Featured Slider

Karena Tarif Ojek Online Naik, Kulakukan Ini



Jakarta, Minggu (23/6/2019)


Naiknya tarif ojek online  per 1  Mei 2019 lalu, khususnya untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang persenan kenaikannya lebih tinggi dibanding daerah provinsi lain, membuat saya harus beralih gunakan transportasi lain. 
 
Pilihannya, ya apalagi kalau bukan moda TransJakarta atau yang seiring disebut orang busway. Padahal busway itu artinya, lintasan atau jalan yang dilalui TransJakarta. Tapi kebanyakan orang tetap menyebut TransJakarta (TJ) dengan busway, hehehe

Ya, busway eh TransJakarta atau TJ, kini menjadi sahabatku lagi. Dulu, sebelum marak ojol, TJ adalah sahabat bagi kebanyakan orang Jakarta karena bisa terhindar dari macet. Setelah ojol menjamur, maka ojol-lah yang merebut hati warga, termasuk juga merebut hatikuh yang syahdu ini. 

Meski hatiku sering galau, begitu naik ojol gak galau lagi, karena hembusan angin sepoi-sepoi nan manjah bisa mengusir kegalauan hari, eaaaa... Kemana-mana naik ojol. Praktis, cepat dan murah! 

Misalnya, setelah berbelanja dari pasar, minimarket atau mall, biasanya langsung ambil hape dari dalam tas, buka aplikasi ojol dan pesan. Pun saat pergi dan pulang kerja. Ojol yang setia menemani.
Udah deh naik ojol aja, praktis! Pergi dijemput depan tongkrongan, pulang dianter sampe depan pintu kamar eh rumah, hahaha'  batin selalu bilang begitu.

Apalagi kalau dapat babang ojol yang muda dan ganteng, yuuhhuu.... serasa boncengan sama pacar, wkwkwkwkw.... 


Kini.... setelah tarif ojol naiknya lumayan, oh, daku jadi mikir kalau mau naik ojol. Kecuali kalau jarak dekat ya, sekitar 1-3 kiloan, masih gunakan ojol sih, karena masih murah meriah, sepuluh ribuan. Pun, saat berangkat kerja, mau gak mau tetep naik ojol karena takut telat, walau tarifnya naik sekitar 7 ribuan. Namun, untuk perjalanan jarak jauh, balik lagi deh naik TJ, meski kudu jalan dikit dari rumah, dari tempat belanja atau dari tempat acara untuk menuju halte TJ.

Seperti di bulan Ramadan lalu, saya beli takljil atau jajanan di pasar bedug Benhil, Jakarta Pusat.  Rumah saya di Utan Kayu Jakata Timur.  Sebelum tarif naik, ongkos dari Benhil ke Utan Kayu atau sebaliknya, di bawah 20 ribuan. Kini bisa 30 ribuan-an apalagi kalau jam sibuk, bisa lebih tinggi lagi.  

Ya sudah, diri ini harus mengalah. 


Kudu naik TJ, dan itu bearti harus jalan kaki dari Pasar Bedug Benhil menuju ke halte TJ Benhil plus naik tangga dan jembatannya. Alhamdullilah jadi olahraga, meski berat badan gak turun juga, hihihihi...

Jembatan TJ, jadi sahabatku lagih

Setelah naik TJ dan tiba di stasiun Dukuh Atas sebagai halte transit untuk menuju bus TJ jurusan Pulo Gadung (Pulo Gadung melalui kawasan Utan kayu) kaki ini harus melalui jembatan penyeberangan orang (JPO) lagi yang begitu panjangnya, darling.

Nah, karena sudah jarang naik TJ, kaget juga euy melihat banyak penampakan yang berubah. Misal, jembatan halte Dukuh Atas kini sudah syantik. 


Jembatan dihiasi ornamen artistik berbentuk segi enam berwarna putih dan abu-abu. Kalau malam hari, warnanya bling-bling banget karena mengeluarkan cahaya.  Dan penampakan jembatan ini, disebut Pak Gubernur Anies Baswedan sebagai salah satu "Wajah Baru Jakarta". 

Penampakan Jembatan TJ di Halte Dukuh Atas.
Ngebidik Patung Sudirman dan lalulintas dari Jembatan TJ dari sela-sela ornamen segienam

Rupanya, penampakan jembatan yang menyambungkan halte TJ yang syantik ini sudah berbenah sejak dimulainya Asian Games 2018 lalu, dan selesai pada Januari 2019. Berbarengan pula dengan pelebaran badan trotoar di ruas jalan utama Jakarta yang kini jadi lebih luas.  

Saya kurang tahu banyak dengan perubahan itu,  karena ya itu tadi, sudah jarang naik  TJ, walau sering melintas di jalan Thamrin dan Sudirman, tetep gak ngeh kalau jembatannya sudah dikasih ornanen keren.

Eh, ternyata jembatan TJ Gelora Bung Karno dan Senayan lebih kece lagi ornamennya, mirip kayak jembatan di Singapura. Tapi daku belum sempat jepretin, karena belum turun di halte itu, cuma lewat doang.


Ini TJ jurusan Pulo Gadung yang bakal gue naikin

Nah, karena banyaknya pemandangan baru itu, maka saya jeprat-jepretlah itu jembatan dan lalu lintas sekitarnya seperti yang daku pajangkan di artikel ini. 


Banyak juga lho masyarakat yang foto-foto di jembatan TJ, dulu mah jarang terlihat orang foto-foto di jembatan. Tapi karena jembatannya udah keren, jadi spot bagus nih buat ngisi instagram, hehehe. Saya aja takjub melihat perubahannya. Makasih ya Pemprov DKI Jakarta.

Lalu lintas di seputar halte TJ Dukuh Atas

Membidik dari sela-sela ornamen jembatan
syalallaala, jembatan yang panjang
Hai gedung! Gedung warna biru itu adalah salah satu gedung tertinggi di Jakarta.
Keisengan jeprat-jepret ini pun tetap berlangsung ketika di lain waktu saya naik TJ lagi di halte yang berbeda. Ya, daripada bete nunggu TJ datang, dan lumayan capek menyusuri jembatan TJ yang panjang,  mending diisi dengan pepotoan, biar bisa berhenti sejenak di jembatan,  sambil menikmati view perkotaan, heheheh... ya gitu deh jadinya. Gegara tarif ojol naik, jadi sahabat TJ lagi deh. 
 
Nah, para pekerja sedang membangun gedung. Posisi gedung tepat berada di depan halte TJ Benhil, ya gue potoin juga, daripada bengong nungguin TJ belum datang, hahahha

Nah, ini juga lagi ada pembangunan taman kek nya. Dipotoin juga dari jembatan TJ


Nah, kalau Anda, dengan naiknya tarif ojol, 
apakah membuat Anda jadi beralih ke moda transportasi lain? 
Atau santai sajah? heheheh



Ini Jembatan TJ yang ada di depan Plaza Semanggi, Jakarta, yang belum dihiasi ornamen baru.
Mungkin akan menyusul, hehehe

MRT Jakarta, Kujajal Kau Dengan Euforia Kepo Nan Manjah

Kehadiran MRT Jakarta beberapa hari ini, bikin penasaran warga Ibukota.

Termasuk Eneng, Bang.....

Moda Raya Terpadu atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta, yang dalam bahasa Inggrisnya Jakarta Mass Rapid Transit baru saja diresmikan. Euforianya masih terasa saat saya mengetik tulisan ini.

MRT Jakarta

Yang namanya moda transportasi baru, ya tentulah orang ingin mencicipinya. Gak peduli strata sosialnya, mau dia horang kayah, orang kurang mampu atau orang biasa sajah seperti diriku yang manjah ini, pengen semua mau cobain MRT. Kata-kata 'kampungan' karena dianggap norak gegara euforia mencoba MRT, kayaknya perlu dihilangkan. Gak perlu lah pake malu dan gengsi.

Taman Kodok, Tempat Mengusir Penat

Beruntunglah kantor tempat saya bekerja dekat dengan taman. Jadi, kalau lagi penat dan bosan melihat kompi dan suasana kantor, atau pengen curhat sama teman, saya bisa “melarikan diri” ke taman. Di taman ini saya bisa duduk santai sambil pesan makanan atau ngopi. Hijaunya pepohonan dan bunga-bunga syantik juga bisa dinikmati di sini. Suara muncratan air mancur dan desiran angin sepoy nan manja, menjadi teman yang bisa menghilangkan kegalauan. Tsah..

Taman Kodok
Iya, kantorku yang berada di kawasan Menteng, Jakarta, berdekatan dengan Taman Kodok. Jaraknya sekitar 100 meterlah dari tempat saya mengais rezeki. Saat saya ke sini, suasananya selalu sepi. Ya maklum, saya biasa main ke sini sekitar jam 10 pagi, 12 siang atau jam 3 siang, makanya tamannya masih sepi. Di jam-jam tersebut saya biasanya beli nasi atau camilan di sana untuk dimakan di kantor.

The Garden of La Piazza, Spot Instagramable di Jakarta

Sudah lama daku gak main ke sudut La Piazza, Kelapa Gading Jakarta. Eh, pas kemarin jalan-jalan ke sana, Sabtu (2/2/2019), kaget euy, ada perubahan spot area. Tempat yang dulu hanya kosong dan cuma diisi kursi-kursi dan meja untuk tempat makan kala malam hari, kini disulap menjadi kebun bunga.

Tempat ini diberi nama “The Garden of La Piazza”.

Rupanya, "penyulapan' ini sudah hampir satu tahun lamanya. Kemanakah daku selama ini? Hingga tak tahu ada tempat kece dan cetar terpampang nyata seperti ini?

The Garden of La Piazza

Yuhu, masuk ke dalamnya bunga-bunga syantik nan manja bertaburan mengelilingi tempat ini, menyambut pengunjung yang datang. Persis seperti kebun bunga. Memanjakan mata. Indah. Ah...

Rela Mencari Sayur Busuk Demi Hijaukan Kampung Rawasari

Kampung Hijau

Baunya anyir. Penampakkannya.... iihh... jorok, seperti sampah berair di dalam tong plastik. Warnanya coklat, diatas airnya mengapung sayur-mayur busuk. Sungguh tak elok dipandang.

Seorang perempuan berusia 61 tahun yang masih nampak gesit itu, menunjukkan pemandangan ‘jorok’ itu kepada saya. Setelah penutup tong dibukanya, secepat kilat pula ia menutupnya kembali. Mungkin ia juga tak kuat melihatnya.

Tak sampai dua detik menutup tong tadi, dengan pedenya ia membuka semacam keran yang menempel di tong, sehingga keluarlah air berwarna coklat bak air comberan itu.

“Nih, (penampakan) airnya,” ujarnya.

Saya meringis manis melihatnya. Untung sedang tidak ngemil makanan, hahahaha...

Ternyata, yang ditunjukkan perempuan itu kepada saya adalah pupuk kompos cair (pupuk kompos ada juga yang padat). Pupuk ini adalah hasil penguraian secara biologis bahan-bahan organik dari sayur-sayuran atau buah busuk.

Meski sudah sering mendengar istilah pupuk kompos sejak saya masih imut dulu, tapi baru kali ini saya melihatnya langsung. Itu karena saya bertandang ke Kampung Rawasari Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta,  jadi ketemu deh sama si kompos, Sabtu pagi itu. Bagi saya yang jarang bercocok tanam ini, melihat penampakan pupuk kompos, sesuatu sekali.