MRT Jakarta, Kujajal Kau Dengan Euforia Kepo Nan Manjah

Kehadiran MRT Jakarta beberapa hari ini, bikin penasaran warga Ibukota. 

Termasuk Eneng, Bang.....

Moda Raya Terpadu atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta, yang dalam bahasa Inggrisnya Jakarta Mass Rapid Transit baru saja diresmikan. Euforianya masih terasa saat saya mengetik tulisan ini. 

MRT Jakarta

Yang namanya moda transportasi baru, ya tentulah orang ingin mencicipinya. Gak peduli strata sosialnya, mau dia horang kayah, orang kurang mampu atau orang biasa sajah seperti diriku yang manjah ini, pengen semua mau cobain MRT. Kata-kata 'kampungan'  karena dianggap norak gegara euforia mencoba MRT, kayaknya perlu dihilangkan. Gak perlu lah pake malu dan gengsi.

12 tahun lalu misalnya, saat Trans Jakarta baru hadir, masyarakat juga euforia ingin menjajalnya. Karena ini hal baru bagi warga, naik kendaraan yang punya jalur khusus sehingga tak terjebak kemacetan. Warga juga pada foto-foto di dalam Trans Jakarta.  Walau rasanya, ya sama saja kayak naik bus angkutan provinsi yang gede itu lho. Sama nih kayak MRT. Orang pada kepo!

Ada yang mau melihat kursinya gimana? Suasana stasiunnya, kecepatan keretanya, loketnya, harum bau kereta yang masih baru, atau mau melihat bangunan bawah tanah yang serba mewah dan megah. Atau sekadar ingin merasakan euforia dan ‘ngiri’ melihat teman yang memajang foto-foto pengalaman mereka di medsos, yang sudah lebih dulu menjajal MRT. Masih banyak lagi alasan lainnya, sehingga kudu dibela-belain naik MRT.

Kalau saya sih, kepengen naik MRT karena efek euforianya dan juga penasaran. Jakarta lagi 'berpesta' dengan adanya MRT, masak iya sih saya gak mau gabung dalam pesta tersebut. Begitu deh analoginya kira kira ya, hahahaha.

Lagian, antara tempat tinggal saya dan kawasan kantor tempat saya bekerja, tidak dilalui MRT. Jadi, saya bukanlah termasuk orang yang bakalan setiap hari naik MRT. Maka itu, karena gak tahu kapan saya bakal mencicipinya kedepannya nanti, ya mumpung masih euforia, mumpung baunya masih ‘wangi’, mumpung masih hits, kudu dicobalah MRT-nya.

Pintu masuk Stasiun Bundaran HI

PT MRT Jakarta pun membuka kesempatan bagi warga yang ingin merasakan ujicoba MRT sebelum diresmikan dan dibuka untuk umum. Karena gratis, ya jelas diserbu dengan sukses, meski kudu pake daftar dulu di web-nya. Perusahaan ini menyediakan 50 ribu tiket per hari untuk menampung kekepoan warga, hehehe

Meski daku gak kebagian menjajal MRT di masa ujicoba karena kehabisan kuota, tapi beruntung masih kebagian naik gratisan pasca diresmikan Presiden Jokowi pada Minggu 24 Maret 2019 lalu.

Lho, kenapa setelah diresmikan kok masih dikasih gratis? Hahahahha.....

Iya, karena harga tiketnya belum final ditentukan jelang detik-detik diresmikan. Alias perdebatan dan pembahasan soal ini antara DPRD dan Pemprov DKI masih alot, kayak daging rendang.

Dan molornya peresmian harga tiket MRT ini juga jadi cibiran netizen di medsos. Pemerintah dianggap lambat, dsb. Tapi, ah biarkanlah, yang penting warga DKI akhirnya kebagian gratisan naik MRT sampai 30 Maret 2019. Yuhuu..!!

Nah, karena masih gratis, banyak banget warga dan karyawan kantoran  dengan tali ID card yang terkalung di lehernya, berlomba menjajal MRT saat jam istirahat kantor. Saya pun idem.

Warga yang akan masuk ke Stasiun Bundaran HI saat jam istirahat kantor

Bersama tiga orang teman kantor, kami barengan naik MRT dari Halte Bundaran HI. Petugas MRT yang berjaga di depan halte meminta bukti pendaftaran atau e-ticketing yang sudah kami pesan via online. Beruntung, kami print itu tiket, jadi gak perlu repot buka hape.  

Warga yang tidak nge-print e-tiketnya, dan hanya menunjukkan kode barkot e-ticketing via email dari handphonenya, malah jadi ribet dan kayak miss komunikasi gitu sama petugasnya, bikin antrian jadi lama. Tapi, saat kami yang diperiksa tiketnya, lancar dan mulus.

Setelah lolos pemeriksaan e-ticketing pertama, kami menuruni tangga. Ketika menuruni tangganya (tangga manual), aduh mak.... menjorok sekali kedalamannya. Ngeri-ngeri sedap euy. Kalau pake high heels, alamak menyeramkan sekaleh. Untunglah kami pakai alas kaki yang ceper-ceper.  

Ini tangganya. manja banget deh
Setelah tiba di bawah alias area stasiunnya, wow, ramai. Ada ratusan orang di dalam stasiun. Untunglah antrian untuk masuk ke dalam area tunggu kereta sih gak terlalu panjang dan lancar. Calon penumpang kudu menunjukkan lagi e-ticketingnya kepada petugas. Alias ini pemeriksaan kedua. 

Antrian

Sebelum kereta datang, kami foto-foto dulu di area stasiun. 

Kami meminta bantuan petugasnya untuk memotret. 

Norak ya? 

Eh biarin. 

Wong yang lain juga begituh, xixixixi.

Kami, Menunggu MRT tiba

Kereta tiba

Sekitar 5 menitan jeprat-jepret, eh datang juga si kereta yang ditunggu. 

Yey... akhirnya...jadi juga jajal MRT, wkwkwkwk. 

Dan saat memasuki kereta, rada berebutan euy, kayak masuk KRL atau Trans Jakarta, hahahha.  


yeyeye, jadi juga jajal MRT dengan kepo

Saya kebagian tempat duduk, sementara dua teman lain berdiri. Gak masalah lah berdiri, wong perjalanan juga singkat karena ngebut. Di dalam gerbong, saya melihat suasananya kurang lebih sama kayak KRL (Kereta Rel Listrik). Rasanya pun sama. Duduk saling berhadapan. Ada gantungan tali untuk penumpang yang berdiri. Cuma beda di kecepatan kereta dan kondisi kereta yang masih baru. 

Semua penumpang, selama dalam perjalanan rata-rata pada foto-foto semua. Gak tua-gak muda, pokoknya kudu diabadikan naik MRT pertama kali. 

Jakarta punya MRT, yeyeye

Stasiun demi stasiun kami lalui dalam terowongan/ bawah tanah. Tentulah gelap. Hanya terlihat dinding MRT saja. Walau gelap, dari jendela saya sempatkan melihat bentuk dinding terowongan. Namanya juga masih euforia.

Saat mau tiba di stasiun berikutnya, barulah secercah cahaya terlihat karena sinar lampu dari stasiun tersebut. Pengen sih turun tiap stasiun, mumpung gratis. Tapi kata salah satu temenku, ‘Kan sama aja suasananya. Mending turun di stasiun Fatmawati, pemandangannya bagus, karena kereta berada di jalur atas’. Oh iya juga ya, pikirku.

Namun, setelah tiba di Halte Fatmawati, eh kami gak jadi turun. “Di stasiun Lebak Bulus aja deh foto-fotonya,’ celetuk temankuh yang juga manjah itu. Baiklah....

Nah, ini pemandangan atas daerah Blok M menuju Fatmawati dari dalam MRT


Akhirnya kami beneran langsung ngacir ke halte pemberhentian terakhir, Lebak Bulus. Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Kalau pakai kendaraan umum atau pribadi bisa 2 jam lebih lho. Karena, selain jarak HI-Lebak Bulus emang jauh, kawasan ini juga melalui daerah macet, seperti kawasan Fatmawati dan seputaran Lebak Bulus.

Saat awal pembangunan jalur MRT, warga Fatmawati kudu bersitegang dengan pemerintah karena masalah pembebasan lahan. Ada rumah atau bangunan yang harus dihancurkan demi memuluskan proyek MRT. Tapi dengan hasil yang sekarang, mungkin saja warga yang dulunya kesal jadi senang. Karena akses ke tempat mereka jadi lancar dan cepat. 

Ini suasana stasiun Blok M (Ini foto temenku yang lebih dulu menjajal MRT, Danang)

Nah, setelah tiba di halte terakhir ini, kami langsung jeprat-jepret lagi. Luas sekali terlihat stasiunnya. 

Untuk kembali pulang ke stasiun awal alias stasiun HI, kami naik ke atas. Stasiunnya ruang terbuka atau berada di lintas atas. Alam bisa terlihat, hahahah... Angin sepoi-sepoi manjah pun menyambut kami. Lalu, jeprat-jepret lagi, selfi, wefie, lalu foto-foto lagi. 

Oh Tuhan, untunglah bukan zaman kamera yang pake roll film. Apa kabarnya kalau filmnya habis karena jor-joran pepotoan, sementara semua stasiun belum dijamah dengan syantik.

Suasana Stasiun Lebak Bulus
Nah, kalau mau naik kereta, naik ke tangga ituh


Dari pinggir dinding stasiun, terlihat susunan MRT berjejer, karena stasiun ini adalah deponya. Wah, selama ini saya cuma bisa melihat jejeran mobil di terminal, nah kali ini melihat jejeran MRT di negara sendiri. Bukan main,  negara kita sudah punya MRT, gak kalah sama Jepang. Semakin maju!

Depo MRT Lebak Bulus (ini foto teman saya lagi: Danang)

Sekitar 10 menit di stasiun Lebak Bulus, kereta pun tiba. 

Hayuk kemon lagih...

kereta tiba, siap mengantar kami kembali ke Stasiun Bundaran HI

Dalam perjalanan pulang, aksi foto-foto dalam gerbong masih lanjut. Bahkan, salah satu teman saya kebagian memotoin penumpang per rombongan. Kebetulan dia berdiri, trus foto-foto, eh penumpang lain pada minta bantuan dia buat difotoin. Gak apa-apa, dapet pahala, hehehe. 

Ada petugas yang menegur kami, ketika salah satu teman saya jongkok, karena mau wefie.  Lalu ada anak kecil yang naikin kaki atau alas kakinya ke bangku, juga ditegur petugas.  Tapi petugasnya hanya sekali lewat aja negurnya, habis itu dia pindah ke gerbong lain. Di gerbong yang saya tumpangi, saat perjalanan pergi dan pulang, gak ada petugas yang terlihat ngetem di gerbong kami.

Nah, setelah sampai kembali ke stasiun HI, saat mau keluar stasiun, kami bertemu lagi dengan tangga yang curam, yang saya ceritakan di atas tadi. Lift ada, tapi itu untuk disabilitas, meski ada juga manusia yang fisiknya normal, yang bandel, menggunakannya.

Eskalator juga ada, tapi ada di bagian area bawah yang lainnya. Untuk area mau keluar stasiun, ya naik tangga manual. Kaki kami sampe gemeteran, saking banyaknya anak tangga yang kudu dinaikin. Habis keluar stasiun, pada ngos-ngosan dan kelaparan, hahahha....lalu kami pulang naik taksi balik lagi ke kantor. Gawe lagi. 

Eh, saat kami sudah  berada di beranda stasiun, makin banyak saja orang yang berbondong-bondong datang ke stasiun HI. Ibu-ibu yang bawa anak, nenek-nenek dan juga pekerja. 

Untuk saat ini baru MRT tahap 1 saja yang sudah beres atau dibangun terlebih dulu. Ya, jurusan HI-Lebak Bulus ini. Panjangnya 15.7 km dengan 13 stasiun. 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. Masih ada jurusan lain yang menanti yang masih dalam penyelesaian, yaitu Jurusan Bundaran HI-Kota.

Wuih...tak sabar menunggu euforia selanjutnya....

Anda sudah mencoba MRT?



22 comments

  1. Sebagai warga daerah sekarang saya punya alasan lagi buat main ke Jakarta, mau nyobain MRT ahahahaha. Semoga saat saya kelak berkesempatan menjajalnya MRT ini masih tetap bagus dan terawat seperti saat ini ya. Beneran penasaran euy.

    ReplyDelete
  2. Aaaaak seru bangeeeetttt. Aku belom sempet naik MRT. Masih nyari waktu yang pas karena stasiunnya cukup jauh daaaann mesti bawa anak anak. Hihihi. Tapi berkat postingann ini jadi udah berasa naik MRT juga deh. Makasi infonya yaaaa

    ReplyDelete
  3. Sebagai orang daerah, pengen juga menjajal naik MRT ini.
    kebetulan dari kemarin sampai besok ada tugas di Jakarta, tapi belum ada kesempatan buat "kabur" dari tempat kegiatan

    ReplyDelete
  4. wah seru mba aku jadi penasaran pengen cobain MRT akhirnya yah kita punya sendiri jd pengen ke Jakarta deh buat cobain MRT :)

    ReplyDelete
  5. Bahagiaaa deh akhirnya Jakarta punya MRT. Di banyak negara sudah agak lama punya yaa. Soon I will try as well :)

    ReplyDelete
  6. Wowww mangkas waktu banget brati yaa MRT ni, dari 2 jam jadi setengah jam. Dulu waktu pertama kali ke Jakarta saya yang ndeso ini juga norak banget sama Transjakarta. Seharian keliling2 kota Naik Transjakarta gk turun2.

    Jadi yaa wajar bangetlah kalau semua orang menyambut gembira MRT ini..bangga juga atuhh rasanya

    ReplyDelete
  7. Envy akooh.. Pengen juga ngerasain MRT di bandung. Hahaha. Eh, baru mau nanya itu buat yg difabel gimana, ternyata udah ada jawaban nya pake lift. Semoga tarif MRT terjangkau ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya pengen nyobain MRT tapi di bandung ��

      Delete
  8. Aku penasaran banget pengen nyobain MRT. Gak nyangka di Jakarta bakalan ada MRT ini. Semoga selalu dijaga kebersihannya bersama2 biar tetap kece

    ReplyDelete
  9. Sedih aku ga sempet nyobain MRT, soalnya lagi di kampung. Nanti mau sengajain ah naik MRT.

    ReplyDelete
  10. Gak kalah sama Jepang, kini kitapun punya MRT sbg salah satu alternatif transportasi di ibukota..

    ReplyDelete
  11. saya belum coba, penasaran nih ingin coba juga ..ajak anak2 seru kali ya

    ReplyDelete
  12. Duh saya sebagai pembaca yang manjah juga ingin sekali naik MRT Jakarta, next kalau dari Bandung ada urusan ke Jakarta mau nyobain ah MRT nya, semoga MRT nya selalu bersih dan dijaga dengan baik, seperti menjadi hati. eh gimana ini?

    ReplyDelete
  13. Belum cobain nih.. nunggu kaalo pas ada acara di jkt dl hehe... kayaknya harus siapin fisik naik turun tangga.

    ReplyDelete
  14. yeay akhirnya ada MRT juga di jakarta, biasanya cuma lihat di drama korea aja nih. selamat ya warga jakarta, sudah bisa menikmati teknologi transportasi ini.

    ReplyDelete
  15. Bagus banget ya mba, mirip sama yg di Singapore dan Korea, kalau di Malaysia beda lagi sepertinya, untuk tangga yang curam itu emang sedikit nakutin ya walaupun diluar juga mirip2 gitu tangganya bahkan ada yang sempit cuma 2 orang gitu, ini di indonesia masih mending, atau perlu desain baru mungkin emang ya biar gak curam banget, baru ngeh aku jadi kepikiran

    ReplyDelete
  16. Beluuum..saya belum nyobain naik MRT. Nanti kapan-kapan diniatin pergi dari Bandung trus naik MRT di Jakarta, deh!
    Baca pengalaman Mbak, jadi ikutan eforia. Kayaknya seru sekali ya... kecuali bagian tangga yang curam. Pegel, ya?

    ReplyDelete
  17. Seruuu banget ya kak. Sayang nih aku belum nyobain karena tinggal di daerah. Baru sebatas pernah nyobain LRT aja hehe. Lihat euforia warga Jakarta nyobain MRT, rasanya pengen ikutan. Nanti cobain ah pas main-main ke Jakarta :))

    ReplyDelete
  18. Waah cakep banget mba, Alhamdulillah ya semoga kemacetan rada berkurang..pengen naik juga ah ajak bocah..semoga tetap terawat ni fasilitasnya, biar awet..

    ReplyDelete
  19. Padahal ini stasiunnya deket banget sama kantor, tapi baru bisa lihat dari kejauhan aja ni MRT, hahaha.

    ReplyDelete
  20. waah...seruuu banget mbak eka. saya jauuh dr jakarta. TransJ aja belom coba wkwkkwkw.. ngeness yak.

    ReplyDelete

Hai,

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap di hati. Okeh..