Di kantor saya lagi heboh perkara sendok. Iya, sendok! Jumlahnya lusinan, hampir menyamai jumlah karyawan kantor. Tapi, sudah satu bulan ini, si sendok telihat semakin sedikit. Satu persatu hilang entah ke mana. Hingga tersisa dua atau tiga.
Hilangnya benda ini bikin karyawan kelimpungan, karena fungsinya yang sangat berguna. Untuk makan, menyeduh kopi, membelah cake, dan lain-lain. Kondisi ini membuat teman-teman kantor terpaksa harus bergantian memakai sendok. Siapa cepat, ia dapat, terutama saat jam makan siang. Karena hal ini, sebagian teman ada yang membawa dari rumah dan menyimpannya sendiri, daripada mesti antri pakai sendok.
Berbulan-bulan, misteri lenyapnya sendok belum terjawab. Ada yang menduga hilang tak sengaja, terbuang saat membuang bekas nasi bungkus, atau terbawa tukang bakso saat ia mengambil mangkuk kosong yang sebelumnya dipesan karyawan. Atau… dicolong jin? Hahahha.
Raibnya lusinan sendok ini, terdengar hingga ke pihak bagian umum yang mengurusi soal ini. Mereka pun akhirnya memutuskan agar setiap karyawan membawa sendok masing-masing. Pengumuman itu disampaikan melalui email, per hari di mana sendok tinggal 3 tungkai doang.
“Sisa sendok yang ada di kantor saat ini hanya dikhususkan untuk tamu.” begitu penggalan surat elektronik itu. Semua karyawan “gaduh” setelah membacanya. Tak semua sepakat dengan ide ini. Karena, kehadiran sendok sangat penting dalam urusan sehari-hari termasuk di kantor. Sangat merepotkan jika harus membawa sendiri sendok dari rumah. Dan gak jaminan juga kalau tak bakal hilang. Betul gak sodara-sodari?
Tak tahan dengan hal ini, salah satu karyawan bagian keuangan, Novi, akhirnya membeli sendok satu lusin untuk kantor dengan kocek pribadinya. Di wadah sendok, ia tempelkan kertas dan dituliskan “Sendok Karyawan”. Entah ini sebagai bentuk protes atau kekesalan karena disuruh bawa sendiri sendok masing-masing.
Hilangnya benda ini bikin karyawan kelimpungan, karena fungsinya yang sangat berguna. Untuk makan, menyeduh kopi, membelah cake, dan lain-lain. Kondisi ini membuat teman-teman kantor terpaksa harus bergantian memakai sendok. Siapa cepat, ia dapat, terutama saat jam makan siang. Karena hal ini, sebagian teman ada yang membawa dari rumah dan menyimpannya sendiri, daripada mesti antri pakai sendok.
Berbulan-bulan, misteri lenyapnya sendok belum terjawab. Ada yang menduga hilang tak sengaja, terbuang saat membuang bekas nasi bungkus, atau terbawa tukang bakso saat ia mengambil mangkuk kosong yang sebelumnya dipesan karyawan. Atau… dicolong jin? Hahahha.
Raibnya lusinan sendok ini, terdengar hingga ke pihak bagian umum yang mengurusi soal ini. Mereka pun akhirnya memutuskan agar setiap karyawan membawa sendok masing-masing. Pengumuman itu disampaikan melalui email, per hari di mana sendok tinggal 3 tungkai doang.
“Sisa sendok yang ada di kantor saat ini hanya dikhususkan untuk tamu.” begitu penggalan surat elektronik itu. Semua karyawan “gaduh” setelah membacanya. Tak semua sepakat dengan ide ini. Karena, kehadiran sendok sangat penting dalam urusan sehari-hari termasuk di kantor. Sangat merepotkan jika harus membawa sendiri sendok dari rumah. Dan gak jaminan juga kalau tak bakal hilang. Betul gak sodara-sodari?
Tak tahan dengan hal ini, salah satu karyawan bagian keuangan, Novi, akhirnya membeli sendok satu lusin untuk kantor dengan kocek pribadinya. Di wadah sendok, ia tempelkan kertas dan dituliskan “Sendok Karyawan”. Entah ini sebagai bentuk protes atau kekesalan karena disuruh bawa sendiri sendok masing-masing.
Hilangnya sendok dan email dari bagian umum terkati hal ini, jadi obrolan satu kantor. Saat jam makan siang di pantry, beberapa karyawan pun ngerumpiin sendok dengan ceritanya masing-masing.
“Kalau di kantor suami saya, sendok memang harus bawa masing-masing, berikut wadah makanannya. Memang gak disediain sendok di kantornya,” cerita mbak Niti, salah satu tim sales.
Sekretaris Direksi, Lili, bercerita saat acara kumpul keluarga, setiap kali mencuci piring, jumlah sendok selalu dihitung oleh ibunya. “Jika ada yang hilang, Ibu saya akan teriak, ini kok jumlah sendoknya kurang. Setelah dicari, eh, gak tahunya sendoknya ada di bawah kursi atau nyelip di bawah tikar,” kata Lili tertawa.
Sementara, karyawan lain, Wydia, nyeletuk “Betul, jangankan di kantor yang ramai orangnya, di rumah tangga saja sendok sering hilang. Jadi maklum saja kalau sendok di kantor lama-kelamaan tinggal sedikit,” ujarnya sambil menyantap makan siang.
Gak ada sendok= repot |
Perbincangan sendok, tak terhenti di area kantor saja. Di grup WA yang beranggotakan karyawan kantor pun, masih lanjut ngobrolin sendok saat jam kerja usai. Ada yang dibawa ke humor, ada yang kesal kebijakan bagian umum, ada yang nyinyir dan sebagainya.
Hmmm, soal sendok yang lenyap entah kemana ini, saya pun mengalaminya sendiri. 10 tahun menjadi anak kos, sudah 3 lusin saya membeli sendok, yang tersisa kini hanya 5 saja. Entah kemana lusinan lainnya. Pernah, terlihat salah satu teman kos, Wina, mengambil sendok kotor saya yang ada di wastafel. Ia cuci, lantas digunakan. Ya maklum, mungkin ia juga tak ada sendok. Namun, setelah itu ia tak mengembalikannya lagi kepada saya. Lalu wassalam.
Ada pula teman kos lain yang lain, Susi, saat ia mencuci piring, sendok-sendok anak kos yang kotor ia cuci semua. Lalu, semuanya ia taruh di kamarnya. Jadi anak kos lain pada hilang sendok, mereka gak tahu, kalau sendok-sendoknya ditaruh di kamar Susi. Walau tak bermaksud mencuri, seharusnya, Susi mengambil sendok yang hanya miliknya saja. Toh, ia bisa menghitung berapa sendok yang ia punya.
Ulah Susi ketahuan saat ada teman kos, Ijah, yang main ke kamarnya dan melihat banyak sendok nangkring. “Pantesan sendok gue selama ini hilang. Rupanya ada di kamar Susi semua. Kan gue tahu kalau itu sendok gue atau bukan” ujar Ijah bercerita kepada saya sambil menggerutu.
Ah, pantesan ada ungkapan guyonan yang sering muncul “Eh, kamu minggat dari rumah, gak bawa sendok, kan? Ntar ibumu repot nyari sendoknya lho,” hehehe. Ternyata, guyonan ini benar adanya, sendok hilang, bikin pusing orang.
Waahh sama mbak.. Dulu saat aku ngkos juga sendoknya menghilang sendiri, semakin hari semakin sedikit.. Pun sama, di kantorku skrg sendoknya makin hari makin langka. Hhh
ReplyDeletejadi, kemanakah si sendok? Kok ngajak main petak umpet mulu sih? hhehehe
Deletebukan jadi rahasia umum mbak eka kalo sendok makin hari makin dikit. Dirumahku juga gitu. Dirumah ini loh mbak bukan dikantor hehehe
ReplyDeletemungkin sendoknya punya ilmu menghilang kali ya.
Haii mbak eka, pakabar?? ;)
ho oh, bisa jadi, sendok punya ilmu sulap jadi dia bisa menghilag, mhahahha...
DeleteHai Astari, kabarku baik, gimana juga kabar kamu, aku kepoin blog kamu, sdh lama dirimu gak ngeblog ya? hehehe
kalau di rumah saya sih sendok itu jadinya ada di berbagai sudut, maklumlah heehee
ReplyDeleteDi berbagai sudut? Maksudnya anak-anaknya/ keponakannya main sendok lalu ditinggalkan aja di sudut rumah? hehehhe
DeleteHehehe 😁 lucu ceritanya.
ReplyDeleteKalau pengalamanku dulu sewaktu ngekost yang ngilang mulu hanger ...
Udah ditandain pake spidol,dilubangi,dikasi benang buat penanda biar ngga ketukar sama penghuni kost yang lain ... tetep aja ngilang judulnya.
Nah, kalo hanger di kosanku, paling tidak yang punya aku jarang hilang, meski pernah, hehehe. karena aku selalu taruh hanger di dalam kamar, setelah angkat jemuran, semua baju dan hanger masuk kamar, jadi aman, heheheh
DeleteBerarti pakaian kotor kak Eka di laundryin terus ya ?.
DeleteApa ngga boros,kak ?
lho kok ngelaundry? Saya justru nyuci sendiri, gak terlalu percaya sama laundry, karena gak yakin dengan kebersihannya, hehehe. Kalau aku ngelaudry mulu, gak mungkin aku punya hanger banyak, hehhe
DeleteSendok, sesuatu yang tampaknya sepele namun bisa sangat berarti saat dibutuhkan... Bawa sendiri saja mbak..hehe..
ReplyDeleteho oh, mau bawa sendok sendiri juga malas, takut malah kelupaan di kantor, trus hilang lagi deh, hihihihi
DeleteWah, masih penasaran saya, jadi sendok yang di kantor belum ketahuan ya, Mbak, hilangnya ke mana? Hehehe...
ReplyDeleteentahlah, hilang ke laut kali mas, hehehe
DeleteKalau saya mah tidak terlalu ribet teh soal sendok, karena kadang makan saya sering menggunakan tangan jauh lebih nimat rasanya.
ReplyDeleteKalau pake sendok mah makanan yang ada airnya saja.
yup, makan pake tangan juga tak kalah nikmat, tapi biasanya tetap perlu sendok utk nyerokin/ ambil lauknya, hehhehe
DeleteDrama sendok yaa? Klo hilang mah beli lagi saja, hehehe..
ReplyDeletedrama deh pokoknya, hihihihi. Kini,akhirnya beli sendok yang tipis-tipis aja, karena mungkin bakal ilang juga, rugi beli yang bagus, wkwkwkw
DeleteDirumahku juga sering ilang mbak, ternyata banyak numpuk di timbunan (pembakaran sampah). Sendok tersebut kadag terbuang jika kami sekeluarga membuang bekas atau sampah makanan. heheee
ReplyDeletenah itu, sendoknya tak terlihat nyempil dalam kertas /wadah makanan, sepertinya sendok di kantorku juga begitu, karena banyak karyawan yang makan nasi bungkus, lalu sendoknya ikut terbuang bersama bungkusnya, hihihih
DeleteWaaah kok kebetulan sama ya kak? Malah hari ini sendok dirumah tersisa cuma 6 biji dari selusin. Ini kejadian uda yg kedua kalinya di.bulan puasa. Sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Apa iya hantunya ga ada sendok buat berbuka kali ya hehehe
ReplyDeletehahahha, sendok dicolong hantu...wadaw...hantunya yang kelihatan apa yang terlihat ams, hehehehe
DeleteHahahaaa kalo dikantor saya kasusnya pulpen, ajaib betul, seketika bisa ilang gitu aja.
ReplyDeletekalau pulpen, biasanya ada yang minjem/ ngmabil gak pake ngomong dulu, (saat orangnya lagi gak ada di tempat) lalu, tak dikembalikan lagi, hehehehe
DeleteSaya cari artikel kaya gini, krena sering bgt kjadian. D rmh seringkali sendok brkurang. Klo kselip, d cari ktemu. Klo ada yg bawa, tapi saya jrang bwa makan kluar orang lsin jg g ada. Cuci piring, piring dan sendok d taro d satu wadah. Klo kbuang, g mungkin. Soalnya, saya selalu mbuang sampah bkas mkanan pke saringan. Jadi kliatan klo kbawa sampah. Saya juga nyiriin, sendokna aja yg g ada. Soalnya, saya jga ada yg melamin berbgao warna. Jadi ktahuan mana yg g ada.
ReplyDelete