Featured Slider

Otot Menegang di Malam yang Tegang


Pukul 1 dini hari


Sunyi senyap. Tak ada yang menemani. Saatnya beranjak ke kasur untuk tidur. Baru saja tubuh menyatu dengan kasur, eh tetiba kepala dan pundak tegang atau kaku hingga susah digerakkan. Panik langsung menyerang. Ada apa ini? Kenapa gak bisa menoleh ke kiri atau ke kanan seperti mati rasa hingga bagian bahu?  





Sendirian di rumah. Di Bekasi. Suami sedang pergi ke Bogor mendampingi muridnya yang berkegiatan di sana. Keluarga inti ada di Solo. Sepupu terdekat ada di Jakarta Selatan.

Karena takut dengan otot yang tegang dan kaku itu, yang ada di pikiran ya ke rumah sakit. Kartu BPJS, kartu asuransi serta ATM dan pernak-pernik lainnya untunglah  tersimpan di dompet. Jadi tak perlu repot mencari-cari dulu yang akan membuat suasana makin tegang dan riweh.

Ingin rasanya membangunkan tetangga, minta tolong. Namun mengingat saat itu sudah larut, niat itu diurungkan. Terpaksa sendirian menyusuri jalan cluster komplek menuju pintu gerbang. Langkah kaki menghampiri satpam yang berjaga di pos gerbang komplek. "Tolong antar saya ke rumah sakit, Pak. Kepala saya kaku. Saya sendiri". Untunglah satpamnya bersedia.

Menegangkan sekali malam itu. Tegang, setegang otot yang dirasakan dari kepala hingga bahu.

Malam yang tegang itu dialami teman kantor saya, Wydia.

Bukan Wydia yang ada dalam cerita KKN di Desa Penari ya, hahahha. Kalau cerita versi Wydia yang ditulis akun twitter Simple Man, bukan hanya bikin otot yang tegang, hati dan pikiran juga tegang karena larut dalam ceritanya, hehehe.

Wydia tiba di rumah sakit jam 2 dini hari. Ia tak langsung dapat kamar inap karena kudu antri untuk mendapat kamarnya. Jadi, ia harus ‘mondok’ di kamar UGD dulu. Sudahlah ia sendirian karena tak ada keluarga yang menemani, apa-apa dia mesti ngurus sendiri pula. Jam 6 sore, barulah ia dapat kamar. Artinya 16 jam ia harus menunggu di ruang UGD. Drama banget dah.

Suaminya di Bogor cemas dan tak bisa pulang ke Bekasi karena ada tugas, Wydia pun ditelponin melulu. Teman di kantor gak kalah sibuk menelpon rumah sakit memastikan keadaannya. Sementara adiknya Wydia sedang dalam perjalanan dari Solo ke Bekasi untuk menemaninya selama di rumah sakit.

Begitulah......


Karena “ketegangan” ini, Wydia harus dirawat di rumah sakit selama tiga malam. 

Di hari kedua, kami para teman kantornya yang manjah dan ngangenin ini baru sempat menjenguknya. Hari itu tepat ulang tahun Wydia yang ke.....

Kue ulang tahun syantik dan imut pun menjadi buah tangan kami saat membesuknya.

Wydia ulang tahun di rumah sakit

Dokter bilang, Wydia mengalami Cervical Root Syndrome (sindrom akar syaraf leher) atau bahasa awamnya frozen shoulder (bahu kaku) hingga tak bisa menoleh ke kanan dan ke kiri.

Dari hasil pemeriksaan lainnya, syaraf leher Wydia tidak kejepit atau tidak ada penyempitan. Tulang dan leher tidak osteopororis, dan kondisi jantung juga baik.

Saat geng kantor membesuk Wydia


“Sakit orang modern,” kata Wydia bercanda menirukan ucapan dokter. Dan penyakit ini, kata dokter yang memeriksa Wydia, cukup banyak dan meningkat.

Rupanya, orang yang ngerasa kerjanya gak berat atau tak membutuhkan tenaga fisik yang besar perlu mewaspadai hal ini

 
Wydia dan saya, sama.

 

Di kantor bisa mengetik hingga berjam-jam atau duduk di depan komputer dalam waktu lama. Anda juga?

Beruntungnya saya selalu menyelingi aktivitas mengetik atau ‘ngetem’ di depan kompi itu dengan mengambil air minum di pantry. Jarak pantry dari tempat duduk saya sekitar 50 langkah.

Atau saya selingi dengan beli kopi di warung dekat kantor, ke ATM atau ‘wara-wiri’ di seputar ruangan kantor. Jadi gak terlena di depan kompi. Cukuplah Ike Nurjana saja yang terlena.

Selain itu, saya juga mau menyelamatkan mata saya dari paparan komputer, karena mata terasa lelah dan pegal jika tanpa istirahat menatap layar datar itu. Maka itu saya harus lari sejenak dari kompi.

Nah, kalau Wydia?

Dia bisa berjam-jam depan kompi tanpa beranjak. Kecuali mau pipis atau ada keperluan penting.

Makan pun ia santap di meja kerja. Dan untuk merelaksasikan pikirannya, ia isi dengan nonton film di youtube, ya via kompi juga. Artinya ia tetap duduk di depan kompi. 

Wydia lagi kerja

Karena kebiasaan Wydia yang betah depan kompi, Ia pun dinasehati dan diberi saran oleh dokter.

Menurut dokter, maksimal waktu yang digunakan untuk mengetik atau berada di depan komputer adalah 4 jam. Sedangkan Wydia, bisa sampai 8 jam sehari lho.
 
“Tips dari dokter: setiap 2 jam sekali harus meninggalkan meja atau bergerak dan tidak duduk. Harus istirahat dulu. Postur tubuh harus tepat saat duduk di depan kompi.

Nah, per 1 jam-nya, ada latihan dengan streching atau pelemasan. Misal menoleh ke kanan, ke kiri dan menunduk, masing-masing 8 kali dan dilakukan 3 set,” kata Wydia.

Hampir dua minggu berlalu, meski sudah bisa beraktivitas normal, Wydia masih dalam masa kontrol dengan menjalani  fisioterapy dan mengkonsumsi obat.

Duh, ngeri-ngeri sedap ya. Otot kaku datang tiba-tiba tak mengenal waktu. Untung saja yang dialami Wydia hanya dari kepala hingga bahu. Jadi ia masih bisa berjalan. Gimana kalau otot kaku seluruh badan. Ya tuhan, semoga jangan sampai terjadi.

Pelajaran banget nih untuk sering melemaskan otot di waktu senggang (satu sampai dua jam sekali) terutama bagi yang bekerja menghabiskan waktu lama di depan kompi.

Nah, Anda pernah mengalami otot atau bagian tubuh yang  kaku juga?

Cepet sembuh ya Wydia

Mati Lampu


Tamunya sih gak keberatan mbak pijitan dalam kondisi gelap-gelapan dan AC gak nyala. Lah, kitanya yang bakal enggap dan keringeten. Pakai AC saja masih keringetan saat memijat apalagi AC mati

Itu tadi cerita Mbak Dina, salah satu terapis di tempat massage langganan saya di daerah Rawamangun, Jakarta, Rabu (7/8/2019). Ia bercerita soal pemadaman listrik yang terjadi di sebagian Pulau Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan  sekitarnya) pada Minggu (4/8/2019). 

Di tempat massage ini, listrik padam selama 9 jam. Karena tempat kos saya tak jauh dari kawasan ini, maka saya pun idem, merasakannya selama waktu itu.

Jadi kemarin, semua terapis hanya menerima satu pelanggan saja. Itu pun pelanggan yang pertama datang. Setelah itu kami gak nerima lagi, karena panas dan keringetan, meski tamunya mau-mau saja dipijat dalam kondisi gelap-gelapan” tambahnya.


Biasanya, Mbak Dina dan rekan-rekannya, dalam sehari bisa menerima 4 tamu. Melayani satu tamu biasanya menghabiskan waktu 1,5 hingga 2 jam, tergantung permintaan.

Dengan kondisi aliran listrik yang terputus, ia dan rekan-rekan ya hanya nganggur saja di tempat massage. Meski para tamu tetap berdatangan namun mereka tolak dengan alasan di atas.
 
Ilustrasi


Kebelet mau buang air besar, sementara air tak ada karena PDAM ikutan mati, Mbak Dina pun mengangkut air galon dari lantai bawah ke atas. (Kamar mandi cewek ada di lantai atas). Air galon itu harusnya digunakan untuk air minum para pelanggan di tempat massage itu. Karena keadaannya terpaksa, ya mau gak mau menggunakan air itu untuk bebersih.

"Ngangkut sendiri mbak galonnya? Kuat? Gak minta bantuan terapis cowok?" Tanya saya.

"Untungnya kuat, mbak!" ujarnya sambil memijat kaki saya.

Kebayangkan galon segitu beratnya, saya aja gak kuat ngangkatnya, hahahha.

Sampai pukul 6 sore, lampu belum menyala juga, Mbak Dina dan rekan-rekanya pun menuju ke pasar swalayan terdekat, numpang ngadem, katanya.

Ya, tak cuma Mbak Dina saja yang mencari mall atau pasar swalayan besar, rata-rata orang pada ngacir semua ke mall, termasuk teman kos saya. Karena di pasar swalayan/ mall, lampu dan AC tetap menyala kerena mereka gunakan genset atau BTS, atau apa gitu deh istilahnya, hihihi. Pokoknya nyala aja kalau di pasar swalayan atau mall.

Maka itu, orang-orang pun berbondong bondong ke mall buat ngadem dan numpang sholat.


Saya mau ke mall ah, mau numpang sholat, setelah tadi saya sempat tayamum” ujar salah satu temen kos saya.

Nah, kalau saya saat listrik mulai mati sekitar pukul 12 siang, sedang membersihkan kipas angin. Saya membersihkannya dengan air yang mengucur dari keran di teras rumah. 

Air tiba-tiba mati, saya pikir mesinnya rusak atau ada yang matiin, ternyata karena listrik mati. Untunglah saat itu sudah tahap proses akhir pembersihan. 

Setelah bersihin kipas angin, saya mau mandi. Rencananya sih gitu, eaaaalah lampu mati. Daripada manyun dalam kamar, duduk syantiklah saya di ruang tamu sambil main hape dan memesan go food.

Saat itu, sekitar pukul 2 siang, meskipun mati lampu tapi jaringan telepon seluler masih ada, makanya bisa pesen go food. Eh, pas jam 4 sore, beneran ilang dah semua jaringan. Batre ponsel pun tinggal sedikit.

Sampai pukul 5 sore, ketika lampu tak kunjung menyala, saya kepikiran untuk main ke Mall Ambassador yang ada di Jakarta Selatan buat pijitan/ massage. Tujuan utamanya sih buat numpang ngecas ponsel dan numpang mandi. Karena di tempat massage itu, ada fasilitas spa, bak air panas dan tempat mandi tentunya.

Tapi, karena tak bisa memesan ojek online akibat putusnya jaringan, bikin saya ragu. ‘Kalau naik Transjakarta, wah bakalan lama nih perjalanan. Bisa-bisa sampai di sana sudah kemaleman, sementara saya butuh cepat” batin saya bilang begitu.

Lalu, dari belakang dinding kos, terdengar ada suami yang bilang sama isterinya ‘Gak usah ke mana-mana, jalan pada macet karena lampu merah gak berfungsi”.

Iya juga ya, bro. Kalau saya pergi ke mall tersebut, selain tak bisa memakai jasa ojek online, saya pun akan menemukan kemacetan.

Ya sudah, akhirnya saya memilih bertahan di kosan. 

Saya cuma pergi ke warung buat beli air kemasan besar buat pipis, cuci tangan atau cuci  muka. Rupanya tak hanya saya yang mencari air, bahkan beberapa orang yang ke warung barengan saya, mau beli air galon, tapi warung-warung sudah kehabisan stok semua karena diborong orang, hihiih. 

Oh ya, satu lagi barang yang dicari orang: lilin! Ini juga banyak toko yang kehabisin, hehehe.


Yang dicari ketika mati lampu

Saya sedang bobok-bobok syantik dan manjah, ketika cahaya lampu di kamar menyala, teraaang! Sekitar pukul 21.00 WIB teng. Terdengar ucapan "Alhamdullilah' dari beberapa penjuru rumah kos.

Legaaaaaaa banget rasanya. Saya langsung mandi dan ngecas HP. Untunglaaaah gak sampe besoknya baru nyala. Untung juga gak jadi ke Mall Ambassador demi numpang mandi, hahahaha.


Banyak kisah dari padamnya listrik secara serentak dan massal di sebagian Pulau Jawa pada Minggu itu. Pemadaman listrik terjadi selama 6 sampai 9 jam. 

Di tempat saya, terputusnya aliran listrik mulai pukul 12 siang, dan menyala lagi jam 9 malam teng. Tak ada yang menyangka kalau listrik akan mati selama itu. Selama ini, kalau pun mati ya paling 30 menit atau 2 jam. Lah, iki sampe 9 jam mas bro. Sampai Presiden Jokowi mendatangi kantor PLN untuk menanyakan penyebabnya.

Listrik mati bikin kagok sendiri. Apalagi, dampaknya merembet ke hal-hal lain. Misal, air pun ikut-ikutan mati. Di tempat saya pakai pompa air listrik, jadi kalau listrik mati, ya selesai urusan.


“Kupikir tetangga sebelah airnya tetap nyala, karena PDAM. Jadi bisa numpang ambil wudhu atau buang air kecil. Eh, gak tahunya mati juga” ujar salah satu teman kos.

Selama ini kita yang tinggal di kota besar terbiasa hidup dengan fasilitas lengkap yang disediakan negara: listrik, air, transportasi, jaringan internet, ATM/perbankan, dll. Dengan terputusnya aliran listrik, maka ‘meniadakan semuanya” dan berimbas pada pelayanan publik dan pelayanan digital. Pelaku usaha, paling terkena imbasnya.

Belum lagi kehebohan di medsos, tagar  #Matilampu dan #Matilistrik jadi trending topic di linimasa kemarin. Ya, itu karena kegelapan melingkupi Ibu Kota Jakarta di akhir pekan.

Ada juga yang bercerita soal ikan koinya yang mati semua, karena listrik mati. Salah satunya dari cuitan Sejarawan JJ Rizal di bawah ini yang saya capture dari akun twitter @JJRizal juga akun @icccxa.




Lalu, netizen pun berdebat soal kinerja PLN. Ada yang membela, juga ada yang nyinyir dan menyalahkan.

Rame dah pokoknya. Bahkan sampai 4 hari setelah pemadaman listrik berjam-jam di sebagian Pulau Jawa itu pun, masih rame diperbincangkan orang, baik di medsos maupun dunia nyata.

Untunglah pemadaman listrik secara massal ini  terjadi di hari libur atau akhir pekan. Bayangkan kalau terjadi di hari kerja?

Lagi berada di lift lantai 30, eh listrik mati. Apa kabar yang ada di dalam lift? Apa kabar juga kalau karyawannya mau turun atau naik ke lantai atas? Ya kudu naik tangga secara manual ke lantai 20 atau 30. Oh betapa capek dan ngos-ngosannya.

Lalu, pas pulang kerja/ kuliah eh..gak bisa pesen ojek online, karena jaringan gak ada. Mau naik angkutan umum lain, kudu jalan lagi, belum lagi harus berdesakan dengan penumpang lainnya. Eh, pas ngerogoh kocek, yach.... gak bawa uang cash. Mau ke ATM, mesinnya mati!

Yuhu, alangkah berdobel-dobel ‘apesnya”.


Tapi untunglah...ya untunglah terjadi di hari libur. Tuhan maha tahu kondisinya akan seperti apa. Semoga ada hikmahnya.


Nah, kalau Anda, apa cerita Anda saat mati lampu selama 9 jam beberapa hari lalu?

Nyalalah terus wahai lampu



Yuk, TUKAR BAJU, Kamu Mau?

Saya langsung tertarik ketika teman kantor saya, Vitri, mengajak saya untuk ikut “TUKAR BAJU”. Saya semakin tertarik lagi ketika ia menjelaskan seperti apa 'aturan main' dan  proses “TUKAR BAJU”. Vitri mendapatkan informasi tersebut dari temannya.

Iya, TUKAR BAJU, bro!

Baju kamu ditukar dengan baju orang lain, asal jangan hati kamu aja yang ditukar, eaaaaa....

Kamu mau, baju kamu ditukar dengan baju-baju ini?

Tukar Baju

Kamu bawa 5 baju, maka akan mendapatkan 5 baju juga!  Tapi, bukan saling bertukar baju secara individu.
Baju kamu dan baju peserta lain, diberikan kepada panitia. Setelah lolos pemeriksaan, panitia akan memajangnya secara acak.
Selanjutnya silahkan pilih baju dari sesama peserta di TUKAR BAJU!

Saat memutuskan untuk datang ke acara ini, saya tak perlu repot lagi memikirkan soal baju apa yang akan saya tukarkan? Yang mana? Saya taruh di mana ya itu baju?

Karena sesungguhnya saya sudah lamaaaaaaa sekali memisahkan baju yang tak terpakai lagi atau yang sudah kekecilan ke dalam kantong khusus.

Ketika tahu ada acara Tukar Baju ini, ya saya tinggal buka aja kantongnya, lalu saya pilih yang mana saja yang layak untuk saya tukarkan nantinya. Beres! Tak perlu ngubek lemari lagi.

Aturan mainnya, maksimal baju yang harus ditukarkan 5 lembar, namun saya membawa sekitar 8 baju. Kenapa? Ya buat cadangan aja, kalau-kalau ada baju saya tak lolos akurasi/ persyaratan. Karena nanti, baju yang akan ditukar akan diperiksa atau diakurasi lebih dulu oleh panitianya. Jadi, kalau saya bawa pas-pasan 5 lembar, lalu ada yang gak lolos akurasi, saya cuma dapet 4 point atau 4 baju saja dong jadinya. Kan sayang.

Tibalah saya ke tempat acaranya di DBS Tower, kawasan Kuningan, Jakarta, Sabtu (27/7/2019). Acaranya di lantai 34 cuy, gile, tinggi bingit ya. Lumayan melihat Jakarta dari ketinggian segitu.

Acara tukar baju dimulai dari jam 10 WIB, namun saya tiba di lokasi sekitar pukul 12.43 WIB. Acara selesai jam 17 WIB. Karena tempatnya di lantai 30-an, kudu naik lift dong, gak mungkin naik tangga biasa, bisa membengkak betisku yang imut ini nanti, hahahha..

Di dalam lift yang saya tumpangi, ternyata ada beberapa perempuan yang juga menuju ke lantai 34 sambil membawa kantong besar seperti saya. Dalam hati “Jangan-jangan mereka juga mau ikutan TUKAR BAJU?”

Lift melaju dengan lancar dan cepat menuju lantai 34.

Satu langkah keluar dari lift.... eaaalahhh... ternyata disambut dengan  antrian yang panjang, beb. Iya, tak jauh dari pintu lift, berjejer dengan syantik dan teratur para perempuan dengan usia rata-rata 20-40-an sambil membawa tas ransel dan tas bahan. Diduga keras, tas yang mereka bawa berisi baju-baju yang akan ditukarkan, hahahha...


Antri

Dan para perempuan yang barengan naik liftnya dengan saya tadi, betul dugaan saya, merekapun ikut acara ini, karena mereka antri juga di belakang saya, hihihih...

Antrian panjang sekitar 50 meter pun didominasi perempuan. Lelaki ada sih, tapi terlihat cuma satu atau dua orang.

Nunggu antrinya, ada kali 30 menitan. Antriannya itu adalah, agar tak berjubel di dalam.

Lalu, ketika sampai di dalam, kudu antri juga untuk akurasi baju oleh panitianya, seperti yang saya jelaskan tadi. Nah, ini kan memerlukan waktu yang tak sebentar. Bisa 2-4 menit prosesnya untuk memeriksa sekitar 5 baju yang dibawa per orang. Tapi untungnya ada 3 orang yang bertugas untuk mengecek kelayakan baju. 

Nah, kalau ini posisinya sudah ada di dalam area Tukar Baju,. tapi kudu antri untuk akurasi/ pemeriksaan baju

Melihat begitu panjangnya antrian, saya tak menyangka begitu ramai dan antusiasnya yang ikutan acara ini. Saya pikir, paling yang datang cuma sekitar 20 atau 30-an orang. Ternyata, rame beb, ada kali 100-an orang mungkin lebih.

Nah, ketika saya masih antri, terlihat ada beberapa orang peserta yang keluar atau pulang karena sudah selesai tukar bajunya. 

Jadi, yang datang dari pagi, tentu saja sudah lebih dulu berkesempatan menukar bajunya dan tentu juga lebih duluan selesai. Begitu polanya. Ada yang pulang, ada lagi yang baru datang.

So, yang datang siangan, ya berpotensi mendapatkan baju dari peserta yang datangnya juga siang. Begitupun yang datang lebih pagi, berpotensi mendapatkan baju dari peserta yang datangnya pagi juga. Kira-kira begitu perputaran bajunya, jadi yang datangnya siangan, gak bakal kehabisan stok. 

Proses akurasi/ pemeriksaan baju


Peserta yang baru datang dan menyerahkan bajunya utnuk diakurasi

Nah, saat baju saya diakurasi, ada yang gak lolos satu euy. Sebabnya, ada benang yang terburai dengan manjah di bagian tali pinggang. Jeli juga si mbaknya, sampe talinya pun dia periksa, hihihi.. Untung diri ini bawa baju lebih. Setelah itu, si mbaknya menawarkan apakah ada baju yang mau didonasikan?

Lalu saya tanya “ boleh gak baju yang tak lolos akurasi tadi saya donasikan?"

Mbaknya menggelengkan  kepala.

"Baju yang akan didonasikan pun harus baju yang lolos akurasi alias tetap diperiksa juga" katanya.

Baeklah....

Dua baju sisa, saya donasikan, Alhamdullilah lolos semua. Salah satu baju yang saya donasikan berlengan panjang. Sampe ujung tangannyapun diperiksa sama si mbaknya, takut-takut kalau ada yang sobek atau rusak kali ya. Luar biasa jelinya. Tapi bagus sih, jadi baju yang ditukarkan beneran layak dan bagus.

‘Meskipun mbak ngasih 7 baju (5 plus 2 donasi), tapi mbak tetap hanya dapat 5 koint ya, sesuai peraturan,” ujarnya. 

“Syiap mbak, gak masalah kok, karena sudah tahu jumlah maksimal per orang cuma 5 lembar jatahnya,“ kata saya dalam hati. Hehehhe...

Nah, ini baju pink saya yang sedang diakurasi dan baju ini juga yang gak lolos, hehehe

Setelah baju saya diambil sama panitia, mulailah saya "belanja" baju.

Baju yang dipajangkan, saya lihat kebanyakan blus atau atasan. Gaun, ada sih cuma 1 atau dua aja. Sweater juga ada walau sedikit. Baju terusan dan jumpsuit juga ada. Rok panjang dan pendek, serta celana panjang juga banyak. Walau tak sebanyak jumlah baju tentunya.

Penempatan warna baju juga diatur sedemikian rupa, biar terlihat rapi dan menarik. Misal, baju merah digantung sejejer dengan baju merah lainnya. Begitu juga untuk warna biru, kuning atau baju batik, digabung dengan sesama batik. Kalau untuk modelnya, dicampur.



Nah, tempat pajangan baju atau atasan dipisah areanya dengan pakaian bawahan. Gak jauh sih jaraknya, cuma dipisah oleh meja registrasi, meja akurasi dan meja kasir aja.

Kalau baju dipajangkan dengan menggantungnya, kalau bawahan ditaruh di atas meja bundar. Meja untuk menaruh rok berbeda dengan meja untuk celana panjang/ pendek. Jadi tertata. Walaupun susunannya rada berantakan sih, karena sudah banyak dipegang-pegang atau dipilah-pilih peserta.

Meja celana jeans
meja rok
Area untuk bawahan

Acara ini tidak menyediakan fitting room, jadi kalau mau mencoba baju, ya langsung dipakaikan dobel sama baju yang sedang dipakai. Kalau kaca, ada.

Setelah pilah-pilih sana-sini, bolak-balik ke area baju dan bawahan, dengan menimbang dan memutuskan, akhirnya saya mendapatkan 3 baju, 1 rok dan 1 celana jeans. Yipiii! Paling seneng banget dapat jeans. Karena yang ukurannya pas dengan badan kita susah toh.

Tiga baju yang saya dapatkan, semuanya wangiiiiiii semerbak. Duh, kayaknya yang ngasih baju-baju ini sudah syiap banget ya untuk bikin penerimanya seneng, hehehhe..

Sedangkan celana jeans yang saya dapat, gak ada bagian yang cacat atau lusuh. Kondisinya masih bagus bingits kayak belum pernah dipakai.  Beruntung banget daku.

Terima kasih buat yang sudah nuker baju-baju di bawah ini.

Pilihanku di Tukar Baju

Kok model baju-baju di atas tangan kalong semua? Iya, saya memang mengincar model tersebut.  Karena tubuhku besar, beb. Lenganku juga montok. Maka itu, untuk menutupi lenganku yang jumbo ini, itulah alasannya mengapa memilih yang model tangan kalong, hahaha...

Proses untuk mendapatkan kelima baju itu, gak gampang. Sampai akhirnya memutuskan, oke, inilah yang saya pilih. Karena, kalau mau diturutin, masih penasaran dengan baju-baju yang baru berdatangan dan baru digantung/ dipajang.

Saat pertama saya mendatangi area bawahan, misalnya, langsung dapat satu rok yang pinggangnya ukuran saya, namun kalau untuk celana panjang jeans, saya lihat kecil-kecil ukurannya, mana cukup untuk tubuhku yang bongsor ini.

Lalu, saya kembali lagi ke area baju. Eh, ada baju yang baru dipajangkan, dan saya suka. Jadi saya harus menukarkan salah satu baju yang sudah saya pilih sebelumnya, karena ada yang lebih bagus lagi. Begitu seterusnya. Peserta yang lain pun idem. 

Mari pilah pilih.....

Nah, proses pemilahan baju-baju ini, tentu saja tak sebentar, walaupun jejeran baju yang digantung cuma 4 jalur, tetep aja kudu jeli memilahnya sambil menunggu baju-baju yang lain yang baru datang.

Di masa menunggu itu, saya bolak balik main lagi ke area bawahan, ehmm....masih gak nemu juga yang pas. Balik lagi ke area baju, begitu seterusnya.

Gak pake berebutan kok sama peserta lain. Santai saja memilahnya. Kan ukuran badan dan selera masing-masing orang beda-beda. Tapi, siapa cepat ya dia dapat. Saya melihat, ada yang hanya borong celana panjang saja atau ada yang cuma memilih baju semua.

Sampai akhirnya, saat sudah kecapekan dan mau pulang, saya kembali ke area bawahan, eh...nemu ding si celana jeans yang masih bagus itu. Sempet ragu, jangan-jangan gak muat nih. Mau nyobanya males. Ya udah deh ambil aja, kalaupun gak pas, yah siapa tahu nanti saya kurusan jadi bisa pas itu jeans, pikir saya. Eh, pas saya coba di rumah, jeans dan ketiga baju yang pilih pas semua di badan, Happpyy bingit deh

Seru, asik dan bermanfaat acaranya. Dan saya bahagiaaaa... Yippii...



Kampanye Tukar Baju ini diadakan komunitas Zero Waste Indonesia dan didukung DBS Bank.  Salah satu tujuannya untuk mengatasi atau meminimalisir limbah tekstil/ pakaian. Tahu dong ya, ada begitu banyaknya jumlah baju yang sering dibuang bila si pemilik bosan atau tak mau lagi menggunakannya.

Iya, perkembangan mode atau model baju kan pesat banget ya di Indonesia, Nah, biasanya baju model lama akan ‘disingkirkan’ hingga menumpuk di lemari. Daripada sia-sia (terbuang atau tak terpakai) ya mending diberikan atau ditukar dengan orang yang membutuhkan.

Kalau ada baju yang tersisa dari acara ini, maka akan disalurkan kepada yang membutuhkan. Misalnya, jika ada kebakaran atau bencana alam, komunitas ini akan langsung memberikannya, tanpa harus menunggu sumbangan dulu dari masyarakat, jadi aksinya lebih cepat.

Teman saya Vitri, yang saya sebutkan di awal, sempat ngobrol dengan Mbak Amanda Zahra Marsono, Founder Zero Waste Indonesia sekaligus Project Officer acara tersebut

Menurut Vitri, Mbak Amanda ingin sekali punya Toko #TukarBaju. Toko fisik maksudnya. Jadi kalau ada yang mau menukar baju, ya  bisa langsung datang ke toko tersebut, gak perlu harus nunggu acara Tukar Baju dulu.

"Cuma kendalanya, ya harus nyari tempatnya dan orang yang bertugas menunggu toko tersebut," kata Vitri menirukan ucapan Amanda.

Tapi, kita bisa kok membantu Mbak Amanda dan rekan-rekannya untuk mewujudkan Toko Tukar Baju dengan memberikan donasi di Kita Bisa  >>  https://www.kitabisa.com/tukarbaju





Oh ya, ini syaratnya buat "TUKAR BAJU”

Baju yang ditukar tak boleh lusuh atau rusak, tidak ada yang sobek, tidak ada noda, gak boleh ada kancing copot, jangan ada benang yang terburai manjah, dan bukan baju kaos oblong, karena kalau kaos oblong gampang terlihat dekilnya. Dan bajunya harus bersih atau sudah dicuci.

Yah, namanya juga buat ngasih orang kan, jadi harus sopan. Walaupun orang lain yang ikut “TUKAR BAJU” ini adalah orang yang tidak kita kenal, tapi anggap saja kita memberikan baju itu untuk saudara, teman atau orang terdekat. Jadi harus bersih dan bagus keadaannya.

Nah, baju-baju yang boleh ditukar, seperti blus, jaket, kemeja,  bawahan (rok, celana panjang/pendek), jumpsuit dan lain-lain.

Ukurannya boleh apa saja, mau kecil atau besar, dan untuk semua gender. Tapi kebanyakan baju cewek sih, wong yang nyerbu juga cewek semua, hehehhe

Namun, acara TUKAR BAJU ini tidak menerima baju anak-anak, baju renang, baju tidur, pakaian dalam, legging dan baju olahraga. 

Acara ini GRATIS. Mau daftar duluan boleh via link yang dibagi di IG @tukarbaju_. Kalaupun mau langsung datang ke tempat acara gak masalah. Daftarnya di lokasi aja.




Selain acara TUKAR BAJU ada juga talkshow tentang “Suistainable Fashion and Travel", juga ada workshop bagaimana upcyle pakaian dan kaos kaki bekas untuk dijadikan barang yang lebih berguna bersama WewoCraft. Ada juga bazar zero waste dari Cleanomic.

Saya gak sempat mendengarkan talkshow, karena sibuk bertukar baju. Demi berburu baju, ada kali ya satu jam setengah saya memilah baju dan bawahan. Jadi talkshow serunya terlewat. Dari kejauhan, terdengar sama-samar talkshow yang dimulai sekitar pkl 14 WIB itu. Satu ruangan sih sama area Tukar Baju, tapi agak jauhan dikit tempatnya.

Sampai talkshow berakhirpun, saya masih sibuk di area Tukar Baju, hahaha...nafsu banget neng....

Suasana pameran (kiri kanan) dan workshop/ talkhsow tempatnya paling ujung.
Ini suasananya dari jauh, luas kan ruangannya.
Boleh istirahat kalau capek

Kalau workshop upcyle pakaian, saya sempat mendekat, karena saya sudah menuntaskan tukar baju. Di workshop ini, peserta diajarkan ‘menyulap’ baju bekas menjadi tas. Langsung praktik menjahit di workshop tersebut. 

Wah, ini acaranya benar-benar bertujuan meminimalisir sampah tekstil. Kalau kita kreatif, semua baju bekas atau baju yang tidak kita gunakan lagi  bisa banget direcycle atau upcyle.


workshop upcyle pakaian




Saya ikut acara TUKAR BAJU ini, karena selain banyak baju saya yang nganggur karena bosan dengan modelnya atau sudah kekecilan, saya juga ingin merasakan keseruan bertukar baju dan mengkampanyekan acara ini.

Setelah menikmatinya, kayaknya ajang ini cocok juga tuh kalau dilakukan di internal kantor atau perusahaan pada saat ultah perusahaan, misalnya. Dulu, waktu ultah perusahaan, kantor saya mengadakan tukar kado. Dan hmm.... sepertinya tukar baju, boleh juga tuh saya usulkan jelang ultah kantor nanti. Hehehe.....

Baju merah jangan sampai lolos :D


Nah, Anda mau ikut juga gabung di acara Tukar Baju ini?

Silahkan intip-intip instagram @tukarbaju_ di sana bisa dapet informasi kapan dan di mana lagi acara ini akan diadakan. Siapa tahu selanjutnya di kota Anda!

Kalau Anda gak mau atau ngerasa "jijik" dan gengsi pakai baju bekas, ya donasikan saja baju Anda yang tak terpakai di Tukar Baju ini, kan berguna bagi orang lain.

So, kalau Anda datang ke acara ini, lalu tak menemukan model baju yang sreg atau cocok, ya syudahlah ya, baju Anda juga tetap berguna dan menjadi donasi untuk yang lain. Gak selamanya harus timbal balik kok, apalagi ini acara sosial. 

Gimana, sudah ada kira-kira baju yang akan ditukar di TUKAR BAJU?

Bonus gambar, karena acaranya di lantai 34 DBS Tower, Kuningan, Jakarta,  inilah pemandangan Jakarta dari atas

Karena Tarif Ojek Online Naik, Kulakukan Ini



Jakarta, Minggu (23/6/2019)


Naiknya tarif ojek online  per 1  Mei 2019 lalu, khususnya untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang persenan kenaikannya lebih tinggi dibanding daerah provinsi lain, membuat saya harus beralih gunakan transportasi lain. 
 
Pilihannya, ya apalagi kalau bukan moda TransJakarta atau yang seiring disebut orang busway. Padahal busway itu artinya, lintasan atau jalan yang dilalui TransJakarta. Tapi kebanyakan orang tetap menyebut TransJakarta (TJ) dengan busway, hehehe

Ya, busway eh TransJakarta atau TJ, kini menjadi sahabatku lagi. Dulu, sebelum marak ojol, TJ adalah sahabat bagi kebanyakan orang Jakarta karena bisa terhindar dari macet. Setelah ojol menjamur, maka ojol-lah yang merebut hati warga, termasuk juga merebut hatikuh yang syahdu ini. 

Meski hatiku sering galau, begitu naik ojol gak galau lagi, karena hembusan angin sepoi-sepoi nan manjah bisa mengusir kegalauan hati, eaaaa... Kemana-mana naik ojol. Praktis, cepat dan murah! 

Misalnya, setelah berbelanja dari pasar, minimarket atau mall, biasanya langsung ambil hape dari dalam tas, buka aplikasi ojol dan pesan. Pun saat pergi dan pulang kerja. Ojol yang setia menemani.
Udah deh naik ojol aja, praktis! Pergi dijemput depan tongkrongan, pulang dianter sampe depan pintu kamar eh rumah, hahaha'  batin selalu bilang begitu.

Apalagi kalau dapat babang ojol yang muda dan ganteng, yuuhhuu.... serasa boncengan sama pacar, wkwkwkwkw.... 


Kini.... setelah tarif ojol naiknya lumayan, oh, daku jadi mikir kalau mau naik ojol. Kecuali kalau jarak dekat ya, sekitar 1-3 kiloan, masih gunakan ojol sih, karena masih murah meriah, sepuluh ribuan. Pun, saat berangkat kerja, mau gak mau tetep naik ojol karena takut telat, walau tarifnya naik sekitar 7 ribuan. Namun, untuk perjalanan jarak jauh, balik lagi deh naik TJ, meski kudu jalan dikit dari rumah, dari tempat belanja atau dari tempat acara untuk menuju halte TJ.

Seperti di bulan Ramadan lalu, saya beli takljil atau jajanan di pasar bedug Benhil, Jakarta Pusat.  Rumah saya di Utan Kayu Jakarta Timur.  Sebelum tarif naik, ongkos dari Benhil ke Utan Kayu atau sebaliknya, di bawah 20 ribuan. Kini bisa 30 ribuan-an apalagi kalau jam sibuk, bisa lebih tinggi lagi.  

Ya sudah, diri ini harus mengalah. 


Kudu naik TJ, dan itu bearti harus jalan kaki dari Pasar Bedug Benhil menuju ke halte TJ Benhil plus naik tangga dan jembatannya. Alhamdullilah jadi olahraga, meski berat badan gak turun juga, hihihihi...

Jembatan TJ, jadi sahabatku lagih

Setelah naik TJ dan tiba di stasiun Dukuh Atas sebagai halte transit untuk menuju bus TJ jurusan Pulo Gadung (Pulo Gadung melalui kawasan Utan kayu) kaki ini harus melalui jembatan penyeberangan orang (JPO) lagi yang begitu panjangnya, darling.

Nah, karena sudah jarang naik TJ, kaget juga euy melihat banyak penampakan yang berubah. Misal, jembatan halte Dukuh Atas kini sudah syantik. 


Jembatan dihiasi ornamen artistik berbentuk segi enam berwarna putih dan abu-abu. Kalau malam hari, warnanya bling-bling banget karena mengeluarkan cahaya.  Dan penampakan jembatan ini, disebut Pak Gubernur Anies Baswedan sebagai salah satu "Wajah Baru Jakarta". 

Penampakan Jembatan TJ di Halte Dukuh Atas.
Ngebidik Patung Sudirman dan lalulintas dari Jembatan TJ dari sela-sela ornamen segienam

Rupanya, penampakan jembatan yang menyambungkan halte TJ yang syantik ini sudah berbenah sejak dimulainya Asian Games 2018 lalu, dan selesai pada Januari 2019. Berbarengan pula dengan pelebaran badan trotoar di ruas jalan utama Jakarta. Saking luasnya trotoar sekarang, bisa lho kalau kamu mau koprol, beb atau bisa main skateboard, hehehe.

Saya kurang tahu banyak dengan perubahan itu, karena ya itu tadi, sudah jarang naik  TJ, walau sering melintas di jalan Thamrin dan Sudirman, tetep gak ngeh kalau jembatannya sudah dikasih ornanen keren.

Eh, ternyata jembatan TJ Gelora Bung Karno dan Senayan lebih kece lagi ornamennya, mirip kayak jembatan di Singapura. Tapi daku belum sempat jepretin, karena belum turun di halte itu cuma lewat doang.


Ini TJ jurusan Pulo Gadung yang bakal gue naikin

Nah, karena banyaknya pemandangan baru itu, maka saya jeprat-jepretlah itu jembatan dan lalu lintas sekitarnya seperti yang daku pajangkan di artikel ini. 


Banyak juga lho masyarakat yang foto-foto di jembatan TJ, dulu mah jarang terlihat orang foto-foto di jembatan. Tapi karena jembatannya udah keren, jadi spot bagus nih buat ngisi instagram, hehehe. Saya aja takjub melihat perubahannya. Makasih ya Pemprov DKI Jakarta.

Lalu lintas di seputar halte TJ Dukuh Atas

Membidik dari sela-sela ornamen jembatan
syalallaala, jembatan yang panjang
Hai gedung! Gedung warna biru itu adalah salah satu gedung tertinggi di Jakarta.
Keisengan jeprat-jepret ini pun tetap berlangsung ketika di lain waktu saya naik TJ lagi di halte yang berbeda. Ya, daripada bete nunggu TJ datang, dan lumayan capek menyusuri jembatan TJ yang panjang,  mending diisi dengan pepotoan, biar bisa berhenti sejenak di jembatan,  sambil menikmati view perkotaan, heheheh... ya gitu deh jadinya. Gegara tarif ojol naik, jadi sahabat TJ lagi deh. 
 
Nah, para pekerja sedang membangun gedung. Posisi gedung tepat berada di depan halte TJ Benhil, ya gue potoin juga, daripada bengong nungguin TJ belum datang, hahahha

Nah, ini juga lagi ada pembangunan taman kek nya. Dipotoin juga dari jembatan TJ


Nah, kalau Anda, dengan naiknya tarif ojol, 
apakah membuat Anda jadi beralih ke moda transportasi lain? 
Atau santai sajah? heheheh



Ini Jembatan TJ yang ada di depan Plaza Semanggi, Jakarta, yang belum dihiasi ornamen baru.
Mungkin akan menyusul, hehehe