Featured Slider

Liburan dan Cerita Tanggal Merah


Ada tanggal merahnya gak bulan ini? Berapa kali tanggal merahnya dalam sebulan? Posisinya berdampingan langsung gak dengan Sabtu dan Minggu? 

Kalau melihat jejeran tanggal merah, Anda yang hobi jalan-jalan, biasanya akan langsung mengatur waktu untuk memesan tiket perjalanan jauh-jauh hari sebelum si tanggal merah datang, biar gak kehabisan tiket. Iya khan?

Senangnya ya Anda bisa merencanakan liburan ke tempat yang diidamkan di tanggal merah. Apalagi kalau tanggal merahnya berdampingan dengan Sabtu dan Minggu. Wah, dobel tuh senengnya. Liburannya jadi panjang, yuhuu!

Saya, tidak bisa menggunakan tanggal merah yang biasanya bertepatan dengan hari raya agama atau hari besar lainnya, untuk liburan. Karena, mau tanggal merah, tanggal hijau, biru, ungu, gak ngaruh sama saya, hahaha.

Tanggal merah, saya tetap datang ke kantor. Bekerja.

Itu sebagai konsekuensi pilihan saya yang bergelut di dunia media. Program media, baik elektronik, online atau cetak, ya harus tetap berjalan meski hari libur.

Bagi yang kerja di radio: kudu tetap siaran menyapa pendengar dan memberikan informasi, diselingi memutar lagu-lagu yang sudah disusun di playlist oleh Music Director atau MD. Kalau gak ada penyiar yang datang ke studio di tanggal merah, lalu siapa yang siaran?

Bagi yang kerja di Televisi: sinetron harus tayang, talkshow tetap berjalan sesuai waktu, iklan wajib diputar. Kalau gak ada orang yang berada di belakang layar TV, siapa yang bakal memutar sinetron dan mengklik iklan yang sudah dibayar dengan harga selangit itu? Siapa yang berperan mengambil gambar talkshow? Siapa yang menjaga durasi waktu dan menjamin program yang sudah direncanakan akan tayang dengan mulus di hari itu?

Yang kerja di media cetak dan online: reporter harus liputan, editor atau korlip harus memantau atau mengarahkan reporter karena harus ada berita yang naik cetak atau dipublish di media online. Lalu, kalau reporter gak masuk di tanggal merah, apa yang bakal diterbitkan media online atau cetak? Mau baca berita apa pembacanya? Mosok berita yang kemarin juga yang masih dipajang?

Itu dia kenapa reporter radio, TV, online dan media cetak tetap berjibaku mencari berita di tanggal merah, untuk memberikan kabar kepada Anda tentang apa yang terjadi di hari itu. 

Editor atau redaktur yang ada di kantor pun, siaga memutar isi kepala untuk memberi ide liputan dan kreatifitas untuk kemudian dieksekusi reporter. Semua itu tetap berjalan di tanggal merah.

Itulah mengapa pekerja media terutama bagian produksi dan redaksi tetap berjibaku di hari libur, bahkan saat Hari Raya Lebaran pun tetap eksis bekerja. Di mana,  di saat yang sama, Anda menikmati liburan keluar kota bersama teman-teman, atau malah asyik selonjoran di kamar sambil bercengkrama bersama keluarga dengan manjah.

Mau on air, kalau gak ada orang, gimana bisa?

Meski pekerja media harus masuk sesuai jadwal dan tak kenal tanggal merah, tapi kami tetap dapat libur dua hari dalam satu minggu kok. Tapi hari libur yang didapat masing-masing karyawan tak selalu Sabtu dan Minggu, bisa saja liburnya Jumat dan Sabtu, itu bearti Minggu sampai Kamis masuk kerja. Iya, kerja di media, selain tanggal merah, Sabtu dan Minggu juga tetap harus berjalan. Jadi karyawan yang kebagian kerja di weekend, akan dapat libur di hari biasa/ weekday.

Tapi tak masalah, semua pekerjaan itu ada resiko dan suka dukanya. Meski saya tak libur di saat orang libur, tapi saya mendapatkan kompensasi. Iya, kompensasi atau insentif.  Asik kan? Hehehe.

Kantor tempat saya bekerja memberikan kompensasi sekitar tujuh persen dari gaji untuk satu hari masuk di tanggal merah. Kalau tanggal merahnya ada dua kali di bulan yang sama, bearti saya juga dapat dua kali insentif dan akan dibayarkan berbarengan dengan gaji bulanan. Yey! Itulah sukanya. Tapi saya gak tahu kalau di kantor media lain karena kebijakannya beda-beda.

Lalu, dengan waktu yang terjadwal tanpa mengenal tanggal merah itu, apakah saya dan pekerja media lain bisa liburan?

Tentu masih bisa dong, Beb. Masih ada dua hari jatah libur dalam seminggu. Itu bisa banget dimanfaatin untuk liburan, walau mungkin dengan pendeknya waktu tak bisa digunakan untuk liburan yang jauh hingga menyebrang pulau misalnya, karena nanggung. Kalau saya sih memanfaatkan libur dua hari dalam seminggu itu ya untuk jalan-jalan di seputaran Jakarta saja. Ke Ancol atau Setu Babakan, misalnya.

Nah, kalau untuk libur panjang, saya harus mengajukan cuti. Saya biasanya mengambil cuti langsung 5 hari (Senin sampai Jumat) biar liburnya panjang. Kebetulan saya Sabtu Minggu libur, jadi totalnya 9 hari saya libur, hehehe... 

Disitulah waktunya saya memanjakan diri, mata dan raga untuk melihat dan menikmati suasana lain. Oktober lalu, saya baru saja balik dari liburan di Yogya. Ada keponakan saya yang bekerja di sana. Jadi saya menemui dia sekaligus menemani saya jalan-jalan di kota wisata itu.

Kami ke Taman Sari, makan di salah satu restoran legend di Yogya, nengok-nengok batik di Pasar Beringharjo, menikmati malam di alun-alun dan nongkrong asik di kawasan Malioboro dan di beberapa spot lain. Meski capek ngelilingi Malioboro berjalan kaki tapi karena suasananya rame malah jadi happy, heheheh.

Di Taman Sari Yogyakarta, Oktober 2019

Pada malam hari, saya juga sempat foto di spot "0 Kilometer" Yogyakarta yang ada di kawasan Malioboro ini, tepatnya di seberang gedung BNI atau kantor pos yang bangunannya khas tempo dulu. Antri lho yang mau foto.

Tapi, saat siangnya kami melintas lagi di sana, lho kok tulisan "0 kilometer"nya gak ada? Oh, kami baru ngeh bahwa tulisan tersebut adalah properti milik warga, yang jika ada orang foto di slot itu ya kudu sukarela membayar, hehehe.

Nah, karena kami jalan-jalannya dari siang sampai malam, maka di setiap waktu shalat tiba kami mampir ke masjid terdekat. Jadi kami juga berwisata di masjid yang ada di sana. Seru deh.
 
Spot 0 Kilometer Yogyakarta

Kan, baru Oktober tadi saya liburan, trus kapan saya mau liburan lagi? Akhir Desember atau awal tahun baru? No, no, no..! Saya tidak mungkin mengambil cuti di rentang waktu itu. Meski tanggal merahnya berhamburan, hehehe.

Karena, di akhir Desember hingga awal Januari tahun depan, ada beberapa teman nasrani yang akan cuti untuk Natalan, jadi karyawan yang muslim tidak boleh mengambil cuti, agar ada yang menggantikan pekerjaan karyawan yang cuti.

Sebaliknya, jika hari raya Lebaran tiba, maka karwayan yang nasrani yang harus mendahulukan cuti bagi karyawan yang muslim. Begitulah dinamikanya. Untuk apa? Ya, agar semua pekerjaan atau program media tetap berjalan. Misalnya, saat Natal nanti ada teman penyiar yang cuti Natal, sayalah yang akan menggantikan dia siaran. Pun sebaliknya, jika saya cuti.


By the way....meskipun saya gak bisa liburan di tanggal merah (kecuali ngambil cuti), tapi saya tetap mau berbagi kalender tanggal merah untuk tahun depan.

Hayo...pencinta tanggal merah, mana suaranyaaaaaaaa???

Ini dia si tanggal merah yang dicari dan ditunggu!

Tahun depan sudah ngantri nih tanggal merahnya. Mulai sekarang sudah bisa pilah-pilih tanggal-tanggal 'cemerlang'nya, biar rencana cuti lebih mantap. Sudah punya rencana piknik ke mana nih? 

Kalau saya, tanggal yang aman untuk bisa liburan kembali setelah dari Yogyakarta adalah pertengahan Januari, karena di minggu kedua bulan tersebut, sudah melewati 'masa-masa krusial' jadwal teman kantor yang cuti, hehehe.

Lumayan kan ya jaraknya dari Oktober saya ke Yogyakarta, lalu lanjut holiday lagi di pertengahan Januari, hehehe. Mau ke mana saya? Ku pengen ke Bali, sudah lama tidak. Belum puas nge-eksplore Bali tempo hari. Saya pengen ke Seminyak, Tanah Lot dan banyak lagi. Enam tahun lalu saya ke Bali, cuma muter-muter di kotanya doang, hihihi. Maka itu belum banyak daerah yang saya kunjungi di pulau ini dan ingin berkunjung lagi.

Jujur, liburan ke Bali bersama teman kantor waktu itu, perencanaannya tidak matang jadi eksekusinya ngadat, maka itu bisanya cuma muter-muter di kawasan Pantai Kuta,  Pantai Pandawa yang saat itu baru dibuka dan Pantai Nusa Dua, doang, hihihi. Ya sudahlah.....

Saya di Bali, dengan background Pantai Pandawa, 6 tahun lalu

Untunglah merencanakan liburan di zaman now sangat mudah. Mau pesan tiket pesawat, tinggal buka aja di aplikasi lalu pilih mau maskapai apa, tujuan kemana dan kapan mau perginya?

Gak perlu repot lagi telepon maskapainya buat booking atau bersusaah payah mendatangi tempat loketnya. Oh, 10 tahun lalu aku masih melakukan itu. Kini, kemajuan teknologi membuat segala sesuatu sesimple menjentikkan jari saja. Praktis!

Kalau mau yang ada diskonnya, saya bisa main-main ke Aplikasi Pegipegi. Pesan tiket pesawat di Pegipegi bebas ribet. Gak cuma pilihan rute dan maskapainya aja yang banyak, promonya juga rame. Pegipegi melayani lebih dari 20.000 rute penerbangan lho.

Ke Bali dengan jadwal penerbangan Sriwijaya Air misalnya, bisa juga saya pilih di Pegipegi, tinggal menyesuaikan dengan waktu keberangkatan. Setelah dipilih, membayar tiket pemesanan bisa melalui ATM, Transfer Bank, Perbankan Online, dan Kartu Kredit. Anda juga bisa mengunduh aplikasinya di Android dan iOS, gratis.

Di Pegipegi, kita juga bisa menikmati berbagai kemudahan dan penawaran menarik yang akan membuat liburan atau perjalanan bisnis semakin praktis dan asik.

Setiap orang itu butuh liburan apalagi yang sehari harinya berkutat dengan pekerjaan rutin. Jadi harus ada me time atau waktu senggang untuk menyegarkan pikiran agar  psikologi juga sehat.

Jika butuh cepat sampai di lokasi tujuan, ya transportasi udara adalah pilihannya. Salah satu maskapai yang bisa dipercaya untuk mengantarkan kita ke lokasi idaman, ya  Sriwijaya Air. Ada banyak pilihan rutenya dan bisa Anda kulik di Pegipegi.

Saya beberapa kali terbang dengan maskapai ini, jarang mengalami delay. Ketepatan waktu keberangkatan menjadi salah satu faktor pertimbangan konsumen untuk kembali mengulangi terbang bersama maskapai tadi atau tidak.

Nah, Anda sudah ada rencana liburan kemana dalam waktu dekat ini?
Sudah nyolek si tanggal merah?




Nestapa di Balik Gagahnya Museum Sejarah Jakarta, Cagar Budaya Indonesia

Pintu tua, yang dibaliknya menyimpan cerita

Sisa bau pesing masih tercium saat saya mendekati sebuah ruangan bawah tanah yang pengap. Ruangan yang sempit itu dulunya dihuni oleh sekitar 30 hingga 60-an tahanan. Tak terbayang alangkah berdesak-desakannnya mereka tidur, tanpa kasur. Masuk ke dalamnya pun tak bisa berdiri, harus membungkuk karena atapnya melengkung seperti setengah lingkaran. Mereka hanya meringkuk, pasrah!

Yang lebih miris lagi, penjara ini tak menyediakan kamar mandi atau toilet untuk tahanannnya. Jadi para tahanan pun buang air kecil dan air besar, ya di dalam ruangan yang menyedihkan itulah.

Itu sebab, walau kondisi ruangannya kini bersih, namun bau pesing bekas kotoran manusia masih tersisa hingga kini. Saat saya mengintip dari jendelanya saja, sisa aroma tak layak itu, tak bisa bersembunyi. Apalagi jika ada angin, aromanya pun makin menari-nari.

“Selain di penjara, kaki mereka juga dirantai dan dikaitkan dengan bandul besi, sebagai belenggu kaki tahanan. 85 persen tahanan meninggal di dalam penjara, karena pemerintah Belanda tidak memberi mereka makan, sehingga mereka jatuh sakit. Belum lagi, karena kondisi ruangan yang tidak layak, penyakit seperti kolera pun menghinggapi tubuh tahanan hingga mereka meninggal,”
Kisah itu dituturkan Rafli, Pemandu Wisata Museum yang menemani ketika saya berkunjung, Sabtu (16/11/2019).



Ini adalah jejeran pintu penjara bawah tanah pria
Pengunjung melihat penjara bawah tanah

Itulah sekilas gambaran penjara laki-laki pada zaman pemerintahan Belanda. Penjara ini terdiri atas 5 ruangan dengan kondisi yang sama; pengap, sempit dan tanpa toilet.

Bagaimana dengan kondisi penjara wanita?

Duh! Tinggi ruangannya malah lebih pendek dari penjara laki-laki. Harus jongkok jika mau ke dalam. Sama seperti penjara pria, para tahanan wanita pun tak bisa berdiri karena tinggi ruangan yang tak memadai. Yang bikin sedih lagi, saat saya melongok ke dalam, ruangannya berair. Saya  pikir airnya itu baru masuk ke ruangan akhir-akhir ini saja karena sudah masuk musim penghujan. Rupanya kondisi ruangan berair itu sudah terjadi sejak dahulu kala, terutama jika musim penghujan. Salah satu sebabnya karena ruangan ini berada di bawah permukaan garis pantai, sehingga air rembesan naik ke atas.
 
Dan para tahanan wanita saat itu, tetap harus berada di sana, walau air menggenang. Mau nangis saya membayangkannya. Betapa pilunya nasib mereka yang berkecamuk dengan air kotor dan dinginnya ruangan. Konon lantai menggenang ini sengaja dibiarkan agar penghuninya kedinginan, selain sebagai efek jera. Jika tidak kuat tentu saja tahanan akan tewas kedinginan.

Saya terdiam ketika melihat ruangan  ini. Seolah dindingnya yang membisu dan genangan air yang tak beriak itu ingin menyeruakkan jutaan kepedihan yang terjadi ribuan tahun lalu

Kamar kosan saya kemasukan air saja, panik dan sebalnya minta ampun. Lah ini, mereka harus tidur dan berada di dalam ruangan berair yang sempit selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mahal sekali harga yang dibayar untuk sebuah perjuangan.

Pintu kecil dan pendek yang terbuka di bawah, itulah ruang tahanan wanita 
Ini dia kamar tahanannya. Aslinya gelap, saya mainkan fitur "kecerahan" di gambar ini
Pengunjung melihat penjara wanita

Kata Rafli, tahanan yang ada di sini, kebanyakan tahanan umum kasus politik atau menentang kepemerintahan. Ada juga karena tindakan kriminal seperti merampok. Itu sebab,  Untung Suropati dan Cut Nyak Dien, juga sempat mencicipi pengapnya penjara ini karena mereka membela Indonesia dan melawan Belanda.

Pangeran Diponegoro pun pernah ditahan di tempat ini. Namun karena pemerintah Belanda tahu kalau sang pangeran adalah "Orang Besar" maka untuk menghargai itu, beliau ditahan di kamar kepala sipir. Kamar penuh kenangan itu ada di lantai dua, masih ada hingga kini.

Untuk melihat kamarnya, alas kaki harus dilepas atau diganti dengan sandal yang disediakan pihak museum agar tidak kotor. Ser-seran rasanya saat saya menaiki tangga untuk melihat kamar pahlawan Indonesia yang foto atau lukisannya sering dipajang di dinding-dinding sekolah.



Tak jauh dari penjara bawah tanah dan kamar Pangeran Diponegoro, sumur tua dengan kedalaman 3 meter berdiam di sana. Menjadi saksi bisu segala peristiwa ketika Indonesia masih dijajah.

“Sumur ini dulunya digunakan untuk minum kuda dan minum para tanahan. Dulu airnya bersih,” jelas Rafli

Airnya masih ada, tapi warnanya cokelat dan keruh serta diberi kayu pembatas di dalamnya agar lebih aman. Sumur ini masih digunakan pengelola museum, tapi hanya untuk daya tampung air saja.

Sumur yang penuh cerita ini, kini menjadi objek latar foto oleh pengunjung.

Sumur tua yang digunakan untuk air minum kuda dan para tahanan


Kondisi penjara bawah tanah, kamar Pangeran Diponegoro dan sumur tua ini, saya temui di Museum Sejarah Jakarta yang berada di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Taman Fatahillah, Sabtu (17/11/2019).

Karena berada di jalan tersebut, museum ini pun sering disebut warga    
“Museum Fatahillah”

Pengunjung yang swafoto di depan sumur

Bendera merah putih yang melambai-lambai dengan gagahnya di balkon gedung, tak bisa menutupi tragisnya sejarah yang terjadi dan tersimpan di balik  gedung yang berdiri sejak 1707 ini. Bangunan ini dulunya Balai Kota Batavia atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn pada masa pemerintahan VOC di Batavia.

Selain Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil,  dan Dewan Kotapraja.

Bagian atas Museum Sejarah Jakarta. Tempat bendera Merah Putih berkibar adalah balkonnya

Seperti apa suasana pengadilan zaman dulu?

Rafli mengajak saya melihat ruang pengadilan. Jangan dibayangkan ruangannya seperti pengadilan zaman now ya. Ruang pengadilan ini jadi satu dengan balaikota. Di dalam ruangan, hanya ada meja dan kursi untuk hakim, jaksa dan tahanan tanpa ada warga atau keluarga dari tahanan yang akan diadili, karena ini adalah pengadilan tertutup.

“Nah, hakimnya duduk di sini,” kata Rafli sambil menunjuk kursi yang posisinya ada di bagian tengah sisi meja. Jarak hakim dan tahanan hanya sekitar dua  meter. Di belakang kursi pengadilan, ada lemari besar yang berisi berkas dan buku Dewan Pengadilan. Lemari ini terbuat dari serpihan emas dan ukiran yang detil. Sisi kiri atasnya dihiasi dengan Patung Dewi Keadilan dan sisi kanan berdiri Dewi Kebenaran.

Ruang Pengadilan
Salah satu keputusan dari pengadilan adalah hukuman mati. Konon, sang gubernur pemerintahan Belanda kala itu menyaksikan hukuman pancung itu dari balkon gedung lantai dua karena eksekusi dilakukan di halaman gedung.

Halaman eksekusi itu sekarang adalah tempat wisatanya para warga. Kala sore, banyak pengunjung yang duduk-duduk di tempat itu. Ada yang hanya ngobrol, bernyanyi  ada pula yang makan bersama. Bahkan saat weekend tak jarang digunakan untuk acara-acara pemerintah, budaya, kesenian, olahraga dan lain-lain.

Ini balkonnya.
Inilah halaman Museum Sejarah Jakarta yang dulunya tempat eksekusi mati

Bukan hanya itu saja cerita atau peninggalan sejarah bangsa yang tersimpan di museum ini. Di dalamnya ada sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika.

Koleksi ini ada yang berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang saat ini ditempati Museum Wayang, satu komplek juga dengan museum ini.

Nuansa masa lalu terasa kental ketika memasuki gedung ini. Gambar-gambar atau lukisan yang dipajangkan menceritakan tentang zaman VOC dan Hindia Belanda. Benda-benda yang dipajangkan juga menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia (sekarang Jakarta)  sejak awal abad XVI.

Koleksi yang tersaji di sini seperti senjata, pedang, meriam, peta, lukisan, bebatuan, prasasti di lantai satu. Sementara alat pertukangan zaman prasejarah, mebel, lemari, perabot rumah tangga dipajangkan di lantai dua. 

Pajangan keramik  yang berlurik khas negara Eropa, China dan Arab serta perabot rumah tangga
Karena ini gedung ini dulunya adalah perkantoran, tak heran terdapat koleksi mebel antik peninggalan abad ke-17
Koleksi mebel
Tangga menuju lantai dua

Di luar gedung, atau di halaman belakang, ada juga Patung Dewa Hermes. Patung ini juga salah satu objek foto pengunjung. Sementara itu, di pojok taman ada "Monumen Pecah Kulit".

Selain sebagai balaikota dan tempat pengadilan, seiring berjalan waktu, sekitar 1925-1942,  gedung ini digunakan untuk mengatur sistem Pemerintahan Jawa Barat. Kemudian pada 1942-1945, di masa pendudukan Jepang, difungsikan sebagai kantor tempat pengumpulan logistik Dai Nippon.

Setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai markas komando militer kota dari tahun 1952-1968.

Gedung dua lantai ini, secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada 1968, dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Sejarah panjang pejuang merebut Batavia (sekarang Jakarta) dari tangan Belanda, tersaji di museum ini.

Melihat gedung serta isinya dan  kawasan di sekitarnya, seolah saya memasuki ruang waktu. Ada rasa merinding, kagum namun terbersit rasa haru.

Ya, rasa haru mengenang pahlawan dan pejuang kita zaman dulu yang berjuang memperebutkan Indonesia ke pangkuan ibu pertiwi, agar tak lagi dijajah atau dipimpin bangsa lain.

Pemandu Museum Rafli yang menemani saya menjelaskan tentang gedung ini sebelum mengelilingi museum
 
Museum Sejarah Jakarta, Cagar Budaya Indonesia
 
Bangunan khas tempo dulu ini, tak hanya menyimpan sejarah tapi juga mengandung warisan budaya dan kehidupan, juga menyimpan nilai penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan  kebudayaan. Maka itu Museum Sejarah Jakarta ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia.

Semua bangunan Cagar Budaya dimanapun berada, adalah milik warga Indonesia. Anda dan saya berhak tahu tentang sejarah bangsa ini. Semakin bayak wawasan yang didapat, berarti kita sudah  mengembangkan diri karena menambah ilmu pengetahuan. Ini tentu saja bermanfaat untuk para siswa atau mahasiswa untuk menerapkannya di berbagai disiplin ilmu.

Bangunan Cagar Budaya, bukan sekedar pajangan atau tempat wisata belaka. Namun dari bangunan inilah kita bisa membayangkan dan mengambil hikmah kehidupan di masa 1700-an. Ada perjuangan di masa lalu, demi mempertahankan negara ini. Ada banyak orang yang dipenjara, disiksa, rela mencicipi kehidupan tak layak demi mengusir penjajah, demi harga diri bangsa.

Adanya cagar budaya diharapkan agar masyarakat khususnya anak muda, dapat menggali edukasi tentang masa lalu. Di mana, masa sekarang yang bisa kita cicipi dengan nikmat adalah berkah perjuangan masa lampau yang mengandung nilai budaya, adat, dan kehidupan.  



SAYA, dengan menggali atau mendapatkan cerita tentang bangunan museum ini, semakin tahu perjuangan moyang zaman dulu. Saya jadi tahu ada penjara yang begitu tak layak dengan segala kisah pilu di dalamnya. Ada nyawa-nyawa yang harus berkorban demi merebut Indonesia dari tangan penjajah.

Nah, menggali lebih dalam tentang bangunan cagar budaya, adalah bentuk pengembangan diri yang merupakan bagian dari upaya pelestarian cagar budaya. Cagar budaya perlu dilestarikan karena sifatnya yang mudah rapuh, tidak bisa diperbaharui dan terbatas atau langka. 

Bangunan Museum Sejarah Kota yang saya tulis ini, hanya salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan cagar budaya yang tersebar di Indonesia.

Anda yang menemukan cagar budaya di sekitar tempat tinggal, yang belum banyak diketahui orang atau tersembunyi. Jangan sungkan lho mendaftarkan cagar budaya baru ke pemerintah setempat.  Karena dengan bertambah banyaknya jumlah cagar budaya di Indonesia, maka bertambah pula nilai-nilai sejarah dan kisah kehidupan bangsa. Pun, jika juga melihat cagar budaya yang rusak atau hampir punah, wajib juga dilaporkan.

Adanya cagar budaya di suatu daerah, bearti ada 'ruh' didalamnya. Maka itu perlu kita jaga dan lestarikan bersama. Untuk mencari lebih banyak cerita tentang Cagar Budaya Indonesia, bisa  berkunjung ke  https://kebudayaan.kemdikbud.go.id  


Museum ini Ramai Pengunjung, 
Mari Rawat Bersama

Patung Hermes

Karena museum ini berada di kawasan wisata Kota Tua Jakarta, tak heran jika banyak sekali pengunjung yang penasaran ingin melihat apa sih yang ada dalam museum ini? Ya, soalnya mereka datang di kawasan wisata, jadi sekalian menjelajah ke museum.

Menurut Rafli, dalam satu hari di hari biasa, pengunjung bisa mencapai 500 hingga 1500 lebih.  Jika weekend, bisa dua hingga tiga kali lipat jumlahnya. “Lebih membludak lagi jika hari libur nasional atau moment tertentu seperti tahun baru dan masa lebaran,” kata Rafli. Dengan tiket Rp5000, orang dewasa sudah bisa menikmatinya.

Saat saya ke sana, ada puluhan pelajar dari SMU 1 Ciomas Banten yang berkunjung ke museum ini, mereka datang dengan 6 bus untuk lawatan sejarah. Salah satu siswa,  Aziz, yang duduk di kelas 10 jurusan IPA mengaku  ini adalah  kali  pertama mengunjungi tempat ini.

"Saya tertarik dengan cerita masuknya VOC ke Indonesia dan melihat benda-benda seperti prasasti dan batu-batuan,’ kata Aziz.

Nah, ini dia rombongan Aziz, siswa SMU Ciomas Banten yang sedang melihat lukisan

Namun, Aziz belum tahu kalau bangunan ini termasuk dalam Cagar Budaya Indonesia. Padahal, kita berhak tahu tentang Cagar Budaya yang menyimpan sejarah bangsa ini. Berhak tahu juga apa saja gedung cagar budaya yang ada di sekitarmu.

Apa yang dilakukan siswa SMA Ciomas ini adalah salah bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan sejak dini. Pengetahuan ini tentu saja bermanfaat untuk para siswa, selain menumbuhkan nilat kecintaan terhadap bangsa. 

Namun, menurut Aziz, ia kurang menangkap banyak apa yang disampaikan pemandunya. Karena satu orang pemandu mengawal 30-an siswa. Terlalu ramai, jadi siswa yang posisinya berjauhan dengan pemandu tak terlalu jelas mendengar pemaparannya.
 
“Harusnya 1 orang pemandu menemani 10 sampai 15 orang saja, biar enak,” saran Aziz.


Tambah Pemandu

Nah, berdasarkan cerita Aziz, masukan buat pengelola museum agar menambah jumlah pemandu. Karena tempat ini kan selalu ramai, tentu ada beberapa pengunjung yang memerlukan pemandu.

Menurut Galih Utama Putra, Kepala Satuan Pelayanan Museum, jumlah pemandu wisata ada 13 orang. "Sembilan  pemandu lokal dan 3 pemandu yang menguasai Bahasa Inggris," jelasnya. Meski begitu pelayanan guide juga dibantu juga dengan volunteer  dan juga ada anak-anak SMK pariwisata yang magang.
 
Namun dengan jumlah kunjungan perharinya yang bisa mencapai hingga seribuan lebih, saya rasa tetap perlu ditambah, apalagi saat weekend plus ada kunjungan rombongan seperti siswa-siswa Ciomas tadi.

Kalau saya, butuh ditemani kamu eh pemandu, biar lebih makin tahu sejarah dan cerita tentang gedung ini, tak sekedar jeprat-jepret ngambil foto dari berbagai angle. Berkeliling bersama pemandu, sama juga dengan merawat cerita dan menyebarkan sejarah kepada pengunjung.

Pemandu Museum, Rafli sedang menjelaskan "Monumen Pecah Kulit" kepada saya

Tolong Dijaga, Tolong Jangan Disentuh

Selain butuh tambahan pemandu, perlu juga ditambah penjaga ruang-ruang yang ada di museum. Saat mengelilingi museum, saya tidak tahu penjaganya yang mana. Jadi saya anggap semua adalah pengunjung. Karena tidak terlihat seragam atau baju yang menandakan bahwa ada petugas di suatu ruangan. Namun jika pemandu ada seragamnya; kaos biru bertuliskan “Jelajah Museum”.

Tepat di ruangan pengadilan yang saya ceritakan tadi, ada pengunjung yang memegang-megang meja. Padahal, di atas meja itu ada kertas yang bertuliskan “Jangan disentuh”. Untunglah salah satu teman si pengunjung tadi mengingatkan “Hei, jangan dipegang, itu ada tulisannya tuh!” serunya sambil menunjuk tulisan.

Nah, hal yang seperti ini perlu pengawasan lebih ekstra dari penjaga, agar bisa mengawasi tingkah pengunjung dan menjaga benda-benda bersejarah.

Namun, dari pengunjung pun harusnya mematuhi larangan yang sudah ditetapkan pihak museum. Benda-benda yang ada di sana tak boleh dipegang, karena usianya sudah tua, takutnya itu barang mudah rusak atau rapuh.

Nah, waktu saya ke penjara pria misalnya, saya lihat kayu bagian atas jendelanya sudah lapuk dan kropos, Kalau itu dipegang-pegang kayunya bisa patah.

Dindingnya yang putih, jangan pula dicorat-coret. 

Dengan kita tidak menyentuh atau merusak, sama artinya kita melestarikan benda dan bangunan tersebut karena terhindar dari kerusakan yang akan menghilangkan unsur sejarahnya.

Nah, ini jendela penjara pria, terlihat kan ya kayunya sudah kropos


Jangan Pakai Lampu

Saat saya jeprat-jepret menggunakan hape, tak sengaja saya menggunakan flash. Padahal itu beneran gak sengaja, karena kepencet flash. Saya pun langsung dihampiri sama mbak yang bertugas di dekat pintu masuk.

“Tolong jangan pakai flash ya mbak kalau ngambil gambar’ ujarnya. 
“Iya maaf mbak, Emang kenapa kalau pakai flash?” Tanya saya.
“Karena benda-bendanya akan terkena radiasi cahaya, jadi bisa merusak” jawab si mbak.

Nah, itu alasanya kenapa gak boleh motret pakai flash atau lampu, terutama untuk pajangan kertas.


Jangan Mencuri

Nyolong uang saudara saja gak boleh, apalagi ngambil benda-benda bersejarah di museum. Tapi, saya lihat di museum ini koleksi benda-bendanya di taruh di tempat yang aman. Barang pecah belah misalnya, dipajangkan dalam lemari kaca. Koleksi batu-batuan juga diamankan dalam etasase kaca.  jadi tidak ada barang yang berukuran kecil yang dipajang tanpa ada penutup. Museum ini juga memasang banyak CCTV.

Meski begitu, sebagai warga negara yang baik, kudu men-camkan juga dalam diri sendiri untuk jangan iseng mencuri benda-benda atau properti gedung yang ada di museum.

Nilai artistik tempo dulu yang tersemat di bangunan, semisal bentuk jendela, kusen pintu, tangga, lantai dan lain-lain adalah bagian cagar budaya yang harus kita rawat.

Keramik

Pelan-pelan Saja

Iya, pelan-pelan saja kalau jalan di museum ini, terutama jika sedang menapaki lantai dari kayu. Jadi, di museum ini, ada bagian gedung yang lantainya kayu, dan ada lantai semen.

So, menapaki lantai kayu, meskipun terlihat masih kokoh, namun tetap was-was kalau kayunya jadi rusak, lecet atau patah. Untuk Anda yang membawa anak kecil, mohon dijaga buah hatinya agar jangan berlari-lari di lantai berkayu, sebab takut itu kayu jadi patah. Sayang, kan sudah merusak fasilitas museum, apalagi biaya renovasi itu tidaklah murah.

Galih Utama Putra, Kepala Satuan Pelayanan Museum mengatakan kepada saya, 85 persen lantai bangunan dipugar sejak 2014. Untuk perawatannya, pengelola gedung melakukan injeksi dan fumigasi (pengendalian hama menggunakan pestisida) untuk mencegah atau menghilangkan rayap yang bisa menggerogoti lantai kayu atau mebel.
 
Lantai kayu di pintu masuk museum


Jangan Nyampah, dong!

Ini nih masalah klasik dari dulu.

Walapun saya tidak menemukan sampah di dalam area museum, tapi di halaman belakang dan halaman depan, waduh...itu sampah bergelimpangan.

Di halaman belakang yang dekat area kantin atau tempat berjualan makanan, kotak sampahnya penuh. Isinya sampai ‘muncrat-muncrat'. Belum agi yang tercecer di halaman lainnya. Perlu ditambah deh jumlah dan titik penempatan tong sampahnya. Karena saya melihat kotak sampah hanya tersedia di dekat tempat makan saja dan satu lagi ada di pojok tangga museum belakang gedung.

Sementara, di halaman depan gedung, lebih banyak lagi sampah berserakan. Bekas kertas, plastik jajanan dan wadah air kemasan menghiasi halaman wisata yang penuh sejarah itu. Duh!

Padahal, menjaga cagar budaya itu, tak hanya sekadar merawat gedungnya saja, tapi isinya (benda-benda) dan juga halaman di sekitar juga perlu perlu diperhatikan dan dirawat agar bersih, sehat dan sedap dipandang mata. Selain itu juga membantu meringankan petugas kebersihan.

Kawasan Kota Tua, di depan Museum Sejarah Jakarta saat weekend, November 2019

Datang dan Sebarkan!

Tak jauh untuk mengenang dan melihat sejarah Jakarta. Datang saja ke museum ini, buka setiap hari termasuk hari libur nasional, pukul 09.00-17.00 WIB.

Untuk lebih mempromosikannya, bisa banget menyelenggarakan kegiatan sosial, pendidikan atau budaya di lokasi museum ini. Ajak dong pengelola gedung memfasilitasi pelaksanaan promosi tersebut. Misalnya saat 17-an mengadakan event yang berkaitan dengan sejarah cagar budaya.

Selain mempromosikan cagar budaya, seperti yang saya katakan di atas tadi, jangan sungkan juga untuk mendaftarkan cagar budaya yang baru. Siapa tahu Anda menemukan cagar budaya baru yang belum banyak diketahui orang atau tersembunyi.

Setelah itu, ceritakan pengalaman Anda pada teman dan keluarga atau sebarkan di media sosial atau tulisan di blog. Menuliskan pengalaman dan cerita tentang bangunan cagar budaya di blog ini, termasuk juga bagian merawat cagar budaya, agar orang tak lupa dengan sejarah dan perjuangan bangsa kita.

Suasana bagian halaman belakang gedung
Museum ini luas lho, jika Anda kecapekan karena mengelilingi area museum, bisa beristirahat di taman atau di halaman belakang museum. Di taman ini, Anda bisa duduk santai menikmati makanan dan minuman sambil melihat penjara bawah tanah, sumur tua, Monumen Pecah Kulit, Patung Dewa Hermes atau melihat betapa antusiasnya pengunjung berswafoto di tempat ini.

Jika ingin mengelilingi Kawasan Kota Tua, tempat  cagar budaya ini berdiri, ada juga sepeda syantik yang dicat dengan warna-warni  lengkap dengan topi bundarnya, bisa Anda sewa.

Berjalan kaki juga tak masalah, karena ada banyak spot-spot cakep, benda-benda masa lalu seperti meriam,  jajanan, lukisan dan berbagai hiburan yang bisa Anda singgahi.

Untunglah kawasan ini dikelola dengan baik oleh pemerintah dan dijadikan tempat wisata sejarah, jadi sekali dayung,  dua - tiga pulau terlampaui, berwisata sambil belajar sejarah. Andai saja gak dijadikan spot wisata dan dipercantik, mungkin orang akan malas bertandang ke museum yang ada di kawasan ini, boro-boro mau tahu lebih banyak tentang sejarah Jakarta. 


Sepeda warna warni yang bisa disewa untuk mengelilingi kawasan kota

Segala bentuk hiburan, keramaian dan kemeriahan yang kini menghiasi Kawasan Kota Tua, mengelilingi Museum Sejarah Jakarta, memang tak bisa menghilangkan nestapa atau kesedihan yang pernah terjadi di balik kokohnya gedung ini. 

Namun, dengan nestapa itulah kita belajar untuk menghargai perjuangan dan menjaga kehidupan yang beradab. Mendamaikan hati dari segala hawa nafsu, perbedaan dan kebencian, serta merawat bangunan dan sejarahnya agar tetap lestari.

Semoga tak ada lagi kisah penjara yang tak manusiawi dan kejamnya hukuman. Jangan pancing lagi keributan yang bisa menciptakan nestapa lain di Indonesia. 

Jadi, kapan Anda bertandang ke Museum Sejarah Jakarta?

Terlihat hanya gambar pintu dan jendela. 
Namun di balik jendela dan pintu penjara itu, ada kepiluan yang tak manusiawi. Jadi, rawatlah sejarah ini!


Tulisan ini saya ikut sertakan pada Kompetisi Blog "Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!” sebagai salah satu kontribusi merawat cagar budaya.

#CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN





Sumber foto: dokumen pribadi
Sumber:
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id 
https://www.nativeindonesia.com/museum-fatahillah
https://kumparan.com
https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016080100067/museum-sejarah-jakarta
https://travel.kompas.com

Karena Transportasi Andal, Kunjungan Wisata Ancol Membludak, Ekonomi Pun Meningkat


Ancol kala senja
,,
Mau ke mana ajak Eneng akhir pekan ini, Bang? Gimana kalau main ke Ancol? Menikmati sepoi-sepoi angin pantai dan desiran pasir putih. Yuhuu! Jangan bilang berat diongkos ya Bang, kan sudah ada bus TransJakarta yang nganterin langsung ke Ancol. Sekarang, bisa banget deh ke keliling Jakarta sama Eneng cuma dengan modal Rp 3.500. Iya benar dengan 3500 rupiah bisa keliling Jakarta lho. 

Cumaaaa...., ya jangan pas-pasan juga bawa uangnya, tambahin dikitlah buat jaga-jaga buat beli makanan dan minuman di jalan. Ya kale jalan doang gak pake makan, lemes ntar Eneng, Bang, hehehe

Pantai karnaval Ancol (9/11/2019)

Iya, bener tuh cerita si Eneng! 

Saya aja kalau mau ke Ancol buat lihat pantai, ke Kebun Binatang Ragunan buat lihat gajah atau ke Kota Tua Jakarta untuk masuk museum, ya naik Bus Rapid Transit (BRT) atau TransJakarta. Murah meriah manjah, membantu banget. Nyaman, handal, bersih dan pakai AC.

Perjalanannya jauuuuuuuuuh, berpuluuh-puluh kilometer ongkosnya gak sampai Rp5000, kantong pun aman. Ekonomis banget. Uang yang harusnya digunakan untuk transportasi, jadi bisa digunakan untuk hal penting lainnya, semisal buat bayar tiket masuk Ancol atau tempat wisata lain, bayar kosan, beli pembalut, kosmetik, kebutuhan bulanan, buat makan siang atau buat tabungan untuk masa depan bersama kamu, Beb.

So, adanya transportasi andal dengan ongkos terjangkau, tentu saja mendukung kawasan wisata untuk mendapatkan pengunjung loyal yang diharapkan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Coba aja ke Ancol di akhir pekan atau saat tanggal merah hari libur nasional, wuih....ramainya ampun-ampun dah, area seputar pantai penuh. Mau main ke Dufan, antriannya panjang.

Pantai Karnaval Ancol saat weekend (9/11/2019)

Keramaian itu tak semata karena Ancol adalah tempat wisata yang paling banyak pilihan permainan dan hiburan, tapi juga faktor transportasi andal atau akses menuju ke sana yang menunjang. Jika naik Trans-Jakarta, akhir pemberhentian bus sampai masuk ke dalam area Ancol dan terintegrasi dengan pintu loket masuk.

Saya saja setiap ke Ancol ya naik Trans-Jakarta. Entah itu cuma sekadar mau liburan atau ada kegiatan/ liputan di sana, moda ini tetap saya andalkan. Kalau ada yang murah, nyaman dengan akses yang menunjang, kenapa pilih yang mahal?

Akses yang menunjang itu misalnya, TransJakarta dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) ini memiliki koridor sendiri sehingga bebas hambatan atau macet. Jadi, bus bisa dijalankan dengan level kualitas tinggi, sehingga waktu menjadi lebih efisien dan cepat dibandingkan kalau saya atau kamu naik bus biasa, yang tentu saja akan memakan waktu lebih lama.

Bangunan haltenya juga  besar, bisa banget untuk mengakomodasi pergerakan penumpang dengan jarak ideal antar halte adalah 300-500 meter. Kini pun sudah disediakan layar di halte yang menginformasikan kapan waktu kedatangan bus.

Naik Trans-Jakarta, selain murah juga bebas hambatan karena punya jalur sendiri. Nikmat banget kan?

Nah, jaringan BRT atau TransJakarta, bisa melayani semua penumpang ke mana saja. Kamu mau kemana, Bang? Habis berwisata di Ragunan atau Kawasan Kota Tua, trus mau lanjut ke Ancol atau ke Pulo Gadung? Gak usah bingung, sistem transit atau tempat transit Trans-Jakarta sudah banyak pilihan dan terintegrasi, jadi lebih cepat.

Bisa transit di Dukuh Atas, Tosari, Benhil, Mangga Dua, Matraman dan masih banyak lagi.  Kalau masih bingung dan takut salah, ya tanya saja dengan petugas BRT-nya.

Saking banyaknya pengembangan rute, TransJakarta kini menyandang predikat sebagai BRT terpanjang di dunia dengan total jangkauan 251 kilometer, yang melalui 234 halte, tersebar di 13 koridor.

TransJakarta, seperti dikutip dari jakarta.bisnis.com memang terus menambah jumlah rute. Pada 2018 mencapai 163 rute menjadi 236 rute, sedangkan total pelanggan ditargetkan meningkat dari 189,7 juta menjadi 231,8 juta pelanggan.
 
Selain itu, TransJakarta juga membuka rute non-BRT sebagai penghubung (feeder) ke daerah pinggiran. Kini pun terintegrasi dengan kereta komuter, MRT, atau angkutan kecil.

Peningkatan yang paling signifikan terdapat di moda Jak Lingko yang ditargetkan memiliki 1.441 unit, 63 rute, dan 11 operator.

Hasil pencapaian kolaborasi Kementerian Perhubungan dan PT Transportasi Jakarta ini membuat  banyak warga Jakarta dan sekitarnya termasuk saya, jadi terbantu. Bahkan,  menurut laman kompas.com, dalam tiga tahun terakhir, jumlah armada meningkat sebanyak 2.380 bus (2017), 3.017 (2018), dan 3.548 (2019).

Wah lonjakan jumlah bus dan penambahan rute, itu berasa banget. Saya saja baru tahu kalau sudah ada Rute Kampung Rambutan-Ancol. Rute ini melewati tempat tinggal saya di Utan kayu. Jadi kalau mau ke Ancol, ya bisa sekali jalan tanpa transit lagi. Sebelum ada rute ini, kalau ke Ancol saya naik dari halte Utan Kayu, lalu turun di Halte Matraman untuk transit atau nyambung jurusan Kampung Melayu-Ancol.

Kini sudah lebih praktis.....Unnnccchh...

Bener tuh kata si Eneng tadi di atas, kemana-mana dengan jarak berkilo-kilo sudah bisa keliling Jakarta, cukup dengan modal Rp3500 doang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Nah, dari halte ini saya naik bus  ke Ancol

Dengan banyaknya rute yang bisa diakses dan jumlah bus makin banyak,  bukan hanya warga saja yang senang, namun tempat wisata pun makin bergairah. Ya, warga yang ingin ke Ancol misalnya jadi lebih sering bertandang ke sana karena diberi kemudahan. Tentu saja ini berpengaruh juga ke faktor ekonomi.

Tenant-tenant yang berjualan di kawasan Ancol, tentu merasakan imbas dari banyaknya pengunjung. Tempat makan atau kuliner di sana jadi rame, jualan aksesoris pun bervariasi dan banyak yang membeli.

Pak Misja, salah satu pedagang aksesoris topi dan kacamata yang berjualan di kawasan Ancol mengatakan, pembeli dagangannya tak hanya dari pengunjung yang datang dengan TransJakarta tapi juga pengunjung yang datang dengan bus pariwisata atau rombongan. Tempat jualan pak Misja persis di dekat jembatan halte Trans-Jakarta, yang di sekitarnya juga banyak parkir bus-bus pariwisata dari berbagai daerah.

“Kebanyakan anak sekolah yang beli jualan saya. Ada yang membeli topi karena kepanasan. Ada juga orang tua yang beliin topi karena anaknya menangis” ujar pak Misja yang sejak 1979 berjualan di Ancol.

Saat saya sedang ngobrol dengannya, ada seorang ibu yang membelikan dua topi berwarna pink untuk dua anak perempuannya. Pak Misja menjualnya Rp25.000 untuk satu buah topi. Bahkan di lain hari bisa sampai Rp30.000. Ia mengambil dagangannya dari koperasi yang dikelola Ancol, satu buah topi seharga Rp21.000. “Ya tergantung penawaran orang saja, kalau sudah lebih dari modal, saya kasih” ujarnya.

Pak Misja (pakai peci) dan pembelinya

Sudah 40 tahun Pak Misja yang berusia hampir 60 tahun ini berjualan di tempat hiburan ini. Ia berdagang sejak masih sekolah. Dari berjualan nasi, kemudian berjualan es joly, es krim, teh botol hingga kini ia berjualan aksesoris. Ada 8 anak yang harus ia hidupi dari hasil mengais rezeki di Ancol.

“13 tahun saya sempat jualan teh botol, dan 10 tahun terakhir jualan aksesoris ini” kisahnya.

Selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari para pembeli yang berkunjung ke Ancol, tentu saja ia melihat banyak peningkatan atau perkembangan yang terjadi di Ancol. Dari mulai wahana yang makin bertambah dan pengunjung yang makin ramai. Terutama dengan adanya Trans-Jakarta, menurut Pak Misja sangat membantu pengunjung menikmati Ancol.

“Kalau dulu orang mau ke Ancol susah nyari kendaraannya, belum lagi yang gak tahu jalan, nyasar-nyasar. Sekarang merem saja, sudah nyampe ke Ancol karena ada TransJakarta,” ujarnya.


Trans-Jakarta di Ancol

Adanya peningkatan ekonomi di Ancol, yang salah satunya karena akses transportasi yang menunjang, juga diakui Departemen Head Corporate Communications PT. Taman Impian Jaya Ancol, Rika Lestari.

Menurutnya, dari tahun ke tahun jumlah tenan atau restoran makin meningkat, perkembangannya cukup baik. Kualitas serta jenis makanan yang disajikan juga semakin banyak dan bervariasi.

“Kita pengen destinasi wisata yang komplit, gak cuma menyediakan wahana hiburan, tapi juga ada kuliner dan merchandise. Sejauh ini perkembangannya cukup baik dan meningkat. Jumlahnya ratusan,” jelas Rika saat saya menelponnya.

Rika menambahkan. tahun 2018, pengunjung Ancol mencapai 18,5 juta orang. Tahun 2020, Ancol menargetkan bisa meraih 20 juta pengunjung. Sementara jumlah pengunjung 2019, baru akan dihitung Desember mendatang.

Ancol memiliki lima gerbang; gerbang Barat, Timur, Karnaval, Marina dan gerbang Trans-Jakarta. Rata-rata pengunjung yang menggunakan transportasi umum menggunakan gerbang Trans-Jakarta.

Pengunjung di Ancol, kala akhir pekan atau weekend selalu membludak. “Kalau Weekday pengunjung Ancol dari 5 gerbang masuk bisa 10 ribuan, kalau weekend bisa mencapai 30-40 ribuan” ujar Rika.

Penumpang Trsn-Jakarta yang ingin membeli tiket masuk Ancol
Nah, kalau ini beli tket Trans_Jakarta untuk pulang dari Ancol

70 persen pengunjung, menurut Rika, lebih menyukai ke arah pantai, selebihnya menyebar ke unit rekreasi seperti ke Dufan, Atlantis Water Adventure, Ocean Dream Samudra dan lain-lain, dengan harga tiket masuk Rp25.000.

Jika ingin tiket yang lebih murah, bisa memesan tiket ‘Segaraga” yang harganya lebih murah Rp10.00 dari tiket normal dan bisa dibeli melalui website Ancol.

“Banyak juga pengunjung yang menggunakan tiket “Segaraga” yang harganya lebih murah dari tiket biasa. Jadi kalau Sabtu Minggu banyak komunitas olahraga yang ke Ancol untuk berkumpul atau berolahraga di seputaran ecopark,” kata Rika.

Taman di Ancol
Ya, selain destinasi wisata, Ancol juga menjadi salah satu tempat yang asik untuk berolahraga. Di sini, kamu bisa mengikuti yoga, fun dance, dan aerobik yang dipandu instruktur professional, mulai dari pagi hingga sore hari. 

Nah, banyaknya fasilitas, arena dan wahana yang disediakan Ancol, tentu saja punya magnet yang cukup kuat untuk menggaet warga Jakarta datang ke sana. 

Eh, eh...sekarang tak cuma warga Jakarta lho yang bisa ke Ancol naik bus kece ini.

Sekarang sudah ada TransJabodetabek juga. Jadi, warga Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi pun diberi kemudahan untuk menikmati kawasan ini. 

Apalagi menurut Rika, saat ini trafik Trans-Jakarta ke Ancol dan sebaliknya cukup baik, jadi penumpang tak perlu menunggu lama kedatangan bus.

Waktu saya main ke Ancol minggu tadi, saya juga melihat alur laju antar bus TransJakarta berdekatan. Satu bus warna merah muncul, di belakangnya ada bus Trans warna biru yang sudah siaga. Jurusannya saja yang beda.

“Gak cuma pengunjung saja yang naik TransJakarta ke Ancol, karyawan Ancol juga banyak yang menggunakan Trans-Jakarta. Saya saya juga naik Transjabodetabek kalau ke Ancol, karena rumah saya di Bintaro,” ucap Rika.
 
Halte Trans-Jakarta Ancol
Dulu, sebelum ada TransJakarta, bagi yang tidak mempunyai kendaraan pribadi, kalau mau ke tempat wisata, ya kudu naik bis kota atau kopaja dan nyambung berkali-kali (transit) karena gak ada bus yang jurusannya langsung ke tempat wisata yang dituju. Rela pindah-pindah bus karena ongkosnya murah. Kalau mau praktis ya naik taxi, tapi mahal tentu saja

Atau kalau mau barengan sama temen atau keluarga, ya sewa mobil atau charter angkot. Kalau naik motor? Wah, kalau jalan-jalannya ngajak anak-anak dan rombongan gak cukup dong motornya, kecuali kalau jalannya hanya berdua sama kamu, Beb, .... Eaaaa....

Soal sulitnya mencari transportasi ke Ancol yang berada di kawasan Jakarta Utara itu, juga dialami  teman kantor saya, Iren. Gadis 23 tahun ini, sejak lahir tinggal di Jakarta. Beda sama saya yang anak perantauan, yang baru 11 tahun lalu menginjakkan kaki di Jakarta.

Nah, karena dari orok sudah di Jakarta, Iren tahu betul perkembangan moda transportasi ibu kota, terutama Trans-Jakarta.

Sebelum ada moda ini, kalau mau ke Ancol bersama teman-temannya, Iren naik taxi atau gak rental mobil.

Lalu sekitar tahun 2013, saat Iren baru tamat SMU, di mana jumlah armada TransJakarta tak sebanyak sekarang, jika mau pulang dari Ancol, harus menunggu satu jam sekali kedatangan di halte/ stasiun bus Ancol.

“Trus, kalau sudah jam 6 sore, udah gak ada tuh bus TransJakartanya di Ancol. Tapi sekarang, hanya menunggu beberapa menit saja di stasiun Ancol, busnya sudah ada” ujar Iren.


TransJakarta hadir sejak 2004 lalu. Saya merasakan moda ini tahun 2006, karena di tahun itulah saya menapakkan kaki ke Jakarta.

Di masa itu, saya masih merasakan peluhnya berdesakan parah di dalam bus karena jumlah armada yang terbatas. Saya juga merasakan antrian yang panjaaaaang dan lamanya durasi menunggu bus. Biar kata TransJakarta bebas macet, namun menunggu dengam waktu yang lama sampai 45 menitan,  bikin lelah dan capek. Belum lagi pas dapat bus, kudu berjejalan dengan penumpang lainnya. Kapan bus akan tiba di halte tempat kita menanti pun, tak ada informasinya. Duh!

Tapi kini, yang mau ke Ancol atau tempat wisata lain, tapi terkendala ongkos dan transportasi, atau nunggu busnya lama, sekarang gak perlu mikirin hal tersebut, karena pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan pihak terkait gak tinggal diam. Mereka berupaya untuk terus memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan saya, kamu, dan warga Jakarta dan sekitarnya dengan transportasi yang bisa diandalkan dan unggul.

Pertumbuhannya pun kian masif terutama sejak 5 tahun belakangan. Bus yang dulunya hanya ratusan dan jumlah rute yang terbatas, kini terus bertumbuh dan bertambah.

Trans-Jakarta di halte Dukuh Atas


Ancol dan TransJakarta

Eh, ngomong-ngomong soal tempat wisata, saya ini suka banget dengan wisata pantai, maka itu kenapa saya suka ke Ancol seperti yang saya ceritakan tadi. Di pantai, stres saya bisa berkurang karena suasananya yang alami. Menikmati suasana pantai dan bermain dengan desiran angin laut juga bisa menghibur jiwa, tsaaah.

Oh ya, ke sana beberapa hari lalu, saya selesai menikmati pantainya jam 5 sore. Mau pulang dong. Tapi....duh, nunggu dulu Bus Wara-Wiri-nya Ancol lama banget. Bus ini disediakan gratis oleh Ancol sebagai transportasi pengunjung di dalam kawasan Ancol.

Ditunggu sampai 30 menit, bus belum juga muncul. Lalu, kata sekuriti yang berjaga di kawasan pantai, bus-nya paling terakhir jam 6 sore. Duh, daripada kemalaman saya akhirnya memilih pulang dengan memesan ojek online dan minta antar ke halte Trans-Jakarta yang di dekat Ancol. Soalnya kalau mau langsung dianter ojol dari Ancol ke tempat saya di Utankayu, wah bisa mahal ongkosnya, hahaha. Kan kudu hemat, buat apa ada Trans-Jakarta kalau masih buang duit banyak, hehehe

Saran saya, bagaimana kalau TransJakarta juga bekerjasama dengan Ancol untuk menyediakan bus sebagai alternatif “Bus Wara-wiri”. Kalau bus wara-wiri Ancol gratis karena disubsidi Ancol, nah, bus Trans-Jakarta gak apa apa deh bayar, daripada nunggu bus wara-wirinya kelamaan. Tapi bus yang ukurannya kecil saja, dan khusus weekend saja, karena di akhir pekan pengunjung Ancol membludak 3 sampai 4 kali lipat dari hari biasa. Saya saja, waktu naik Bus Wara-Wiri itu, duh sempel-sempelan dan berebutan dengan pengnunjung lainya. Sesak.


Saya di Ancol. Sudah kayak model belum? :D

Nah, Pak Misja, pedagang di Ancol yang saya ceritakan di atas tadi, juga punya saran untuk TransJakarta, khususnya untuk jembatan haltenya. Menurut Pak Misja, saat moment-moment tertentu seperti Lebaran, Tahun Baru, 17 Agustus-an atau hari libur nasional lainnya, pengunjung yang menggunakan Trans-Jakarta sangat ramai, akhirnya jembatan penghubung halte dan Ancol jadi penuh, sesak dan gak bisa bergerak. Kondisi ini tentu membuat pengunjung jadi tidak nyaman.

“Kan, kalau yang turun (datang) dari halte rame tuh, nah yang mau pulang juga rame, akhirnya tangga/ jembatan jadi penuh, karena lalu lintasnya “bertabrakan” malah gak bisa gerak. Saran saya, gimana kalau jembatan Trans-Jakarta dilebarin seperti yang di halte Dukuh Atas,” sarannya.

Jembatan / tangga halte Ancol

Ehm, mungkin saat pembangunan halte dan jembatan, pihak TransJakarta dan Ancol gak kepikiran kalau pengunjung Ancol yang datang dengan Trans bakal membludak, maka itu mereka hanya membangun jembatan yang tidak terlalu lebar.

Nah, kalau TransJakarta sudah punya akses ke Ancol, mungkinkah MRT menyusul punya stasiun juga di Ancol? Tambah seru kali ya, yuhuuu!


Nah, ini halte Dukuh Atas, lebar jembatannya seperti yang dimaksud Pak Misja

Mau ke Tempat Wisata Naik MRT? Why Not? 


Selain pembenahan dan penambahan BRT, pemerintah zaman now juga memikirkan faktor transportasi yang terintegrasi atau terhubung satu sama lain agar lebih efektif, cepat dan enak tentunya. Naik BRT dengan brand Trans-Jakarta lalu mau lanjut nyambung MRT? Bisa banget.

Ada 4 halte TransJakarta yang tersambung dengan  stasiun MRT, salah satunya halte Bundaran HI, Tosari, Lebak Bulus, CSW, dan kalau LRT di Velodrome. Jadi mau ke manapun lebih gampang.

Iya, warga Jakarta dimanja banget. Setelah diberi kemudahan ke tempat wisata dengan TransJakarta, kini Kementerian Perhubungan memberi hadiah lagi untuk warga Jakarta dengan hadirnya MRT (Mass Rapit Transit) pada Maret lalu.  Sekarang Indonesia gak kalah sama Singapura atau Malaysia, Thailand, dan Filipina yang sudah lebih dulu punya MRT.

Kecepatannya dahsyat, man!  Mencapai 80-100 kilometer per jam, dan melalui 13 stasiun, berawal dari Stasiun Lebak Bulus lalu berakhir di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI). Jarak sepanjang 16 kilometer itu dapat ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Duh, belum sempat balesin chattingan kamu, sudah sampe saja tuh :))

Untuk sekali tap di stasiun awal, biayanya Rp3.000, lalu akan bertambah Rp1.000 per stasiun berikutnya, hingga jarak terjauh totalnya mencapai Rp14.000.

MRT

Dulu, kalau mau ke Lebak Bulus dari Blok M atau sebaliknya melalui Jalan Fatmawati, ya ampyuun, 'horornya’ kemacetan daerah Fatmawati itu kebangetan deh. Apalagi jalanannya tak selebar jalan Sudirman atau kawasan Thamrin.

Kalau pagi atau sore, sudah deh, bakal padat merayap di sana. Jadi,  kalau kamu ada janji atau acara untuk ketemu klien, mau kencan sama pacar, atau janjian sama calon mertua, duh, jangan deh lewat di situ, karena bakal ngaret jatuhnya. Ntar disetrap calon mertua lho, belum apa-apa sudah gak on time, hahaha..

Sekarang beb, lupakan hal itu, karena sudah ada solusinya.

Tinggal naik aja MRT ke Lebak bulus. Kalau pakai jalan biasa, dari HI ke Lebak Bulus bisa memakan waktu hampir 2 jam, kini 30 menit saja sudah nyampe. Cihuy banget gak tuh!

Stasiun MRT Bundaran HI

Inaz, teman kantor saya yang bekerja di bagian marketing bilang, kehadiran MRT sangat membantunya, terutama untuk keperluan bertemu dengan klien yang memerlukan ketepatan waktu. ‘Kalau ada moment yang harus on time aku naik MRT, karena waktunya bisa diukur, “ujarnya.

Selain ketepatan waktu, Inaz juga suka dengan kestabilan badan MRT. Saat berdiri di dalam MRT, ia merasa tak harus berpegangan karena kereta meluncur dengan stabil, hentakannya tidak kerasa dan nyaman, alias tidak goyang. “Smooth banget ” kata Inaz senang.

Inaz juga suka meluangkan waktunya untuk berolahraga di Kawasan Senayan dan menonton film di bioskop yang ada di Blok M dengan menggunakan MRT.

Ongkos yang dikeluarkan Inaz untuk sekali perjalanan MRT kadang Rp4000 atau Rp 6000 tergantung jaraknya. Sudah murah, tepat waktu pula ketemu klien, urusan jadi lancar, kegiatan hiburan pun jadi terpenuhi. Inilah salah satu nilai plus dari MRT.

Warga yang rumahnya di Lebak Bulus,  bisa juga ke Ancol dengan MRT lalu transit di  Halte HI atau Tosari untuk nyambung naik Trans-Jakarta, lalu  pilih jurusan ke Ancol.

Sebaliknya nih,  kalau kamu mau ke Lebak Bulus atau jalan-jalan ke Jl. Fatmawati, sekarang tak perlu lagi membayangkan 'kehororan'  kawasan itu, karena sudah ada MRT.

Apalagi kalau mau ke tempat wisata dan mampir ke Museum Basuki Abdullah yang terletak di Jalan Keuangan Raya, Cilandak Barat. Pas turun di Stasiun MRT Fatmawati, bisa banget mau mampir di museum ini lho. Almarhum Basuki Abdullah adalah salah satu pelukis legend yang dimiliki Indonesia.

Maka itu, kalau bertandang ke museum ini, ada banyak deretan koleksi lukisan sang maestro dan benda-benda koleksi dari beliau, seperti keramik, patung, topeng, senjata, hingga jam tangan. Semasa hidupnya, Basuki Abdullah memang terkenal hobi mengoleksi jam tangan.

Setelah berwisata di museum, boleh juga tuh kalau mau mampir ke One Belpark. Karena letak Stasiun MRT Fatmawati juga berdekatan dengan pusat perbelanjaan tersebut.

Saya di MRT
Suasana MRT

Nah, naik transportasi unggul seperti TransJakarta maupun MRT, bisa menghemat waktu banget karena terhindar dari kemacetan. Saya juga gak bakalan stres karena macet di jalan. Waktu berharga yang biasanya terbuang karena kemacetan, bisa digunakan untuk hal bermanfaat lainnya.

Selain itu, dengan adanya transportasi unggul, tak hanya memudahkan urusan atau ketemu sama orang, tapi juga memberi peluang untuk lebih giat berkunjung ke tempat wisata, mengenal budaya dan sejarah Indonesia.

Kenyamanan dan keunggulan transportasi yang pesat dan bisa diandalkan dalam 5 tahun belakangan, terutama di ibu kota, tentu saja tak luput dari peran pemerintah dan jajarannya, dalam hal ini Kementerian Perhubungan

 
Nah, kalau Anda sudah jalan ke tempat wisata mana saja dengan menggunakan TransJakarta atau MRT?

Saya menikmati pantai ini beberapa hari lalu