam dan mengolah sampah, warga kampung pun tertular kebiasaannya. Penghijauan pun mulai bergeliat. Satu persatu para tetangga menanam tanaman di media pot. Karena keterbatasan lahan, tanaman itu di letakkan di depan rumah atau di dinding rumah. Kini ragam tetanaman ada di mana-mana, menghiasi setiap gang.

Untuk menyuburkan tanaman, warga boleh mengambil pupuk kompos cair di tong komposter yang disediakan Pak Tarno di gang tadi. Saya pikir tong itu isinya air hujan, rupanya isinya adalah sampah sayuran busuk, yang setelah melalui proses, ia menjadi pupuk kompos cair. Tong komposter namanya.

Saya kaget ketika tutup tong itu dibuka Pak Tarno, aw, isinya sampah sayur semua. Ia juga menunjukkan air lindi-nya yang sudah jadi pupuk kompos. 

Siapa saja boleh memasukkan sampah organik atau sayuran di tong itu. Siapa pun silakan saja mengambil pupuk cair dari tong komposter Pak Tarno untuk menyuburkan tanamannya. Karena toh, sayur-sayur busuk itu juga ada ‘sumbangan’ dari warga.

Makin banyak sampah organik, makin bertambah keberkahannya. Makin banyak pula yang merasakan manfaatnya.

Tong Komposter di samping rumah Pak Tarno

Ya, memilah sampah dari rumah, memang menjadi harapan Pak Tarno kepada tetangga-tetangganya. Karena menurutnya, pengolahan sampah itu idealnya dimulai dari rumah atau sumbernya. Misalnya setiap keluarga bisa memilah sampah organik dan non organik, sebelum akhirinya dibuang atau diolah menjadi kompos atau mungkin didaur ulang dan recycle.

Tak hanya kepada orang dewasa, Pak Tarno juga mengajarkan bagaimana cara memilah sampah, pemanfaatan daur ulang, dan pembibitan kepada anak-anak kecil di kampungnya. Dengan harapan, kelak ketika mereka dewasa sudah terbiasa dan mandiri memanfaatkan sampah dan akhirnya sampah rumah tangga pun berkurang.

“Arah kami adalah kemandirian (warga bisa mengolah sampahnya sendiri), selain itu ada penghijauan di lingkungan. Kalau jam 7 pagi lewat sini, jalanan bersih semua. Setiap RT juga punya tim penghijauan masing-masing dan jika ada masalah atau ide dirembukkan bersama pada pertemuan RT,” ujarnya.

Mengakali lahan terbatas, menaruh tanaman bisa di dinding

Virus cinta lingkungan dan sampah yang ditularkannya, tak hanya sampai di RW 01 Sunter Jaya saja, tapi juga menular hingga ke Timor Leste. Pada 2017 lalu ada mahasiswa dari Timor Leste yang dengan semangatnya berguru mengelola sampah dan penghijauan dengan Pak Tarno.

Ryan Mahli. Satu bulan penuh ia menggali ilmu dan menginap di rumah  Pak Tarno. Kemana pun sang guru pergi, ikut. Gurunya ke Bank Sampah, ikut. Bertanam, mengolah sampah, membuat pupuk kompos, juga ‘dikintilin’. Pun jika gurunya mengisi acara seminar dan kegiatan lainnya, semuanya diikuti.

Setelah 'lulus' belajar dari Pak Tarno, Ryan pun menularkannya kepada teman-teman kampusnya. Ia membuat satu grup di kampusnya dan membawa teman-temannya itu ke rumah Pak Tarno untuk sama-sama belajar.

"Tentu semangat cinta lingkungan telah jadi bagian dari hidup saya, karena saya senang bertanam. Pak Tarno orangnya luar biasa, terbuka dan  rendah hati banget meski banyak pengetahuan," ujar Ryan saat saya mencoleknya di Facebook, setelah sebelumnya gagal menghubunginya karena nomor ponselnya sudah berganti.

Kini Ryan berada di Mexico, melanjutkan studinya dan membawa ilmu penghijauan dari Pak Tarno. Ah, betapa ilmu sang guru sudah sampai hingga ke Benua Amerika.

“Saya hanya ingin menularkan bahwa dengan mengolah sampah, peduli lingkungan, penghijauan, daur ulang, itu berdampak positif untuk pengurangan sampah di sumbernya. Sampai kapan saya menularkannya? Ya dibutuhkan gak dibutuhkan saya melakukannya. Kepentingannya bukan hanya untuk orang lain tapi juga untuk diri saya sendiri,” cetus Pak Tarno.

Hijaunya Kampung Sunter Jaya RW 01
Dengan melihat hijaunya kampung ini, mungkin tak menyangka kalau pada 1997 lalu, banjir besar pernah menerjangnya. Masih ingatkah dulu, beritanya begitu santer menghiasi halaman media cetak dan berita TV kalau beberapa kawasan Jakarta terkepung banjir, salah satunya ya Kampung Sunter Jaya ini. Rumah Pak Tarno pun ikut terkena banjir kala itu.

Sebabnya, Danau Sunter yang berdekatan dengan kampung ini meluap dan tersumbatnya aliran got. Bahkan pada 2007 hingga 2010 banjir pun masih “menyapa” kampung ini. Namun, setelah tahun itu, banjir pun malas untuk berkunjung lagi ke sana, karena kampung ini sudah hijau dan aliran air pun lancar.

Namun Pak Tarno tak memungkiri, enyahnya banjir itu bukan semata karena kesadaran warga yang sudah peduli pada lingkungan dan menampung air hujan, namun juga ada peran pemerintah. Misalnya, irigasi dibetulkan dan Danau Sunter diperbaiki/ dikeruk.

Perkebunan bioponic Pak Tarno


Dari Sampah jadi Rupiah

Selain menghijaukan kampung dan rumahnya dengan bertanam, Pak Tarno juga membuat tong komposter untuk mengolah pupuk kompos cair dan juga memproduksi pot komposter biopori.

Halaman rumahnya ia jadikan tempat pembuatan tong komposter. Pak Tarno tidak punya karyawan, namun ada yang mensupport atau bekerjasama dengannya untuk menyumbangkan tenaga agar tong komposter bisa diproduksi. Rekan-rekan yang menolongnya, Ia sebut sebagai Mitra. Ada yang dari Pesanggrahan, Solo, Yogya, Banten dan lain-lain.

“Jadi, ketika ada orderan dari pembeli, baru bekerja. Kalau ada (mitra) yang mau bergabung silakan, kita gak bayar mitra, tapi kita mensupport,” jelasnya.

Ia menjelaskan, misal darinya mematok harga jual Rp150.000, nah para mitra yang bekerja sama boleh menjualnya lebih dari harga itu, bahkan bisa dua kali lipat. Kenapa? Salah satunya karena biaya oprasional atau untuk menutupi biaya transportasi.

Ada puluhan tong-tong komposter berjejer di halaman rumahnya. Tong-tong itulah yang dibuat bersama mitranya. Tong komposter racikannya itu dijual secara online dengan harga sekitar Rp300.000-Rp500.000. Namun, jika membelinya langsung dengan Pak Tarno, ia hanya melepasnya dengan harga Rp150.000. Pembelinya, tak hanya dari Jakarta, tapi juga dari Palembang, Bali, Pontianak, NTT, Lampung dll.

Rumah Pak Tarno yang juga sebagai tempat memproduksi tong komposter dan Sekolah Sampah

Itulah salah satu berkah yang didapat dari sampah. Berawal dari kegemarannya yang berteman dengan sampah, kini ia kembangkan hobinya menjadi wirausaha yang tak hanya bikin dompetnya tebal tapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggalakkan hidup ramah lingkungan.

Gara-gara sampah, Pak Tarno bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi dan memiliki tiga buah mobil.

“Komposter, 20 tahun ke depan pun gak akan mati sebelum ditemukan teknologi canggih untuk menjadi sarana menciptakan kebersihan,” ucapnya.

Bukan hanya tong komposter saja lho yang dijual Pak Tarno. Pot komposter biopori, pupuk kompos cair dan kompos padat, bibit tanaman, dan segala hal yang berhubungan dengan sampah dan penghijauan, menjadi lembaran-lembaran rupiah baginya.

Pupuk kompos cair yang sudah dimasukkan ke dalam botol misalnya, ia jual dengan harga Rp20.000. Padahal pupuk itu berasal dari sampah sayuran. Artinya, tak perlu pakai modal besar untuk membuatnya. Cukup dengan ketekunan dan kegigihan bergulat dengan sampah, semuanya bisa jadi ladang penghasilan.

‘Ladang’ lain yang juga ia kelola adalah taman mini yang ia bangun di atas rumahnya. Ada beragam tumbuhan di sana. Kelor, kangkung, lidah, buaya, belimbing, cabai, seledri, dan lain-lain mewarnai taman itu.

Taman Mini Pak Tarno yang berada di atas rumahnya

Seperti prinsip Pak Tano: bertanam tak harus ada lahan. Maka itulah ia siati menanam dengan media tanam pot. Bersama isterinya yang juga seorang guru, Pak Tarno menyiram dan merawat taman mininya dengan kasih sayang, hingga tumbuh menjadi sesuatu yang layak dikonsumsi dan diperjualbelikan.

“Nah, kelor ini kalau saya jual Rp200 ribu nih, sudah ada yang mau beli,” katanya saat saya diajaknya main ke taman mini. Jika ada tanaman yang terjual, maka Pak Tarno langung akan menanam tanaman baru. Jadi tamannya tak pernah sepi dari penghijauan. Bisa setiap hari lho pak Tarno menanam.

Pak Tarno di taman mininya
Tanaman gantung di rumah Pak Tarno
Di taman mini ini, selain banyak koleksi tetanaman, juga ada kolam lele yang airnya berasal dari limbah AC, seperti yang saya sebut tadi. Jadi, taman mini Pak Tarno, tak hanya mengandung gizi, tapi juga menyimpan bibit-bibit rupiah dan menghemat pengeluaran.

Kolam lele
Meski sampah dan bibit tanaman bisa menghidupinya, sesungguhnya bagi Pak Tarno, apa yang ia lakukan bukan sekadar mengais profit semata. Namun di baliknya ada tujuan mulia, ia ingin menginspirasi masyarakat. Ia berharap ada yang meniru cara ia bagaimana membuat tong komposter, sehingga masyarakat tak perlu lagi membeli. Juga dengan getolnya ia bertanam, diharapkan warga lain juga terpacu menghijaukan rumahnya dengan tetanaman.

Karena semakin banyak warga yang bisa membuat tong komposter dan menanam, maka bumi pun akan semakin hijau. Itu sebab, mengapa ia tak pelit berbagi ilmu kepada setiap orang yang datang mengunjunginya untuk belajar soal sampah dan penghijauan.

Rumahnya pun, dia jadikan sebagai tempat “Sekolah Sampah”. Teras rumahnya menjadi saksi atas kunjungan ribuan orang yang pernah menggali ilmunya. Ya, di teras rumah itulah ia mengajar dan berbagi ilmu kepada tamu dari berbagai daerah, mahasiswa, warga, pegiat lingkungan, instansi pemerintah, media, hingga blogger seperti saya. Bermodalkan tape/ radio, mic dan proyektor, Ia tebarkan ilmu soal sampah dan penghijauan kepada tamu yang biasanya datang rombongan itu.

Rumah Pak Tarno yang jadi "Sekolah Sampah"

Pak Tarno menebarkan ilmu sampah dan penghijauan di rumahnya. Gambar: IG @proklim_sunterjaya01

Karena aktivitasnya sebagai pengajar soal sampah, maka pengunjung dan warga, sepakat memberikan julukan “Guru Sampah se-Indonesia” kepadanya.

“Apa yang kita lakukan akhirnya diminati banyak orang. Saya ingin tamu yang datang sebulan yang lalu (yang belajar soal komposter) kalau ke sini lagi ada perubahan. Yang akhirnya dari perubahan itu bisa menjadi produk-produk yang akhirnya bisa juga membuat turunan komposter, misal pupuk cair, bioaktivator, pot, alat raga pendidikan, dll,” harapnya.

Geliat Pak Tarno dalam penghijauan dan pengolahan sampah hingga menjadi lingkungan hijau, mengantarnya menerima penghargaan Kalpataru Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2016 Kategori Pembina Lingkungan.

Sosoknya yang inspiratif pun, terdengar oleh PT Astra International, Tbk. Melalui Astra Honda Motor (AHM), Astra memberikan bantuan senilai Rp20 juta rupiah untuk membantu kegiatan Pak Tarno menyebarkan benih-benih cinta lingkungan. Namun bantuan itu tidak dalam bentuk uang. 

“Astra membantu memberikan kursi, tape atau radio untuk kelas mengajar di rumah saat ada rombongan yang berkunjung. Juga memberikan proyektor dan penataan ruang untuk membuat tong komposter. Dulu ruangan ini tidak begitu bagus, kini dengan bantuan Astra sudah direnovasi,” ujar Pak Tarno.

Selain itu, Astra juga memberikan pelatihan pengembangan usaha. Sejak 2014, Astra menggandeng kampung ini untuk lebih berseri dan menginspirasi. Kampung Berseri Astra (KBA) Pro Iklim RW 01 Sunter Jaya, kini makin hijau dihiasi bibit-bibit pokcay dan kebun organik dari Astra.

“Apa yang saya lakukan, saya beritahukan ke pihak Astra agar mereka tahu bahwa apa yang sudah mereka bantu itu berjalan dengan baik,” tuturnya.




Geliat Ibu Pelopor Sampah yang Menampung ‘Kotoran’

Pak Tarno tak sendiri, ada Ibu Sri Rahayu (54 thn) yang juga menggerakkan penghijauan dan menampung sampah di RW 01 Sunter Jaya ini. Ibu Sri adalah Ketua Pengurus Bank Sampah yang juga merangkap Ketua PKK, dan isteri dari Ketua RW 01, Pak Sukartono. Itu sebab, Ibu Sri sering disapa “Bu RW” oleh warga. Suami isteri ini sama-sama menggelorakan penghijauan.

Kalau Pak Tarno dijuluki Guru Sampah se-Indonesia, maka Ibu Sri disebut warga Ibu Pelopor Sampah, karena ia juga berkutat dengan sampah.

Jika ingin menemui Ibu Sri, datang saja ke bank sampah yang berada di RT 13, setiap Sabtu dan Minggu pukul 9 pagi. Di sana, Ibu Sri setia menanti kedatangan warganya yang datang membawa sampah non organik, seperti bekas botol kemasan, tutup botol, bekas wadah kosmetik, shamphoo, deterjen, karung dan lain-lain.

Karung bekas dan tutup botol plastik sebagian disulap menjadi tas oleh ibu-ibu pegiat bank sampah. Sedangkan wadah deterjen, sabun cair, minyak goreng dijadikan media tanam. Bekas botol air kemasan dijadikan hiasan dan juga media tanam.

Bekas bungkus sachet kopi di-simsalabim menjadi karpet, tas dan dompet. Kain perca dijahit menjadi taplak meja, hiasan jilbab, tas, atau hiasan bros. Tutup botol disatukan hingga menjadi tas, sementara kaleng bekas dimanfaatkan untuk tutup lampu. Sedangkan sampah yang tidak digunakan akan dijual ke lapak.

Si Adek syantai banget sih duduk di karpet dari bekas kemasan sachet karya ibu-ibu RW 01 Sunter Jaya. Selain karpet, ada juga tas, pajangan, hiasan dan juga jilbab yang dihiasi kain perca.  (Gambar: Ibu Sri)

Nah, kalau wadah bekas kosmetik atau minyak rambut akan ‘dilirik’ Pak Tarno.

“Pak Tarno sering ke sini, dia melihat-lihat sampah apa saja yang ada di bank sampah. Ketika melihat wadah bekas minyak rambut, dia bilang ‘wah, ini bisa untuk saya’ dia milah sendiri. Jadi kita berkolaborasi dengan Pak Tarno. Kemarin sore Pak Tarno ke sini, mengambil wadah bekas krem kosmetik untuk wadah bibitnya,” kata Ibu Sri.

Sri juga menjelaskan, Pak Tarno sering mendapatkan pesanan bibit tanaman. Sekali mendapatkan pesanan bisa puluhan hingga ratusan. Nah, Pak Tarno yang menyediakan bibitnya, sementara media tanam untuk bibit, Pak Tarno akan ‘ngubek’ bank sampah untuk mencari wadahnya.
 
Ibu-ibu pegiat bank sampah pun tak mau kalah dengan Pak Tarno. Mereka juga mencari bibit dan menjualnya. Bahkan Pak Tarno pun membeli bibit dari bank sampah jika sedang banyak pesanan sementara stok bibitnya sedang menipis

“Ini bibit yang dibuat oleh pegiat bank sampah, kadang kami jual ke Pak Tarno cuma dua ribu rupiah. Tapi Pak Tarno menjual bibit itu ke pihak lain bisa jadi Rp20.000. Karena keuntungan yang berlipat itu, Pak Tarno sering ngasih lebih. ‘Nih (saya kasih) sepuluh ribu untuk satu bibit,’ ujar Sri sambil menujukkan bibit yang dimaksud.

Ibu Sri Rahayu menunjukkan bibit yang pernah dibeli Pak Tarno

Bibit bayam, kangkung dan sawi di pekarangan bank sampah

Karena kolaborasi mereka yang sungguh hijau itu, bank sampah pun menjadi bertumbuh dengan larisnya penjualan bibit dan benda-benda yang mereka produksi dari bahan-bahan bekas tadi. Ibu Sri juga menyebut ada salah satu bos Astra yang membayar satu juta rupiah untuk membeli 3 tas dari tutup botol dan kaleng bekas untuk tutup lampu.

Pundi-pundi rupiah itu menjadikan perputaran uang kas berjalan baik. Uang dari hasil pengolahan bank sampah, masuk kas RT masing-masing atau masuk kas dasa wisma. Uang itu, salah satunya digunakan untuk membayar atau membeli sampah-sampah yang dijual warga ke bank sampah. Saldo keuntungan bank sampah dibuat modal.

Siapa saja yang boleh menjual sampah ke bank sampah ini?

24 RT yang digawangi oleh RW 01 ini, semuanya boleh mengirimkan sampahnya ke bank sampah yang diberi nama “Puspa Cindra Kana” ini. Warga dari RW lain pun boleh lho. Dari instansi sekolah bahkan dari pemulung pun akan disambut dengan hangat oleh ibu-ibu pengurus bank sampah. “Pemulung juga ngasih sampahnya ke sini, datang dengan gerobaknya. Karena di lapak-lapak lain harganya murah, makanya mereka (pemulung) pilih jual di sini,” kata Sri.

Pagi itu, di Bank Sampah.

Saya merasakan semangat warga yang datang dengan membawa karung besar. Kebanyakan isinya sampah plastik botol kemasan. Ada Lisa, penjaga kos-kosan yang membawa sampah dari bekas wadah kemasan anak-anak kos. Ada juga Puput yang sedang hamil satu bulan datang bersama anak dan sepupunya.

"Saya baru dua kali ini mengantar sampah ke sini. Di rumah sering beli air kemasan, makanya daripada dibuang mending dijual ke bank sampah," kata Puput.

Puput (celana garis-garis) bersama sepupunya

Sampah mereka kemudian ditimbang. Jika sampah dalam keadaan bersih, 1 kilogram sampah dibeli Rp3500, jika dalam kondisi kotor, dihargai Rp1500.

“Lisa, 4 kilo sampahnya,” teriak salah satu petugas bank sampah yang menimbang.

Mendengar itu, Bu Sri langsung mencatatnya di buku tabungan sampah. Selayaknya bank, maka masing-masing warga yang “menabung” di bank sampah juga memiliki buku tabungan. Dari hasil penjualan sampah tadi, warga tidak langsung mengambil uangnya, namun ditabung. Biasanya diambil setahun sekali saat masa tahun ajaran baru atau saat hari raya.

“Uangnya bisa untuk beli daging atau baju anak saat masuk sekolah. Gak harus setahun sekali, kalau ada yang butuh boleh diambil tabungannya,“ jelas Ibu Sri sambil menulis tabungan nasabah di buku tabungan.

Ibu Sri menulis tabungan sampah di buku

Sebelum Puput pulang, Ibu Sri memberikan tas yang terbuat dari karung bekas kepada Puput dan sepupunya. “Pilih saja itu tasnya, lumayan buat belanja. Itu bikinan ibu-ibu di sini,” ucapnya.

Saya melongok melihat ke dalam bank sampah. Berkarung-karung sampah yang sudah dipilah, disisihkan. Siap dijual ke lapak. Sebagian didaur ulang warga atau pengurus.

Namun, sampah yang baru datang, masih dibiarkan dulu sambil menunggu proses pemilahan. Setiap Sabtu dan Minggu, biasanya paling tidak ada 10 orang nasabah yang mengantar sampahnya ke bank sampah.

Bukan hanya Puput dan Lisa yang mengantar sampah hari itu, tapi juga ibu-ibu ini.
Ada tas dari karung bekas, tutup botol dan bekas wadah kosmetik di bank sampah
Proses bank sampah

Harga jual ke lapak mengikuti pasaran, untungnya sedikit, namun tak masalah karena tujuan bank samph adalah demi meminimalisir atau memanfaatkan sampah.  Kendati begitu Ibu Sri pernah merugi. Sebabnya, harga jual sampah ke lapak mengikuti harga dollar. Ketika ada masa resesi (kemerosotan ekonomi) dan harga emas pun turun selama dua bulan, maka harga jual ke lapak jadi turun.

“Meski begitu, harga sampah yang saya beli dari nasabah tetap harga biasa, walau saya rugi. Tapi gak apa-apa, takutnya nasabah saya lari (jika harga beli sampah diturunkan), jadi saya pertahankan,” jelasnya.

Ibu Sri sangat paham, jika sampah plastik tak bisa terurai oleh alam. Kalau pun terurai, butuh ribuan tahun. Kita semua mungkin sudah gak ada lagi di dunia, lalu anak cucu kita yang kebagian “menimbanya”. 

Karena itu, ia mengusahakan agar sampah yang dihasilkan warga paling tidak hanya 20 persen. Selebihnya, ya dimaanfaatkan untuk daur ulang atau recycle. Untuk itu juga ia mengajarkan warga bagaimana mengolah sampah organik dan non organik, selain mendirikan bank sampah.

Untuk itu pulalah ia rela merugi asalkan warganya tetap datang ke bank sampah, mengantar sampah-sampahnya. Meski begitu, ada juga warga yang tak mau mengirim sampahnya ke bank sampah. Salah satu warga, Ibu Ria, tak mau ke bank sampah karena harga belinya dianggap murah. “Males ah, cuma Rp3500 satu kilonya,” ujarnya saat saya sedang makan mi ayam di warungnya.

Kini ada 50 nasabah bank sampah, dari semula 100 nasabah. Jangan dikira penurunan jumlah nasabah adalah suatu kemunduran. Justru itu adalah pertanda atau parameter bahwa program yang digagasnya sukses, kesadaran gaya hidup ramah lingkungan dengan meminimalkan sampah sudah dijalankan.

“Itu berhasil, artinya ada pengurangan sampah plastik yang digunakan masyarakat, makanya nasabahnya berkurang,” tegas Ibu Sri.

Ini adalah pekarangan bank sampah yang dipenuhi TOGA. Waktu saya memotretnya tempat ini belum dibuka

Saat bank sampah ini berdiri pada 2011 lalu, Ibu Sri menampung sampah itu di rumahnya, karena belum ada bangunan atau tempat yang bisa dijadikan bank sampah. Ia tak keberatan rumahnya jadi penuh sampah dari warga. Namun, warga yang justru protes. “Rumah Bu RW, kok jadi kotor,” kata Ibu Sri menirukan ucapan warga.

Karena itu, ia mencari lahan kosong untuk dibangun bank sampah. Tempat yang awalnya empang, ia keruk. Ia cari pihak swasta yang mau mendukungnya agar bisa mewujudkan impiannya membangun bank sampah. Astra Honda Motor (AHM) langsung setuju ketika digandeng untuk bahu membahu membantu membangun bank sampah ini. Lalu jadilah bangunan bank sampah itu.

“Dari awalnya hanya sekat bedeng, yang ‘isinya’ terlihat dari luar, makin lama makin banyak nasabah, maka bank sampah pun dirombak, lalu saya minta AHM untuk mempercantik tempat ini,” katanya.

Bahkan oleh AHM dibuatkan juga ruang kantornya. Ketika ada tamu yang datang, bisa ngobrol di dalam kantor yang dihiasi foto-foto kegiatan warga dan penghargaan kampung RW 01 itu. Selain itu, AHM juga membantu menyediakan tong PAH, spanduk slogan, pelatihan daur ulang, bioponic, juga pelatihan pemanfaatan styrofoam untuk dibuat batu bata dan hiasan dinding.


Hijau yang Menggugah

Sampah dan penghijauan erat kaitannya. Tak akan hijau suatu kampung kalau sampah masih dimana-mana atau warga belum bisa mengolah sampah. Dari penghijauanlah, maka sampah pun bisa diolah dan ditekan.

Halaman bank sampah pun dihiasi dengan tanaman obat keluarga atau TOGA. Ada cocor bebek, kemuning, pepaya Australia, rumput Afrika, lidah mertua, kelor, lidah buaya, belimbing, sawo, jambu, kurma, delima, ciplukan, pakis dan lain-lain. Ada juga bibit kangkung, sawi, bayam dan lain-lain. Selain sebagai bentuk penghijauan, bibit-bibit itu juga dijual.

Salah satu tanaman ada yang menarik perhatian saya, karena daunnya berwarna merah. Namanya daun Miana. Kata Ibu Sri daun ini bisa dibikin jadi peyek layaknya peyek bayam.

Daun Miana
Sekitar tahun 2010, Ibu dari 3 anak yang kala itu masih menjadi “Bu RT 13” ini, menekankan kepada warga agar satu RT minimal ada 3 pot. Makin lama kesadaran masyarakat untuk sayang dengan alam semakin besar.

Ini terlihat dari rumah warga yang masing-masing memiliki tanaman sendiri meski harus berhadapan dengan keterbatasan lahan. Warga pun menyiasatinya dengan menaruh tanaman di pot, di pagar, di dinding/ tembok jalan atau digantung di teras rumah.

Perjuangannya memelopori penghijauan dan sampah tak kenal waktu dan lelah. Jika ada rumah yang lagi dibangun, bekas wadah cat ia ambil, lalu dijadikan wadah tanaman. Kalau ada pendatang atau tamu yang buang sampah sembarangan, ditegurnya baik-baik. Begitupun juga jika ada rumah dijual, lalu dihuni warga baru dan warga tersebut tak mau menanam akan ia arahkan pelan-pelan.

Soal penghijauan dan warga baru, ada cerita yang sangat menyentuh dan inspiratif dari Seorang Ibu Pelopor Sampah ini.

Kata Ibu Sri, ada warga yang baru pindah ke kampung tersebut. Warga itu tak mau menanam, dengan alasan malas menyiram tanaman. Ibu Sri lantas menjelaskan dengan baik-baik, kalau peraturan di Sunter Jaya RW 01, setiap warga harus menanam tanaman di rumahnya. Kalau warga tersebut malas menyiram, Ibu Sri bersedia membantu menyiram. Hal itu pun dilakukan Ibu Sri. Setiap sore ia menyiram tanaman warga tersebut hingga tanamannya tumbuh subur. 

Seiring berjalan waktunya, entah karena malu, gak enakan, atau mulai sadar akan cinta lingkungan, warga tadi justru bilang ke Ibu Sri: ‘Bu, gimana kalau rumah saya dibikin taman aja ya. Dan ada air mancurnya juga’.  Ibu Sri tentu saja kaget sekaligus mendukung keinginannya. ”Oh, boleh kalau bisa ada kolam ikannya juga, biar jadi taman gizi,” saran Ibu Sri.

Rumah itu pun kini menjadi hijau dengan taman indah, yang awalnya sang tuan rumah menolak bertanam. Tak hanya itu, saat Ibu Sri main ke belakang rumah warga tadi, pemandangan indah lainnya ia dapatkan juga. “Saya kaget, di belakang rumahnya penuh dengan tanaman, rupanya virus positif yang saya tularkan mampu menggugah warga tadi untuk menanam,” ceritanya.

Bahkan, ketika kerja bakti dan warga tadi tak bisa ikut karena suatu alasan tertentu, maka dia akan memberi minuman atau makanan untuk warga yang kerja bakti. “Dia mengerti, kalau gak ikut kerja bakti, ya harus diganti dengan membantu menyediakan makanan/ minuman, walaupun tidak dianjurkan atau dipaksa.”

Salah satu gang di RW 01 Sunter Jaya

Ya, untuk menjadikan kampung pro iklim ini makin berseri, kerja bakti di lingkungan RT diadakan seminggu sekali, sedangkan kerja bhakti massal sebulan sekali. Untuk mencegah banjir, ada sekitar 250-an lubang biopori yang dibuat. Namun karena proses pengurukan yang dilakukan pemerintah, menurut Ibu Sri, kini tinggal 50 lubang biopori. Di halaman bank sampah pun ada 3 lubang biopori.

Sementara tong Penampung Air Hujan (PAH) juga ada di beberapa titik gang dan jalan. Tong-tong PAH itu, salah satunya adalah pemberian dari Astra.

Untuk warga yang ingin membuang sampah sayuran dan menjadikannya pupuk kompos cair, tong komposter pun disediakan. Dari 24 RT, disediakan 80 tong komposter. Tong-tong itu, selain dari Pak Tarno ada juga sumbangan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Warga yang ingin mencari bibit untuk menanam, tinggal datang saja ke rumah Pak Tarno. Tanaman TOGA yang memenuhi halaman bank sampah pun, bibitnya ada yang diambil dari Pak Tarno.

Duet hijau Sang Guru Sampah dan Ibu Pelopor Sampah, menghasilkan kampung yang bergelora dengan penghijauan dan menyulap sampah menjadi sesuatu yang berguna. “Kalau gak ada motivatornya, gak akan berkembang, mbak,” ujarnya.

Yup, Ibu Sri dan Pak Tarno adalah salah salah motivator warga di Kampung Proklim RW 01 Sunter Jaya ini. Tak hanya sama-sama mengelola sampah, tapi lebih dari itu ada hubungan mutualisme atau saling menguntungkan di antara mereka. Tapi mutualisme yang positif tentunya, demi kesejahteraan warga dan kesejukan kampung, agar tak menjadi tandus di tengah panasnya ibu kota.

Berkat pembinaannya itu, kampung padat ini pun menjadi Juara 2 Kampung Berseri Astra (KBA)-Binaan Astra se-Indonesia dan mendapat Bintang 4,  serta Juara 3 Kampung Berseri Astra (KBA) Tingkat DKI  pada 2016.

Ibu Sri sedang mewarat bibit di pekarangan bank sampah

Ibu Sri, dari remaja senang menanam. Dulu ketika ia masih tinggal di Semarang, tetangganya tertular kebiasaan menanamnya. Lalu, Ia berpikir kenapa kebiasaan menanamnya tak diterapkan juga di Kampung Proklim Sunter Jaya?

“Sebelum jadi Bu RW, saya sudah punya program, untuk ke depannya menjadikan RT 13 sebagai kampung wisata. Dan suami saya (yang saat itu ketua RT 13) gak tahu rencana saya,” ucap Sri yang sejak 1990 sudah tinggal di Sunter Jaya.

Keinginannya terwujud! 

Kampung ini pun menjadi kampung wisata. Tak hanya untuk kalangan Jakarta dan Indonesia saja tapi juga menjadi kunjungan wisata oleh pejabat, pegiat lingkungan dan mahasiswa dari mancanegara.

“Tamu yang datang ke sini dari China, Malaysia, Thailand, Chili, Jepang, India, Amerika, Pakistan dan lain-lain. Mereka datang ke sini untuk studi banding karena RW 01 Sunter Jaya adalah RW unggulan di Jakarta,” jelasnya.

Ada juga mahasiswa dari Eropa, Belanda dan Jepang yang datang ke sini lho. Menurut Ibu Sri, tujuan kedatangan mahasiswa biasanya untuk skripsi bank sampah. Meski keterbatasan Bahasa Asing, namun perempuan yang aktif berorganisasi sejak remaja ini, tak surut menjelaskannya dengan cara yang mudah dimengerti.

“Saya pakai bahasa isyarat menjelaskan kepada mahasiswa asing soal grafik yang meningkat, mereka paham maksud saya dengan menunjukkan jempolnya,” cerita Ibu Sri sambil tertawa. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama jajarannya juga menyempatkan berkunjung ke sini pada Januari 2019 lalu. Menurut Sri, Anies kagum dengan penghijauan kampung Proklim Sunter Jaya, serasa berada di daerah. “Saya di mana ini? Hijau semua,” kata Sri menirukan ucapan Anies. 

Potret kunjungan dari mancanegara dan Gubernur Anies

Cetar membahananya kampung ini dengan penghijauan dan pengelolaan sampah, membuat salah satu kementerian di Amerika kepincut meliput kampung ini sebagai iklan pariwisata pada Mei 2019 lalu.  Dan iklan itu ditayangkan setiap sore di salah satu TV di Amerika. Satu lagi pencapaian, betapa wisata kampung ini tersebar dan ditonton orang hingga ke luar negeri.

Salah satu sebabnya #IndonesiaBicaraBaik di kancah Internasional melalui tamu mancanegara yang datang, lewat gerakan yang dilakukan Ibu Sri, Pak Tarno dan warga Sunter Jaya. Karena #KitaSATUIndonesia, maka geliat Ibu Sri dan warga Sunter Jaya mewakili ikon penghijauan  bangsa Indonesia.

“Suatu kebanggaan bagi saya, terpilih untuk Iklan Pariwisata DKI Jakarta, salah satunya perkampungan RW 01 Sunter Jaya, untuk ditayangkan di TV Amerika”

“Livi Zheng, salah satu kru Film dari Amerika, saat syuting mengatakan kepada saya kalau dari sekian tempat yang ia kunjungi, penduduk yang menerima krunya dan sambutannya yang paling berkesan ya di Sunter Jaya. Sederhana tapi menarik, sambutannya, keluguannya dan tanggung jawabnya,” kata Ibu Sri menceritakan pengalaman syutingnya bersama kru dari Amerika.

Kenangan saat syuting iklan pariwisata bersama kru USA

Saya teringat dengan motto hidup Penyanyi asal Indonesia yang Go International Agnez Mo: Dream, Believe and Make it Happen. Itulah kini yang meronai Ibu Sri dan cita-citanya. Gaya bicaranya yang luwes, ramah dan gaul pun membuatnya dijuluki “Bu RW Gaul” oleh warga. Keluwesan dan support itu ia lakukan sejak suaminya menjabat sebagai Ketua RT 13, kemudian menjadi Ketua RW 01 sejak 6 tahun lalu.

Dua periode kepemimpinan mendampingi suami sebagai Ketua RW 01 Proklim Sunter Jaya ia lalui. Prestasi tingkat kota dan nasional pun disabet, diantaranya:

-Juara 1 Lomba LBS (Lingkungan Bersih Sehat) mewakili RW 01, Tingkat Nasional (2018)
-Juara 1 Penyuluhan ASI Tingkat Kota (2017)
-Juara 1 Pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat) (2017)
-Juara 1 pemberian PMT (Penyuluhan Makanan Tambahan) (2017)
-Juara 3 Kampung Pro Iklim Tingkat Nasional (2016)
-Juara 1 Kampung Pro iklim Tingkat DKI Jakarta (2015)
-Juara 2 Mandiri Kotaku Bersih Jakartaku (MKBJ) Tingkat DKI (2011)
-Juara 2 Kampung Berseri Astra (KBA)-Binaan Astra se-Indonesia (Bintang 4)
-Juara 3 Kampung Berseri Astra (KBA) versi pemerintah
-Juara 3 Kampung Berseri Astra (KBA) Tingkat DKI (2016)
-Juara 2 PKK Posyandu Balita dan Senam kreasi Tingkat DKI
-Juara 1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tingkat Provinsi (2014)

“Karena sudah mandiri, kini target saya menuju atau menjadi (kampung) Lestari. Dan syaratnya, saya harus mempunyai minimal 10 daerah binaan, baik di Jakarta atau di luar kota di Indonesia,” harapnya.

Semoga keinginanmu tercapai, Bu!


 #KitaSATUIndonesia  #IndonesiaBicaraBaik