Liburan dan Cerita Tanggal Merah


Ada tanggal merahnya gak bulan ini? Berapa kali tanggal merahnya dalam sebulan? Posisinya berdampingan langsung gak dengan Sabtu dan Minggu? 

Kalau melihat jejeran tanggal merah, Anda yang hobi jalan-jalan, biasanya akan langsung mengatur waktu untuk memesan tiket perjalanan jauh-jauh hari sebelum si tanggal merah datang, biar gak kehabisan tiket. Iya khan?

Senangnya ya Anda bisa merencanakan liburan ke tempat yang diidamkan di tanggal merah. Apalagi kalau tanggal merahnya berdampingan dengan Sabtu dan Minggu. Wah, dobel tuh senengnya. Liburannya jadi panjang, yuhuu!

Saya, tidak bisa menggunakan tanggal merah yang biasanya bertepatan dengan hari raya agama atau hari besar lainnya, untuk liburan. Karena, mau tanggal merah, tanggal hijau, biru, ungu, gak ngaruh sama saya, hahaha.

Tanggal merah, saya tetap datang ke kantor. Bekerja.

Itu sebagai konsekuensi pilihan saya yang bergelut di dunia media. Program media, baik elektronik, online atau cetak, ya harus tetap berjalan meski hari libur.

Bagi yang kerja di radio: kudu tetap siaran menyapa pendengar dan memberikan informasi, diselingi memutar lagu-lagu yang sudah disusun di playlist oleh Music Director atau MD. Kalau gak ada penyiar yang datang ke studio di tanggal merah, lalu siapa yang siaran?

Bagi yang kerja di Televisi: sinetron harus tayang, talkshow tetap berjalan sesuai waktu, iklan wajib diputar. Kalau gak ada orang yang berada di belakang layar TV, siapa yang bakal memutar sinetron dan mengklik iklan yang sudah dibayar dengan harga selangit itu? Siapa yang berperan mengambil gambar talkshow? Siapa yang menjaga durasi waktu dan menjamin program yang sudah direncanakan akan tayang dengan mulus di hari itu?

Yang kerja di media cetak dan online: reporter harus liputan, editor atau korlip harus memantau atau mengarahkan reporter karena harus ada berita yang naik cetak atau dipublish di media online. Lalu, kalau reporter gak masuk di tanggal merah, apa yang bakal diterbitkan media online atau cetak? Mau baca berita apa pembacanya? Mosok berita yang kemarin juga yang masih dipajang?

Itu dia kenapa reporter radio, TV, online dan media cetak tetap berjibaku mencari berita di tanggal merah, untuk memberikan kabar kepada Anda tentang apa yang terjadi di hari itu. 

Editor atau redaktur yang ada di kantor pun, siaga memutar isi kepala untuk memberi ide liputan dan kreatifitas untuk kemudian dieksekusi reporter. Semua itu tetap berjalan di tanggal merah.

Itulah mengapa pekerja media terutama bagian produksi dan redaksi tetap berjibaku di hari libur, bahkan saat Hari Raya Lebaran pun tetap eksis bekerja. Di mana,  di saat yang sama, Anda menikmati liburan keluar kota bersama teman-teman, atau malah asyik selonjoran di kamar sambil bercengkrama bersama keluarga dengan manjah.

Mau on air, kalau gak ada orang, gimana bisa?

Meski pekerja media harus masuk sesuai jadwal dan tak kenal tanggal merah, tapi kami tetap dapat libur dua hari dalam satu minggu kok. Tapi hari libur yang didapat masing-masing karyawan tak selalu Sabtu dan Minggu, bisa saja liburnya Jumat dan Sabtu, itu bearti Minggu sampai Kamis masuk kerja. Iya, kerja di media, selain tanggal merah, Sabtu dan Minggu juga tetap harus berjalan. Jadi karyawan yang kebagian kerja di weekend, akan dapat libur di hari biasa/ weekday.

Tapi tak masalah, semua pekerjaan itu ada resiko dan suka dukanya. Meski saya tak libur di saat orang libur, tapi saya mendapatkan kompensasi. Iya, kompensasi atau insentif.  Asik kan? Hehehe.

Kantor tempat saya bekerja memberikan kompensasi sekitar tujuh persen dari gaji untuk satu hari masuk di tanggal merah. Kalau tanggal merahnya ada dua kali di bulan yang sama, bearti saya juga dapat dua kali insentif dan akan dibayarkan berbarengan dengan gaji bulanan. Yey! Itulah sukanya. Tapi saya gak tahu kalau di kantor media lain karena kebijakannya beda-beda.

Lalu, dengan waktu yang terjadwal tanpa mengenal tanggal merah itu, apakah saya dan pekerja media lain bisa liburan?

Tentu masih bisa dong, Beb. Masih ada dua hari jatah libur dalam seminggu. Itu bisa banget dimanfaatin untuk liburan, walau mungkin dengan pendeknya waktu tak bisa digunakan untuk liburan yang jauh hingga menyebrang pulau misalnya, karena nanggung. Kalau saya sih memanfaatkan libur dua hari dalam seminggu itu ya untuk jalan-jalan di seputaran Jakarta saja. Ke Ancol atau Setu Babakan, misalnya.

Nah, kalau untuk libur panjang, saya harus mengajukan cuti. Saya biasanya mengambil cuti langsung 5 hari (Senin sampai Jumat) biar liburnya panjang. Kebetulan saya Sabtu Minggu libur, jadi totalnya 9 hari saya libur, hehehe... 

Disitulah waktunya saya memanjakan diri, mata dan raga untuk melihat dan menikmati suasana lain. Oktober lalu, saya baru saja balik dari liburan di Yogya. Ada keponakan saya yang bekerja di sana. Jadi saya menemui dia sekaligus menemani saya jalan-jalan di kota wisata itu.

Kami ke Taman Sari, makan di salah satu restoran legend di Yogya, nengok-nengok batik di Pasar Beringharjo, menikmati malam di alun-alun dan nongkrong asik di kawasan Malioboro dan di beberapa spot lain. Meski capek ngelilingi Malioboro berjalan kaki tapi karena suasananya rame malah jadi happy, heheheh.

Di Taman Sari Yogyakarta, Oktober 2019

Pada malam hari, saya juga sempat foto di spot "0 Kilometer" Yogyakarta yang ada di kawasan Malioboro ini, tepatnya di seberang gedung BNI atau kantor pos yang bangunannya khas tempo dulu. Antri lho yang mau foto.

Tapi, saat siangnya kami melintas lagi di sana, lho kok tulisan "0 kilometer"nya gak ada? Oh, kami baru ngeh bahwa tulisan tersebut adalah properti milik warga, yang jika ada orang foto di slot itu ya kudu sukarela membayar, hehehe.

Nah, karena kami jalan-jalannya dari siang sampai malam, maka di setiap waktu shalat tiba kami mampir ke masjid terdekat. Jadi kami juga berwisata di masjid yang ada di sana. Seru deh.
 
Spot 0 Kilometer Yogyakarta

Kan, baru Oktober tadi saya liburan, trus kapan saya mau liburan lagi? Akhir Desember atau awal tahun baru? No, no, no..! Saya tidak mungkin mengambil cuti di rentang waktu itu. Meski tanggal merahnya berhamburan, hehehe.

Karena, di akhir Desember hingga awal Januari tahun depan, ada beberapa teman nasrani yang akan cuti untuk Natalan, jadi karyawan yang muslim tidak boleh mengambil cuti, agar ada yang menggantikan pekerjaan karyawan yang cuti.

Sebaliknya, jika hari raya Lebaran tiba, maka karwayan yang nasrani yang harus mendahulukan cuti bagi karyawan yang muslim. Begitulah dinamikanya. Untuk apa? Ya, agar semua pekerjaan atau program media tetap berjalan. Misalnya, saat Natal nanti ada teman penyiar yang cuti Natal, sayalah yang akan menggantikan dia siaran. Pun sebaliknya, jika saya cuti.


By the way....meskipun saya gak bisa liburan di tanggal merah (kecuali ngambil cuti), tapi saya tetap mau berbagi kalender tanggal merah untuk tahun depan.

Hayo...pencinta tanggal merah, mana suaranyaaaaaaaa???

Ini dia si tanggal merah yang dicari dan ditunggu!

Tahun depan sudah ngantri nih tanggal merahnya. Mulai sekarang sudah bisa pilah-pilih tanggal-tanggal 'cemerlang'nya, biar rencana cuti lebih mantap. Sudah punya rencana piknik ke mana nih? 

Kalau saya, tanggal yang aman untuk bisa liburan kembali setelah dari Yogyakarta adalah pertengahan Januari, karena di minggu kedua bulan tersebut, sudah melewati 'masa-masa krusial' jadwal teman kantor yang cuti, hehehe.

Lumayan kan ya jaraknya dari Oktober saya ke Yogyakarta, lalu lanjut holiday lagi di pertengahan Januari, hehehe. Mau ke mana saya? Ku pengen ke Bali, sudah lama tidak. Belum puas nge-eksplore Bali tempo hari. Saya pengen ke Seminyak, Tanah Lot dan banyak lagi. Enam tahun lalu saya ke Bali, cuma muter-muter di kotanya doang, hihihi. Maka itu belum banyak daerah yang saya kunjungi di pulau ini dan ingin berkunjung lagi.

Jujur, liburan ke Bali bersama teman kantor waktu itu, perencanaannya tidak matang jadi eksekusinya ngadat, maka itu bisanya cuma muter-muter di kawasan Pantai Kuta,  Pantai Pandawa yang saat itu baru dibuka dan Pantai Nusa Dua, doang, hihihi. Ya sudahlah.....

Saya di Bali, dengan background Pantai Pandawa, 6 tahun lalu

Untunglah merencanakan liburan di zaman now sangat mudah. Mau pesan tiket pesawat, tinggal buka aja di aplikasi lalu pilih mau maskapai apa, tujuan kemana dan kapan mau perginya?

Gak perlu repot lagi telepon maskapainya buat booking atau bersusaah payah mendatangi tempat loketnya. Oh, 10 tahun lalu aku masih melakukan itu. Kini, kemajuan teknologi membuat segala sesuatu sesimple menjentikkan jari saja. Praktis!

Kalau mau yang ada diskonnya, saya bisa main-main ke Aplikasi Pegipegi. Pesan tiket pesawat di Pegipegi bebas ribet. Gak cuma pilihan rute dan maskapainya aja yang banyak, promonya juga rame. Pegipegi melayani lebih dari 20.000 rute penerbangan lho.

Ke Bali dengan jadwal penerbangan Sriwijaya Air misalnya, bisa juga saya pilih di Pegipegi, tinggal menyesuaikan dengan waktu keberangkatan. Setelah dipilih, membayar tiket pemesanan bisa melalui ATM, Transfer Bank, Perbankan Online, dan Kartu Kredit. Anda juga bisa mengunduh aplikasinya di Android dan iOS, gratis.

Di Pegipegi, kita juga bisa menikmati berbagai kemudahan dan penawaran menarik yang akan membuat liburan atau perjalanan bisnis semakin praktis dan asik.

Setiap orang itu butuh liburan apalagi yang sehari harinya berkutat dengan pekerjaan rutin. Jadi harus ada me time atau waktu senggang untuk menyegarkan pikiran agar  psikologi juga sehat.

Jika butuh cepat sampai di lokasi tujuan, ya transportasi udara adalah pilihannya. Salah satu maskapai yang bisa dipercaya untuk mengantarkan kita ke lokasi idaman, ya  Sriwijaya Air. Ada banyak pilihan rutenya dan bisa Anda kulik di Pegipegi.

Saya beberapa kali terbang dengan maskapai ini, jarang mengalami delay. Ketepatan waktu keberangkatan menjadi salah satu faktor pertimbangan konsumen untuk kembali mengulangi terbang bersama maskapai tadi atau tidak.

Nah, Anda sudah ada rencana liburan kemana dalam waktu dekat ini?
Sudah nyolek si tanggal merah?




25 comments

  1. Yaap senasib pekerja media jarang jalan saat tanggal merah ya mba. hahah. Tapi aku bersyukur juga mba masih ada waktu buat jalan-jalan saat orang lain kerja :)

    ReplyDelete
  2. Aku suka liburaaaann...! Ke mana aja hayuk lah, apalagi pesen tiket, hotel dll pake PegiPegi. Jadi anti ribet ribet club!

    ReplyDelete
  3. Wuah mau liburan ke Bali ya. Aku juga pengin nih liburan ke Bali lagi bersama keluarga. Lebaran lalu di Bali cuma di seputaran hotel aja nggak kemana-mana, krn waktu itu mau ke Lombok. Jadi 'numpang' istirahat di Bali sebelum dan setelah dari Lombok :D

    ReplyDelete
  4. Saya semangat menyambut Desember karena ada tanggal merah dan liburan sekolah anak hehehe. Tetapi, memang ada beberapa yang tidak memungkinkan libur di tanggal merah. Beberapa sepupu saya tidak menikmati tanggal merah karena kerjanya di toko kue dan resto

    ReplyDelete
  5. Tahun ini kebanyakan hari besarnya sabtu minggu sih, jadi jarang tanggal merah ekstra.

    ReplyDelete
  6. aku ga terlalu bersemangat menantikan tanggal merah. karena emang jarang kemana2 :D

    sekalinya traveling ya nunggu liburan sekolah aja. itupun pasti padeeetttt banget dan ga nyaman di tempat wisata. pengen sih jalan2 pas bukan liburan sekolah. tapi kesian masa suami n anak2 kudu cuti ngantor n sekolah :P

    ReplyDelete
  7. Aku udah lama lupa tanggal merah mbak hehehe. Duh enak ya kalau masuk di tanggal merah dapat uang tambahan ya. Suka dukanya bekerja di media begini ya mbak.

    ReplyDelete
  8. Waah aku baru tau loh Mbak kalau di media itu weekend tetap kerja. Libur tanggal merah pun beda dengan pekerja di sektor lain. Jasanya sama kayak pak polisi dan dokter jaga yang gak bisa libur saat lebaran ya

    ReplyDelete
  9. Mbak Eka bukan cuma media lho yang enggak kenal tanggal merah, dulu sebelum married aku kerja di bidang praiwisata juga enggak kenal ini hihihi. Malah full team mesti masuk kalau tanggal merah jejer-jejer. Dan setuju, sekarang karena enggak ngefek tanggal merah ya bebas, mesti sudah direncanakan bakal ngajak anak jalan kemana. Karena kalau pas tanggal merah bisa lumayan pergi bersama meski enggak lama perginya

    ReplyDelete
  10. Wah, iya ya.. Kalo kerja di media cetak, offline maupun online, tv dan sejenisnya liburnya beda ya mbk. Lumayan seneng kalo masuk tanggal merah

    ReplyDelete
  11. Betul banget, Mbak. Yang bekerja di media cetak, offline/online, tv, radio dan tenaga medis juga, mereka liburnya akan beda dengan libur kami yang Senin - Jumat masuk. Kalau tanggal merah di jelang weekend itu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Hehehe

    ReplyDelete
  12. Selain pekerja di bidang media para pekerja di bidang perhotelan dan restoran juga sama ya Mbak. Hari libur bagi orang kebanyakan adalah hari berjibaku buat mereka.

    ReplyDelete
  13. Enak juga ya kalau bisa mengalokasikan tanggal merah untuk jalan-jalan. Sayangnya suamiku kerjaannya ga terpatok dengan tanggal merah, jadi kadang susah juga mau jalan-jalan keluarganya kapan. Ya nungguin selonya dia aja :))

    Bener mba, pake pegipegi ini enak banget untuk merencanakan perjalanan dengan pernak-perniknya, misal mau nginep di mana, juga booking tiket gitu. Modal klik klik doang semuanya udah di tangan.

    ReplyDelete
  14. Sebagai mantan pekerja HRD, I feel you, mba Eka
    Setiap pekerjaan pasti ada plus minus ya.

    Perusahaan yang bonafid (baca: taat UU Tenaga Kerja) biasanya akan membeberkan hak dan kewajiban yang tertuang dalam PKWT atau PKWTT.

    Jadi semuanya terang benderang.


    ReplyDelete
  15. Sudah jadi resiko bekerja di media ya, Mbak. Meskipun ada tanggal merah pun harus masuk kerja. Tapi kan bisa dapat penghasilan lebih ya, karena masuk kerjanya terhitung lembur.

    ReplyDelete
  16. Bener y mba Aku suka takjub sm pkerja yg masih kerja pas Hari besar,, sedih pasti ya tp udah tugas gmn ya...akupun selalu pakai pegipegi klo travellingan mba

    ReplyDelete
  17. Aku belum punya rencana liburan bulan ini. Rencana sih akhir Januari ingin liburan sejenak. Tapi belum pasti. Sudah ada pegi-pegi pergi dadakan teyap tenang hehe

    ReplyDelete
  18. Hehe tau rasanya mbak, bapakku dulu kerja di media yang bahkan tgl merah jg tetep cerak. IDem juga mengajukan cuti aja kalau butuh liburan :D
    Td ngecekin tiket di pegi2 juga, klo pakai aplikasi lbh murah dr webnya ya harganya.

    ReplyDelete
  19. Aku niat banyak tanggal merah. Tapi belum pesen2 nunggu bonus akhir tahun sajaaaa wkwkwkwk

    ReplyDelete
  20. Jadi inget dulu saat masih kerja di media, liburnya nggak kenal tanggal merah. Malah pas tanggal merah yang bertepatan dengan hari raya malah banyak kerjaan. Kudu liputan sana sini. Sekarang sih tanggal merah juga nggak ngaruh sebenarnya, karena kerja di rumah, tiap hari bisa dibikin kayak liburan aja. hehehe

    ReplyDelete
  21. Saya kira kerja di media malah bs santai. Kelar kerjaaan bs Plesiran. Ternyata saya salah malah kerjaan gak selesai2 dan tanggal merah tetap kerja. Huhu. Tapi begitulah konsekuensinya kan kak. Eh btw saya baru tahu nol km jogja udah ada tulisannya begitu

    ReplyDelete
  22. Iya ya, jugaawak media ngga ada liburnya,sama dengan medis, polisi, dan restoran dan hotel yang kudu bekerja di hari libur ataupun hari raya..

    ReplyDelete
  23. Baru tahu awak media sistem kerjanya shift juga. Aku pun gitu mbak, kerja di IGD shift2an dan ga kenal hari sabtu minggu dan tanggal merah. Liburnya kapan lepas jaga aja atau kalau mau liburan, penuhin shift di awal, baru deh jalan2

    ReplyDelete
  24. Jadi tahu dinamikanya kerja di media. Libur ga pas tanggal merah malah enak lho, tempat wisata yang dikunjungi tidak terlalu ramai jadi bisa lebih nyantai..

    ReplyDelete
  25. nasib cuma blogger tiap hari tanggal merah :v

    ReplyDelete

Hai,

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap di hati. Okeh..