Karena Transportasi Andal, Kunjungan Wisata Ancol Membludak, Ekonomi Pun Meningkat


Ancol kala senja
,,
Mau ke mana ajak Eneng akhir pekan ini, Bang? Gimana kalau main ke Ancol? Menikmati sepoi-sepoi angin pantai dan desiran pasir putih. Yuhuu! Jangan bilang berat diongkos ya Bang, kan sudah ada bus TransJakarta yang nganterin langsung ke Ancol. Sekarang, bisa banget deh ke keliling Jakarta sama Eneng cuma dengan modal Rp 3.500. Iya benar dengan 3500 rupiah bisa keliling Jakarta lho. 

Cumaaaa...., ya jangan pas-pasan juga bawa uangnya, tambahin dikitlah buat jaga-jaga buat beli makanan dan minuman di jalan. Ya kale jalan doang gak pake makan, lemes ntar Eneng, Bang, hehehe

Pantai karnaval Ancol (9/11/2019)

Iya, bener tuh cerita si Eneng! 

Saya aja kalau mau ke Ancol buat lihat pantai, ke Kebun Binatang Ragunan buat lihat gajah atau ke Kota Tua Jakarta untuk masuk museum, ya naik Bus Rapid Transit (BRT) atau TransJakarta. Murah meriah manjah, membantu banget. Nyaman, handal, bersih dan pakai AC.

Perjalanannya jauuuuuuuuuh, berpuluuh-puluh kilometer ongkosnya gak sampai Rp5000, kantong pun aman. Ekonomis banget. Uang yang harusnya digunakan untuk transportasi, jadi bisa digunakan untuk hal penting lainnya, semisal buat bayar tiket masuk Ancol atau tempat wisata lain, bayar kosan, beli pembalut, kosmetik, kebutuhan bulanan, buat makan siang atau buat tabungan untuk masa depan bersama kamu, Beb.

So, adanya transportasi andal dengan ongkos terjangkau, tentu saja mendukung kawasan wisata untuk mendapatkan pengunjung loyal yang diharapkan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Coba aja ke Ancol di akhir pekan atau saat tanggal merah hari libur nasional, wuih....ramainya ampun-ampun dah, area seputar pantai penuh. Mau main ke Dufan, antriannya panjang.

Pantai Karnaval Ancol saat weekend (9/11/2019)

Keramaian itu tak semata karena Ancol adalah tempat wisata yang paling banyak pilihan permainan dan hiburan, tapi juga faktor transportasi andal atau akses menuju ke sana yang menunjang. Jika naik Trans-Jakarta, akhir pemberhentian bus sampai masuk ke dalam area Ancol dan terintegrasi dengan pintu loket masuk.

Saya saja setiap ke Ancol ya naik Trans-Jakarta. Entah itu cuma sekadar mau liburan atau ada kegiatan/ liputan di sana, moda ini tetap saya andalkan. Kalau ada yang murah, nyaman dengan akses yang menunjang, kenapa pilih yang mahal?

Akses yang menunjang itu misalnya, TransJakarta dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) ini memiliki koridor sendiri sehingga bebas hambatan atau macet. Jadi, bus bisa dijalankan dengan level kualitas tinggi, sehingga waktu menjadi lebih efisien dan cepat dibandingkan kalau saya atau kamu naik bus biasa, yang tentu saja akan memakan waktu lebih lama.

Bangunan haltenya juga  besar, bisa banget untuk mengakomodasi pergerakan penumpang dengan jarak ideal antar halte adalah 300-500 meter. Kini pun sudah disediakan layar di halte yang menginformasikan kapan waktu kedatangan bus.

Naik Trans-Jakarta, selain murah juga bebas hambatan karena punya jalur sendiri. Nikmat banget kan?

Nah, jaringan BRT atau TransJakarta, bisa melayani semua penumpang ke mana saja. Kamu mau kemana, Bang? Habis berwisata di Ragunan atau Kawasan Kota Tua, trus mau lanjut ke Ancol atau ke Pulo Gadung? Gak usah bingung, sistem transit atau tempat transit Trans-Jakarta sudah banyak pilihan dan terintegrasi, jadi lebih cepat.

Bisa transit di Dukuh Atas, Tosari, Benhil, Mangga Dua, Matraman dan masih banyak lagi.  Kalau masih bingung dan takut salah, ya tanya saja dengan petugas BRT-nya.

Saking banyaknya pengembangan rute, TransJakarta kini menyandang predikat sebagai BRT terpanjang di dunia dengan total jangkauan 251 kilometer, yang melalui 234 halte, tersebar di 13 koridor.

TransJakarta, seperti dikutip dari jakarta.bisnis.com memang terus menambah jumlah rute. Pada 2018 mencapai 163 rute menjadi 236 rute, sedangkan total pelanggan ditargetkan meningkat dari 189,7 juta menjadi 231,8 juta pelanggan.
 
Selain itu, TransJakarta juga membuka rute non-BRT sebagai penghubung (feeder) ke daerah pinggiran. Kini pun terintegrasi dengan kereta komuter, MRT, atau angkutan kecil.

Peningkatan yang paling signifikan terdapat di moda Jak Lingko yang ditargetkan memiliki 1.441 unit, 63 rute, dan 11 operator.

Hasil pencapaian kolaborasi Kementerian Perhubungan dan PT Transportasi Jakarta ini membuat  banyak warga Jakarta dan sekitarnya termasuk saya, jadi terbantu. Bahkan,  menurut laman kompas.com, dalam tiga tahun terakhir, jumlah armada meningkat sebanyak 2.380 bus (2017), 3.017 (2018), dan 3.548 (2019).

Wah lonjakan jumlah bus dan penambahan rute, itu berasa banget. Saya saja baru tahu kalau sudah ada Rute Kampung Rambutan-Ancol. Rute ini melewati tempat tinggal saya di Utan kayu. Jadi kalau mau ke Ancol, ya bisa sekali jalan tanpa transit lagi. Sebelum ada rute ini, kalau ke Ancol saya naik dari halte Utan Kayu, lalu turun di Halte Matraman untuk transit atau nyambung jurusan Kampung Melayu-Ancol.

Kini sudah lebih praktis.....Unnnccchh...

Bener tuh kata si Eneng tadi di atas, kemana-mana dengan jarak berkilo-kilo sudah bisa keliling Jakarta, cukup dengan modal Rp3500 doang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Nah, dari halte ini saya naik bus  ke Ancol

Dengan banyaknya rute yang bisa diakses dan jumlah bus makin banyak,  bukan hanya warga saja yang senang, namun tempat wisata pun makin bergairah. Ya, warga yang ingin ke Ancol misalnya jadi lebih sering bertandang ke sana karena diberi kemudahan. Tentu saja ini berpengaruh juga ke faktor ekonomi.

Tenant-tenant yang berjualan di kawasan Ancol, tentu merasakan imbas dari banyaknya pengunjung. Tempat makan atau kuliner di sana jadi rame, jualan aksesoris pun bervariasi dan banyak yang membeli.

Pak Misja, salah satu pedagang aksesoris topi dan kacamata yang berjualan di kawasan Ancol mengatakan, pembeli dagangannya tak hanya dari pengunjung yang datang dengan TransJakarta tapi juga pengunjung yang datang dengan bus pariwisata atau rombongan. Tempat jualan pak Misja persis di dekat jembatan halte Trans-Jakarta, yang di sekitarnya juga banyak parkir bus-bus pariwisata dari berbagai daerah.

“Kebanyakan anak sekolah yang beli jualan saya. Ada yang membeli topi karena kepanasan. Ada juga orang tua yang beliin topi karena anaknya menangis” ujar pak Misja yang sejak 1979 berjualan di Ancol.

Saat saya sedang ngobrol dengannya, ada seorang ibu yang membelikan dua topi berwarna pink untuk dua anak perempuannya. Pak Misja menjualnya Rp25.000 untuk satu buah topi. Bahkan di lain hari bisa sampai Rp30.000. Ia mengambil dagangannya dari koperasi yang dikelola Ancol, satu buah topi seharga Rp21.000. “Ya tergantung penawaran orang saja, kalau sudah lebih dari modal, saya kasih” ujarnya.

Pak Misja (pakai peci) dan pembelinya

Sudah 40 tahun Pak Misja yang berusia hampir 60 tahun ini berjualan di tempat hiburan ini. Ia berdagang sejak masih sekolah. Dari berjualan nasi, kemudian berjualan es joly, es krim, teh botol hingga kini ia berjualan aksesoris. Ada 8 anak yang harus ia hidupi dari hasil mengais rezeki di Ancol.

“13 tahun saya sempat jualan teh botol, dan 10 tahun terakhir jualan aksesoris ini” kisahnya.

Selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari para pembeli yang berkunjung ke Ancol, tentu saja ia melihat banyak peningkatan atau perkembangan yang terjadi di Ancol. Dari mulai wahana yang makin bertambah dan pengunjung yang makin ramai. Terutama dengan adanya Trans-Jakarta, menurut Pak Misja sangat membantu pengunjung menikmati Ancol.

“Kalau dulu orang mau ke Ancol susah nyari kendaraannya, belum lagi yang gak tahu jalan, nyasar-nyasar. Sekarang merem saja, sudah nyampe ke Ancol karena ada TransJakarta,” ujarnya.


Trans-Jakarta di Ancol

Adanya peningkatan ekonomi di Ancol, yang salah satunya karena akses transportasi yang menunjang, juga diakui Departemen Head Corporate Communications PT. Taman Impian Jaya Ancol, Rika Lestari.

Menurutnya, dari tahun ke tahun jumlah tenan atau restoran makin meningkat, perkembangannya cukup baik. Kualitas serta jenis makanan yang disajikan juga semakin banyak dan bervariasi.

“Kita pengen destinasi wisata yang komplit, gak cuma menyediakan wahana hiburan, tapi juga ada kuliner dan merchandise. Sejauh ini perkembangannya cukup baik dan meningkat. Jumlahnya ratusan,” jelas Rika saat saya menelponnya.

Rika menambahkan. tahun 2018, pengunjung Ancol mencapai 18,5 juta orang. Tahun 2020, Ancol menargetkan bisa meraih 20 juta pengunjung. Sementara jumlah pengunjung 2019, baru akan dihitung Desember mendatang.

Ancol memiliki lima gerbang; gerbang Barat, Timur, Karnaval, Marina dan gerbang Trans-Jakarta. Rata-rata pengunjung yang menggunakan transportasi umum menggunakan gerbang Trans-Jakarta.

Pengunjung di Ancol, kala akhir pekan atau weekend selalu membludak. “Kalau Weekday pengunjung Ancol dari 5 gerbang masuk bisa 10 ribuan, kalau weekend bisa mencapai 30-40 ribuan” ujar Rika.

Penumpang Trsn-Jakarta yang ingin membeli tiket masuk Ancol
Nah, kalau ini beli tket Trans_Jakarta untuk pulang dari Ancol

70 persen pengunjung, menurut Rika, lebih menyukai ke arah pantai, selebihnya menyebar ke unit rekreasi seperti ke Dufan, Atlantis Water Adventure, Ocean Dream Samudra dan lain-lain, dengan harga tiket masuk Rp25.000.

Jika ingin tiket yang lebih murah, bisa memesan tiket ‘Segaraga” yang harganya lebih murah Rp10.00 dari tiket normal dan bisa dibeli melalui website Ancol.

“Banyak juga pengunjung yang menggunakan tiket “Segaraga” yang harganya lebih murah dari tiket biasa. Jadi kalau Sabtu Minggu banyak komunitas olahraga yang ke Ancol untuk berkumpul atau berolahraga di seputaran ecopark,” kata Rika.

Taman di Ancol
Ya, selain destinasi wisata, Ancol juga menjadi salah satu tempat yang asik untuk berolahraga. Di sini, kamu bisa mengikuti yoga, fun dance, dan aerobik yang dipandu instruktur professional, mulai dari pagi hingga sore hari. 

Nah, banyaknya fasilitas, arena dan wahana yang disediakan Ancol, tentu saja punya magnet yang cukup kuat untuk menggaet warga Jakarta datang ke sana. 

Eh, eh...sekarang tak cuma warga Jakarta lho yang bisa ke Ancol naik bus kece ini.

Sekarang sudah ada TransJabodetabek juga. Jadi, warga Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi pun diberi kemudahan untuk menikmati kawasan ini. 

Apalagi menurut Rika, saat ini trafik Trans-Jakarta ke Ancol dan sebaliknya cukup baik, jadi penumpang tak perlu menunggu lama kedatangan bus.

Waktu saya main ke Ancol minggu tadi, saya juga melihat alur laju antar bus TransJakarta berdekatan. Satu bus warna merah muncul, di belakangnya ada bus Trans warna biru yang sudah siaga. Jurusannya saja yang beda.

“Gak cuma pengunjung saja yang naik TransJakarta ke Ancol, karyawan Ancol juga banyak yang menggunakan Trans-Jakarta. Saya saya juga naik Transjabodetabek kalau ke Ancol, karena rumah saya di Bintaro,” ucap Rika.
 
Halte Trans-Jakarta Ancol
Dulu, sebelum ada TransJakarta, bagi yang tidak mempunyai kendaraan pribadi, kalau mau ke tempat wisata, ya kudu naik bis kota atau kopaja dan nyambung berkali-kali (transit) karena gak ada bus yang jurusannya langsung ke tempat wisata yang dituju. Rela pindah-pindah bus karena ongkosnya murah. Kalau mau praktis ya naik taxi, tapi mahal tentu saja

Atau kalau mau barengan sama temen atau keluarga, ya sewa mobil atau charter angkot. Kalau naik motor? Wah, kalau jalan-jalannya ngajak anak-anak dan rombongan gak cukup dong motornya, kecuali kalau jalannya hanya berdua sama kamu, Beb, .... Eaaaa....

Soal sulitnya mencari transportasi ke Ancol yang berada di kawasan Jakarta Utara itu, juga dialami  teman kantor saya, Iren. Gadis 23 tahun ini, sejak lahir tinggal di Jakarta. Beda sama saya yang anak perantauan, yang baru 11 tahun lalu menginjakkan kaki di Jakarta.

Nah, karena dari orok sudah di Jakarta, Iren tahu betul perkembangan moda transportasi ibu kota, terutama Trans-Jakarta.

Sebelum ada moda ini, kalau mau ke Ancol bersama teman-temannya, Iren naik taxi atau gak rental mobil.

Lalu sekitar tahun 2013, saat Iren baru tamat SMU, di mana jumlah armada TransJakarta tak sebanyak sekarang, jika mau pulang dari Ancol, harus menunggu satu jam sekali kedatangan di halte/ stasiun bus Ancol.

“Trus, kalau sudah jam 6 sore, udah gak ada tuh bus TransJakartanya di Ancol. Tapi sekarang, hanya menunggu beberapa menit saja di stasiun Ancol, busnya sudah ada” ujar Iren.


TransJakarta hadir sejak 2004 lalu. Saya merasakan moda ini tahun 2006, karena di tahun itulah saya menapakkan kaki ke Jakarta.

Di masa itu, saya masih merasakan peluhnya berdesakan parah di dalam bus karena jumlah armada yang terbatas. Saya juga merasakan antrian yang panjaaaaang dan lamanya durasi menunggu bus. Biar kata TransJakarta bebas macet, namun menunggu dengam waktu yang lama sampai 45 menitan,  bikin lelah dan capek. Belum lagi pas dapat bus, kudu berjejalan dengan penumpang lainnya. Kapan bus akan tiba di halte tempat kita menanti pun, tak ada informasinya. Duh!

Tapi kini, yang mau ke Ancol atau tempat wisata lain, tapi terkendala ongkos dan transportasi, atau nunggu busnya lama, sekarang gak perlu mikirin hal tersebut, karena pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan pihak terkait gak tinggal diam. Mereka berupaya untuk terus memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan saya, kamu, dan warga Jakarta dan sekitarnya dengan transportasi yang bisa diandalkan dan unggul.

Pertumbuhannya pun kian masif terutama sejak 5 tahun belakangan. Bus yang dulunya hanya ratusan dan jumlah rute yang terbatas, kini terus bertumbuh dan bertambah.

Trans-Jakarta di halte Dukuh Atas


Ancol dan TransJakarta

Eh, ngomong-ngomong soal tempat wisata, saya ini suka banget dengan wisata pantai, maka itu kenapa saya suka ke Ancol seperti yang saya ceritakan tadi. Di pantai, stres saya bisa berkurang karena suasananya yang alami. Menikmati suasana pantai dan bermain dengan desiran angin laut juga bisa menghibur jiwa, tsaaah.

Oh ya, ke sana beberapa hari lalu, saya selesai menikmati pantainya jam 5 sore. Mau pulang dong. Tapi....duh, nunggu dulu Bus Wara-Wiri-nya Ancol lama banget. Bus ini disediakan gratis oleh Ancol sebagai transportasi pengunjung di dalam kawasan Ancol.

Ditunggu sampai 30 menit, bus belum juga muncul. Lalu, kata sekuriti yang berjaga di kawasan pantai, bus-nya paling terakhir jam 6 sore. Duh, daripada kemalaman saya akhirnya memilih pulang dengan memesan ojek online dan minta antar ke halte Trans-Jakarta yang di dekat Ancol. Soalnya kalau mau langsung dianter ojol dari Ancol ke tempat saya di Utankayu, wah bisa mahal ongkosnya, hahaha. Kan kudu hemat, buat apa ada Trans-Jakarta kalau masih buang duit banyak, hehehe

Saran saya, bagaimana kalau TransJakarta juga bekerjasama dengan Ancol untuk menyediakan bus sebagai alternatif “Bus Wara-wiri”. Kalau bus wara-wiri Ancol gratis karena disubsidi Ancol, nah, bus Trans-Jakarta gak apa apa deh bayar, daripada nunggu bus wara-wirinya kelamaan. Tapi bus yang ukurannya kecil saja, dan khusus weekend saja, karena di akhir pekan pengunjung Ancol membludak 3 sampai 4 kali lipat dari hari biasa. Saya saja, waktu naik Bus Wara-Wiri itu, duh sempel-sempelan dan berebutan dengan pengnunjung lainya. Sesak.


Saya di Ancol. Sudah kayak model belum? :D

Nah, Pak Misja, pedagang di Ancol yang saya ceritakan di atas tadi, juga punya saran untuk TransJakarta, khususnya untuk jembatan haltenya. Menurut Pak Misja, saat moment-moment tertentu seperti Lebaran, Tahun Baru, 17 Agustus-an atau hari libur nasional lainnya, pengunjung yang menggunakan Trans-Jakarta sangat ramai, akhirnya jembatan penghubung halte dan Ancol jadi penuh, sesak dan gak bisa bergerak. Kondisi ini tentu membuat pengunjung jadi tidak nyaman.

“Kan, kalau yang turun (datang) dari halte rame tuh, nah yang mau pulang juga rame, akhirnya tangga/ jembatan jadi penuh, karena lalu lintasnya “bertabrakan” malah gak bisa gerak. Saran saya, gimana kalau jembatan Trans-Jakarta dilebarin seperti yang di halte Dukuh Atas,” sarannya.

Jembatan / tangga halte Ancol

Ehm, mungkin saat pembangunan halte dan jembatan, pihak TransJakarta dan Ancol gak kepikiran kalau pengunjung Ancol yang datang dengan Trans bakal membludak, maka itu mereka hanya membangun jembatan yang tidak terlalu lebar.

Nah, kalau TransJakarta sudah punya akses ke Ancol, mungkinkah MRT menyusul punya stasiun juga di Ancol? Tambah seru kali ya, yuhuuu!


Nah, ini halte Dukuh Atas, lebar jembatannya seperti yang dimaksud Pak Misja

Mau ke Tempat Wisata Naik MRT? Why Not? 


Selain pembenahan dan penambahan BRT, pemerintah zaman now juga memikirkan faktor transportasi yang terintegrasi atau terhubung satu sama lain agar lebih efektif, cepat dan enak tentunya. Naik BRT dengan brand Trans-Jakarta lalu mau lanjut nyambung MRT? Bisa banget.

Ada 4 halte TransJakarta yang tersambung dengan  stasiun MRT, salah satunya halte Bundaran HI, Tosari, Lebak Bulus, CSW, dan kalau LRT di Velodrome. Jadi mau ke manapun lebih gampang.

Iya, warga Jakarta dimanja banget. Setelah diberi kemudahan ke tempat wisata dengan TransJakarta, kini Kementerian Perhubungan memberi hadiah lagi untuk warga Jakarta dengan hadirnya MRT (Mass Rapit Transit) pada Maret lalu.  Sekarang Indonesia gak kalah sama Singapura atau Malaysia, Thailand, dan Filipina yang sudah lebih dulu punya MRT.

Kecepatannya dahsyat, man!  Mencapai 80-100 kilometer per jam, dan melalui 13 stasiun, berawal dari Stasiun Lebak Bulus lalu berakhir di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI). Jarak sepanjang 16 kilometer itu dapat ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Duh, belum sempat balesin chattingan kamu, sudah sampe saja tuh :))

Untuk sekali tap di stasiun awal, biayanya Rp3.000, lalu akan bertambah Rp1.000 per stasiun berikutnya, hingga jarak terjauh totalnya mencapai Rp14.000.

MRT

Dulu, kalau mau ke Lebak Bulus dari Blok M atau sebaliknya melalui Jalan Fatmawati, ya ampyuun, 'horornya’ kemacetan daerah Fatmawati itu kebangetan deh. Apalagi jalanannya tak selebar jalan Sudirman atau kawasan Thamrin.

Kalau pagi atau sore, sudah deh, bakal padat merayap di sana. Jadi,  kalau kamu ada janji atau acara untuk ketemu klien, mau kencan sama pacar, atau janjian sama calon mertua, duh, jangan deh lewat di situ, karena bakal ngaret jatuhnya. Ntar disetrap calon mertua lho, belum apa-apa sudah gak on time, hahaha..

Sekarang beb, lupakan hal itu, karena sudah ada solusinya.

Tinggal naik aja MRT ke Lebak bulus. Kalau pakai jalan biasa, dari HI ke Lebak Bulus bisa memakan waktu hampir 2 jam, kini 30 menit saja sudah nyampe. Cihuy banget gak tuh!

Stasiun MRT Bundaran HI

Inaz, teman kantor saya yang bekerja di bagian marketing bilang, kehadiran MRT sangat membantunya, terutama untuk keperluan bertemu dengan klien yang memerlukan ketepatan waktu. ‘Kalau ada moment yang harus on time aku naik MRT, karena waktunya bisa diukur, “ujarnya.

Selain ketepatan waktu, Inaz juga suka dengan kestabilan badan MRT. Saat berdiri di dalam MRT, ia merasa tak harus berpegangan karena kereta meluncur dengan stabil, hentakannya tidak kerasa dan nyaman, alias tidak goyang. “Smooth banget ” kata Inaz senang.

Inaz juga suka meluangkan waktunya untuk berolahraga di Kawasan Senayan dan menonton film di bioskop yang ada di Blok M dengan menggunakan MRT.

Ongkos yang dikeluarkan Inaz untuk sekali perjalanan MRT kadang Rp4000 atau Rp 6000 tergantung jaraknya. Sudah murah, tepat waktu pula ketemu klien, urusan jadi lancar, kegiatan hiburan pun jadi terpenuhi. Inilah salah satu nilai plus dari MRT.

Warga yang rumahnya di Lebak Bulus,  bisa juga ke Ancol dengan MRT lalu transit di  Halte HI atau Tosari untuk nyambung naik Trans-Jakarta, lalu  pilih jurusan ke Ancol.

Sebaliknya nih,  kalau kamu mau ke Lebak Bulus atau jalan-jalan ke Jl. Fatmawati, sekarang tak perlu lagi membayangkan 'kehororan'  kawasan itu, karena sudah ada MRT.

Apalagi kalau mau ke tempat wisata dan mampir ke Museum Basuki Abdullah yang terletak di Jalan Keuangan Raya, Cilandak Barat. Pas turun di Stasiun MRT Fatmawati, bisa banget mau mampir di museum ini lho. Almarhum Basuki Abdullah adalah salah satu pelukis legend yang dimiliki Indonesia.

Maka itu, kalau bertandang ke museum ini, ada banyak deretan koleksi lukisan sang maestro dan benda-benda koleksi dari beliau, seperti keramik, patung, topeng, senjata, hingga jam tangan. Semasa hidupnya, Basuki Abdullah memang terkenal hobi mengoleksi jam tangan.

Setelah berwisata di museum, boleh juga tuh kalau mau mampir ke One Belpark. Karena letak Stasiun MRT Fatmawati juga berdekatan dengan pusat perbelanjaan tersebut.

Saya di MRT
Suasana MRT

Nah, naik transportasi unggul seperti TransJakarta maupun MRT, bisa menghemat waktu banget karena terhindar dari kemacetan. Saya juga gak bakalan stres karena macet di jalan. Waktu berharga yang biasanya terbuang karena kemacetan, bisa digunakan untuk hal bermanfaat lainnya.

Selain itu, dengan adanya transportasi unggul, tak hanya memudahkan urusan atau ketemu sama orang, tapi juga memberi peluang untuk lebih giat berkunjung ke tempat wisata, mengenal budaya dan sejarah Indonesia.

Kenyamanan dan keunggulan transportasi yang pesat dan bisa diandalkan dalam 5 tahun belakangan, terutama di ibu kota, tentu saja tak luput dari peran pemerintah dan jajarannya, dalam hal ini Kementerian Perhubungan

 
Nah, kalau Anda sudah jalan ke tempat wisata mana saja dengan menggunakan TransJakarta atau MRT?

Saya menikmati pantai ini beberapa hari lalu

26 comments

  1. Berharap banget, MRT hadir di Surabaya jugaaa

    Soalnya Sby sekarang macetnya juga 11-12 dgn Jakarta. Kalo ada MRT, bakal lebih enjoyy menikmati Surabayaa

    Bravo Kemenhub!! Pencapaian yg sungguh luar biasaa!

    ReplyDelete
  2. Baru tahu aku ternyata transjakarta jadi BRT terpanjang dunia mantap semoga dengan kemajuan ini bisa meningkatkan pula perekonomian yah

    ReplyDelete
  3. ternyata jangkauan trans jakarta itu ratusan kilometer. pantas sahaja disebut BRT terpanjang di dunia. pengen ngerasain naik deh, kalau di Jogja juga ada trans jogja dan saya suka muter2 keliling kota pakai itu

    ReplyDelete
  4. Kalau naik transjakarta aku udah pernah mbak, tapi kalau MRT belom 😅. Dulu pengalaman naik transjakarta dari Gajah Mada ke Blok M itu kalau waktu CFD lancar jaya dan murah meriah ramah di kantong hehehe

    ReplyDelete
  5. Trans Jakarta jangkauannya sudah panjang banget ya, sampai-sampai terpanjang di dunia. Dulu pas tinggal di Jakarta, saya juga seorang yang pengguna Trans Jakarta. Murah meriah, bisa ke mall, ke monas, ke ancol dan lainnya.

    Dan sekarang sudah banyak perubahan, itu halte di Ancol sekarang makin cakep apa ya. Duh, pengen ke Jakarta lagi kalau gini, terlebih pengen ngerasain naik MRT juga.

    ReplyDelete
  6. Belum pernah mencoba trans Jakarta dan MRT selama berkunjung ke sana *tutup muka. Tapi, benar diniatin mau coba angkutan umum ini. Selain murah, jangkauannya pun luas. Nah, apalagi sekarang sudah nggak perlu repot ya mbak nyari angkutan ke tempat wisata kayak Ancol. Kemenhub warbiyasah kerjanya, salut!

    ReplyDelete
  7. Kemudahan transportasi memang bisa menambah jumlah wisatawan. By the way aku pernah loh ke Ancol naik busway. Cepat, murah dan nyaman.

    ReplyDelete
  8. Andalan saya banget nih naik TranJakarta. Dengan Rp3.500,00 udah bsa ke mana-mana hahaha

    ReplyDelete
  9. untuk beberapa kota besar aku mendukung banget adanya MRT karena kalo kota kan unpredictable ya, dan bener tuh nyampe Ancol jaman dahuluuuuu sekali itu muter sana sini, dan aku termasuk salah satu tukang nyasar

    kalo sekarang, dengan pedenya aku akan ke transjakarta dan bayar 3500 tanya untuk jurusan Ancol atau google, thats it

    ReplyDelete
  10. menikmati wisata dan rekreasi di sekitaran Jakarta jadi lebih mudah ya, karena banyaknya transportasi yang disediakan oleh pemerintah

    ReplyDelete
  11. Mau donk ke Ancol naik MRT. Secara saya belum pernah nyobain naik MRT hiks sedih banget ya

    ReplyDelete
  12. Iya nih Mbak, yang jembatannya di Ancol kurang lebar itu. Padahal Ancol kan termasuk wisata favorit buat semua orang.

    ReplyDelete
  13. Wahhh aku baru tahu kalo BRT menjadi bus dengan rute terpanjang di dunia. SEkarang ada lagi MRT, dan aku belum nyoba meski udah beberapa kali ke Jakarta.

    ReplyDelete
  14. Kalau ada akses MRT ke Ancol mah, itu pasti bakalan ramai kunjungan ke Ancolnya yah mbak, hehe. Etapi akunya belum pernah ke Ancol, huhuu

    ReplyDelete
  15. Wah, Ancol makin rame aja ya. udah lama banget saya gak ke Ancol. Jadi kepengen ke sana naik MRT atau Trans Jakarta juga. Memang ya, dengan makin beragamnya alat transportasi, dengan lebih nyaman dan aman, siapa pun jadi sukanya jalan-jalan. Termasuk ke Ancol.

    ReplyDelete
  16. Trans Jakarta Juga salah satu favorite Aku mba lumayan bngt praktis cepat dan nyaman busnya,, semakin mudah karena armadanya bnyak sekarang

    ReplyDelete
  17. Ancol ini masih menjadi salah satu tempat wisata terfavorit di Jakarta kalau menurutku, aku pernah pas liburan natal kesana itu penuh banget. Apalagi sekarang sudah semakin banyak transportasi kesana ya, semakin maju deh wisata Indonesia ya.

    ReplyDelete
  18. Trans Jakarta ini memang andalan ya. Mau kemana saja lebih mudah dan lebih cepat. Aku belum pernah ke Ancol naik trans Jakarta nih. Enak banget nih kalau ke Ancol bisa langsung naik trans Jakarta.

    ReplyDelete
  19. Wah kemajuan transportadi kita memang patut dibanggakan.. Semoga terawat dg baik.. Sehingga bisa dengan mudah kemana2

    ReplyDelete
  20. Ke ancol tetap jadi menyenangkan dari dulu ya. Kalau biasanya suka bingung ke sana naik apa, sekarang semua mudah dan nyaman apalagi bawa keluarga

    ReplyDelete
  21. Wah BRT ini berkembang pesat banget ya Mbak. Pantas saja dalam 5 tahun ini saja sudah lebih dari 2.000an unit yang diadakan oleh Kemenhub.

    ReplyDelete
  22. Emang transportasi di Jakarta udah enak banget yaaa, pilihan angkutan umumnya lengkap. Seruju banget kalau transportasi oke dan menjangkau semua apalagi kawasan wisata juga mempengaruhi banget pertumbuhan ekonomi di area itu ya mabk :D

    ReplyDelete
  23. Iya, 5 tahun ke belakang nih rasanya makin banyak aja pencapaian pemerintah di sektor perhubungan. Makin banyak pihak yang terbantu dengan ketersediaan sarana transportasi yang membaik dari hari ke hari.

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah ya transportasi umum di Jakarta makin kece, kita bisa mudah main ke Ancol kalau dulu bingung kalau nggak punya kendaraan pribadi ya, sekarang ada MRT yanf super nyaman..

    ReplyDelete

Hai,

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap di hati. Okeh..