Nestapa di Balik Gagahnya Museum Sejarah Jakarta, Cagar Budaya Indonesia

Pintu tua, yang dibaliknya menyimpan cerita

Sisa bau pesing masih tercium saat saya mendekati sebuah ruangan bawah tanah yang pengap. Ruangan yang sempit itu dulunya dihuni oleh sekitar 30 hingga 60-an tahanan. Tak terbayang alangkah berdesak-desakannnya mereka tidur, tanpa kasur. Masuk ke dalamnya pun tak bisa berdiri, harus membungkuk karena atapnya melengkung seperti setengah lingkaran. Mereka hanya meringkuk, pasrah!

Yang lebih miris lagi, penjara ini tak menyediakan kamar mandi atau toilet untuk tahanannnya. Jadi para tahanan pun buang air kecil dan air besar, ya di dalam ruangan yang menyedihkan itulah.

Itu sebab, walau kondisi ruangannya kini bersih, namun bau pesing bekas kotoran manusia masih tersisa hingga kini. Saat saya mengintip dari jendelanya saja, sisa aroma tak layak itu, tak bisa bersembunyi. Apalagi jika ada angin, aromanya pun makin menari-nari.

“Selain di penjara, kaki mereka juga dirantai dan dikaitkan dengan bandul besi, sebagai belenggu kaki tahanan. 85 persen tahanan meninggal di dalam penjara, karena pemerintah Belanda tidak memberi mereka makan, sehingga mereka jatuh sakit. Belum lagi, karena kondisi ruangan yang tidak layak, penyakit seperti kolera pun menghinggapi tubuh tahanan hingga mereka meninggal,”
Kisah itu dituturkan Rafli, Pemandu Wisata Museum yang menemani ketika saya berkunjung, Sabtu (16/11/2019).



Ini adalah jejeran pintu penjara bawah tanah pria
Pengunjung melihat penjara bawah tanah

Itulah sekilas gambaran penjara laki-laki pada zaman pemerintahan Belanda. Penjara ini terdiri atas 5 ruangan dengan kondisi yang sama; pengap, sempit dan tanpa toilet.

Bagaimana dengan kondisi penjara wanita?

Duh! Tinggi ruangannya malah lebih pendek dari penjara laki-laki. Harus jongkok jika mau ke dalam. Sama seperti penjara pria, para tahanan wanita pun tak bisa berdiri karena tinggi ruangan yang tak memadai. Yang bikin sedih lagi, saat saya melongok ke dalam, ruangannya berair. Saya  pikir airnya itu baru masuk ke ruangan akhir-akhir ini saja karena sudah masuk musim penghujan. Rupanya kondisi ruangan berair itu sudah terjadi sejak dahulu kala, terutama jika musim penghujan. Salah satu sebabnya karena ruangan ini berada di bawah permukaan garis pantai, sehingga air rembesan naik ke atas.
 
Dan para tahanan wanita saat itu, tetap harus berada di sana, walau air menggenang. Mau nangis saya membayangkannya. Betapa pilunya nasib mereka yang berkecamuk dengan air kotor dan dinginnya ruangan. Konon lantai menggenang ini sengaja dibiarkan agar penghuninya kedinginan, selain sebagai efek jera. Jika tidak kuat tentu saja tahanan akan tewas kedinginan.

Saya terdiam ketika melihat ruangan  ini. Seolah dindingnya yang membisu dan genangan air yang tak beriak itu ingin menyeruakkan jutaan kepedihan yang terjadi ribuan tahun lalu

Kamar kosan saya kemasukan air saja, panik dan sebalnya minta ampun. Lah ini, mereka harus tidur dan berada di dalam ruangan berair yang sempit selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mahal sekali harga yang dibayar untuk sebuah perjuangan.

Pintu kecil dan pendek yang terbuka di bawah, itulah ruang tahanan wanita 
Ini dia kamar tahanannya. Aslinya gelap, saya mainkan fitur "kecerahan" di gambar ini
Pengunjung melihat penjara wanita

Kata Rafli, tahanan yang ada di sini, kebanyakan tahanan umum kasus politik atau menentang kepemerintahan. Ada juga karena tindakan kriminal seperti merampok. Itu sebab,  Untung Suropati dan Cut Nyak Dien, juga sempat mencicipi pengapnya penjara ini karena mereka membela Indonesia dan melawan Belanda.

Pangeran Diponegoro pun pernah ditahan di tempat ini. Namun karena pemerintah Belanda tahu kalau sang pangeran adalah "Orang Besar" maka untuk menghargai itu, beliau ditahan di kamar kepala sipir. Kamar penuh kenangan itu ada di lantai dua, masih ada hingga kini.

Untuk melihat kamarnya, alas kaki harus dilepas atau diganti dengan sandal yang disediakan pihak museum agar tidak kotor. Ser-seran rasanya saat saya menaiki tangga untuk melihat kamar pahlawan Indonesia yang foto atau lukisannya sering dipajang di dinding-dinding sekolah.



Tak jauh dari penjara bawah tanah dan kamar Pangeran Diponegoro, sumur tua dengan kedalaman 3 meter berdiam di sana. Menjadi saksi bisu segala peristiwa ketika Indonesia masih dijajah.

“Sumur ini dulunya digunakan untuk minum kuda dan minum para tanahan. Dulu airnya bersih,” jelas Rafli

Airnya masih ada, tapi warnanya cokelat dan keruh serta diberi kayu pembatas di dalamnya agar lebih aman. Sumur ini masih digunakan pengelola museum, tapi hanya untuk daya tampung air saja.

Sumur yang penuh cerita ini, kini menjadi objek latar foto oleh pengunjung.

Sumur tua yang digunakan untuk air minum kuda dan para tahanan


Kondisi penjara bawah tanah, kamar Pangeran Diponegoro dan sumur tua ini, saya temui di Museum Sejarah Jakarta yang berada di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Taman Fatahillah, Sabtu (17/11/2019).

Karena berada di jalan tersebut, museum ini pun sering disebut warga    
“Museum Fatahillah”

Pengunjung yang swafoto di depan sumur

Bendera merah putih yang melambai-lambai dengan gagahnya di balkon gedung, tak bisa menutupi tragisnya sejarah yang terjadi dan tersimpan di balik  gedung yang berdiri sejak 1707 ini. Bangunan ini dulunya Balai Kota Batavia atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn pada masa pemerintahan VOC di Batavia.

Selain Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil,  dan Dewan Kotapraja.

Bagian atas Museum Sejarah Jakarta. Tempat bendera Merah Putih berkibar adalah balkonnya

Seperti apa suasana pengadilan zaman dulu?

Rafli mengajak saya melihat ruang pengadilan. Jangan dibayangkan ruangannya seperti pengadilan zaman now ya. Ruang pengadilan ini jadi satu dengan balaikota. Di dalam ruangan, hanya ada meja dan kursi untuk hakim, jaksa dan tahanan tanpa ada warga atau keluarga dari tahanan yang akan diadili, karena ini adalah pengadilan tertutup.

“Nah, hakimnya duduk di sini,” kata Rafli sambil menunjuk kursi yang posisinya ada di bagian tengah sisi meja. Jarak hakim dan tahanan hanya sekitar dua  meter. Di belakang kursi pengadilan, ada lemari besar yang berisi berkas dan buku Dewan Pengadilan. Lemari ini terbuat dari serpihan emas dan ukiran yang detil. Sisi kiri atasnya dihiasi dengan Patung Dewi Keadilan dan sisi kanan berdiri Dewi Kebenaran.

Ruang Pengadilan
Salah satu keputusan dari pengadilan adalah hukuman mati. Konon, sang gubernur pemerintahan Belanda kala itu menyaksikan hukuman pancung itu dari balkon gedung lantai dua karena eksekusi dilakukan di halaman gedung.

Halaman eksekusi itu sekarang adalah tempat wisatanya para warga. Kala sore, banyak pengunjung yang duduk-duduk di tempat itu. Ada yang hanya ngobrol, bernyanyi  ada pula yang makan bersama. Bahkan saat weekend tak jarang digunakan untuk acara-acara pemerintah, budaya, kesenian, olahraga dan lain-lain.

Ini balkonnya.
Inilah halaman Museum Sejarah Jakarta yang dulunya tempat eksekusi mati

Bukan hanya itu saja cerita atau peninggalan sejarah bangsa yang tersimpan di museum ini. Di dalamnya ada sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika.

Koleksi ini ada yang berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang saat ini ditempati Museum Wayang, satu komplek juga dengan museum ini.

Nuansa masa lalu terasa kental ketika memasuki gedung ini. Gambar-gambar atau lukisan yang dipajangkan menceritakan tentang zaman VOC dan Hindia Belanda. Benda-benda yang dipajangkan juga menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia (sekarang Jakarta)  sejak awal abad XVI.

Koleksi yang tersaji di sini seperti senjata, pedang, meriam, peta, lukisan, bebatuan, prasasti di lantai satu. Sementara alat pertukangan zaman prasejarah, mebel, lemari, perabot rumah tangga dipajangkan di lantai dua. 

Pajangan keramik  yang berlurik khas negara Eropa, China dan Arab serta perabot rumah tangga
Karena ini gedung ini dulunya adalah perkantoran, tak heran terdapat koleksi mebel antik peninggalan abad ke-17
Koleksi mebel
Tangga menuju lantai dua

Di luar gedung, atau di halaman belakang, ada juga Patung Dewa Hermes. Patung ini juga salah satu objek foto pengunjung. Sementara itu, di pojok taman ada "Monumen Pecah Kulit".

Selain sebagai balaikota dan tempat pengadilan, seiring berjalan waktu, sekitar 1925-1942,  gedung ini digunakan untuk mengatur sistem Pemerintahan Jawa Barat. Kemudian pada 1942-1945, di masa pendudukan Jepang, difungsikan sebagai kantor tempat pengumpulan logistik Dai Nippon.

Setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai markas komando militer kota dari tahun 1952-1968.

Gedung dua lantai ini, secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada 1968, dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Sejarah panjang pejuang merebut Batavia (sekarang Jakarta) dari tangan Belanda, tersaji di museum ini.

Melihat gedung serta isinya dan  kawasan di sekitarnya, seolah saya memasuki ruang waktu. Ada rasa merinding, kagum namun terbersit rasa haru.

Ya, rasa haru mengenang pahlawan dan pejuang kita zaman dulu yang berjuang memperebutkan Indonesia ke pangkuan ibu pertiwi, agar tak lagi dijajah atau dipimpin bangsa lain.

Pemandu Museum Rafli yang menemani saya menjelaskan tentang gedung ini sebelum mengelilingi museum
 
Museum Sejarah Jakarta, Cagar Budaya Indonesia
 
Bangunan khas tempo dulu ini, tak hanya menyimpan sejarah tapi juga mengandung warisan budaya dan kehidupan, juga menyimpan nilai penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan  kebudayaan. Maka itu Museum Sejarah Jakarta ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia.

Semua bangunan Cagar Budaya dimanapun berada, adalah milik warga Indonesia. Anda dan saya berhak tahu tentang sejarah bangsa ini. Semakin bayak wawasan yang didapat, berarti kita sudah  mengembangkan diri karena menambah ilmu pengetahuan. Ini tentu saja bermanfaat untuk para siswa atau mahasiswa untuk menerapkannya di berbagai disiplin ilmu.

Bangunan Cagar Budaya, bukan sekedar pajangan atau tempat wisata belaka. Namun dari bangunan inilah kita bisa membayangkan dan mengambil hikmah kehidupan di masa 1700-an. Ada perjuangan di masa lalu, demi mempertahankan negara ini. Ada banyak orang yang dipenjara, disiksa, rela mencicipi kehidupan tak layak demi mengusir penjajah, demi harga diri bangsa.

Adanya cagar budaya diharapkan agar masyarakat khususnya anak muda, dapat menggali edukasi tentang masa lalu. Di mana, masa sekarang yang bisa kita cicipi dengan nikmat adalah berkah perjuangan masa lampau yang mengandung nilai budaya, adat, dan kehidupan.  



SAYA, dengan menggali atau mendapatkan cerita tentang bangunan museum ini, semakin tahu perjuangan moyang zaman dulu. Saya jadi tahu ada penjara yang begitu tak layak dengan segala kisah pilu di dalamnya. Ada nyawa-nyawa yang harus berkorban demi merebut Indonesia dari tangan penjajah.

Nah, menggali lebih dalam tentang bangunan cagar budaya, adalah bentuk pengembangan diri yang merupakan bagian dari upaya pelestarian cagar budaya. Cagar budaya perlu dilestarikan karena sifatnya yang mudah rapuh, tidak bisa diperbaharui dan terbatas atau langka. 

Bangunan Museum Sejarah Kota yang saya tulis ini, hanya salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan cagar budaya yang tersebar di Indonesia.

Anda yang menemukan cagar budaya di sekitar tempat tinggal, yang belum banyak diketahui orang atau tersembunyi. Jangan sungkan lho mendaftarkan cagar budaya baru ke pemerintah setempat.  Karena dengan bertambah banyaknya jumlah cagar budaya di Indonesia, maka bertambah pula nilai-nilai sejarah dan kisah kehidupan bangsa. Pun, jika juga melihat cagar budaya yang rusak atau hampir punah, wajib juga dilaporkan.

Adanya cagar budaya di suatu daerah, bearti ada 'ruh' didalamnya. Maka itu perlu kita jaga dan lestarikan bersama. Untuk mencari lebih banyak cerita tentang Cagar Budaya Indonesia, bisa  berkunjung ke  https://kebudayaan.kemdikbud.go.id  


Museum ini Ramai Pengunjung, 
Mari Rawat Bersama

Patung Hermes

Karena museum ini berada di kawasan wisata Kota Tua Jakarta, tak heran jika banyak sekali pengunjung yang penasaran ingin melihat apa sih yang ada dalam museum ini? Ya, soalnya mereka datang di kawasan wisata, jadi sekalian menjelajah ke museum.

Menurut Rafli, dalam satu hari di hari biasa, pengunjung bisa mencapai 500 hingga 1500 lebih.  Jika weekend, bisa dua hingga tiga kali lipat jumlahnya. “Lebih membludak lagi jika hari libur nasional atau moment tertentu seperti tahun baru dan masa lebaran,” kata Rafli. Dengan tiket Rp5000, orang dewasa sudah bisa menikmatinya.

Saat saya ke sana, ada puluhan pelajar dari SMU 1 Ciomas Banten yang berkunjung ke museum ini, mereka datang dengan 6 bus untuk lawatan sejarah. Salah satu siswa,  Aziz, yang duduk di kelas 10 jurusan IPA mengaku  ini adalah  kali  pertama mengunjungi tempat ini.

"Saya tertarik dengan cerita masuknya VOC ke Indonesia dan melihat benda-benda seperti prasasti dan batu-batuan,’ kata Aziz.

Nah, ini dia rombongan Aziz, siswa SMU Ciomas Banten yang sedang melihat lukisan

Namun, Aziz belum tahu kalau bangunan ini termasuk dalam Cagar Budaya Indonesia. Padahal, kita berhak tahu tentang Cagar Budaya yang menyimpan sejarah bangsa ini. Berhak tahu juga apa saja gedung cagar budaya yang ada di sekitarmu.

Apa yang dilakukan siswa SMA Ciomas ini adalah salah bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan sejak dini. Pengetahuan ini tentu saja bermanfaat untuk para siswa, selain menumbuhkan nilat kecintaan terhadap bangsa. 

Namun, menurut Aziz, ia kurang menangkap banyak apa yang disampaikan pemandunya. Karena satu orang pemandu mengawal 30-an siswa. Terlalu ramai, jadi siswa yang posisinya berjauhan dengan pemandu tak terlalu jelas mendengar pemaparannya.
 
“Harusnya 1 orang pemandu menemani 10 sampai 15 orang saja, biar enak,” saran Aziz.


Tambah Pemandu

Nah, berdasarkan cerita Aziz, masukan buat pengelola museum agar menambah jumlah pemandu. Karena tempat ini kan selalu ramai, tentu ada beberapa pengunjung yang memerlukan pemandu.

Menurut Galih Utama Putra, Kepala Satuan Pelayanan Museum, jumlah pemandu wisata ada 13 orang. "Sembilan  pemandu lokal dan 3 pemandu yang menguasai Bahasa Inggris," jelasnya. Meski begitu pelayanan guide juga dibantu juga dengan volunteer  dan juga ada anak-anak SMK pariwisata yang magang.
 
Namun dengan jumlah kunjungan perharinya yang bisa mencapai hingga seribuan lebih, saya rasa tetap perlu ditambah, apalagi saat weekend plus ada kunjungan rombongan seperti siswa-siswa Ciomas tadi.

Kalau saya, butuh ditemani kamu eh pemandu, biar lebih makin tahu sejarah dan cerita tentang gedung ini, tak sekedar jeprat-jepret ngambil foto dari berbagai angle. Berkeliling bersama pemandu, sama juga dengan merawat cerita dan menyebarkan sejarah kepada pengunjung.

Pemandu Museum, Rafli sedang menjelaskan "Monumen Pecah Kulit" kepada saya

Tolong Dijaga, Tolong Jangan Disentuh

Selain butuh tambahan pemandu, perlu juga ditambah penjaga ruang-ruang yang ada di museum. Saat mengelilingi museum, saya tidak tahu penjaganya yang mana. Jadi saya anggap semua adalah pengunjung. Karena tidak terlihat seragam atau baju yang menandakan bahwa ada petugas di suatu ruangan. Namun jika pemandu ada seragamnya; kaos biru bertuliskan “Jelajah Museum”.

Tepat di ruangan pengadilan yang saya ceritakan tadi, ada pengunjung yang memegang-megang meja. Padahal, di atas meja itu ada kertas yang bertuliskan “Jangan disentuh”. Untunglah salah satu teman si pengunjung tadi mengingatkan “Hei, jangan dipegang, itu ada tulisannya tuh!” serunya sambil menunjuk tulisan.

Nah, hal yang seperti ini perlu pengawasan lebih ekstra dari penjaga, agar bisa mengawasi tingkah pengunjung dan menjaga benda-benda bersejarah.

Namun, dari pengunjung pun harusnya mematuhi larangan yang sudah ditetapkan pihak museum. Benda-benda yang ada di sana tak boleh dipegang, karena usianya sudah tua, takutnya itu barang mudah rusak atau rapuh.

Nah, waktu saya ke penjara pria misalnya, saya lihat kayu bagian atas jendelanya sudah lapuk dan kropos, Kalau itu dipegang-pegang kayunya bisa patah.

Dindingnya yang putih, jangan pula dicorat-coret. 

Dengan kita tidak menyentuh atau merusak, sama artinya kita melestarikan benda dan bangunan tersebut karena terhindar dari kerusakan yang akan menghilangkan unsur sejarahnya.

Nah, ini jendela penjara pria, terlihat kan ya kayunya sudah kropos


Jangan Pakai Lampu

Saat saya jeprat-jepret menggunakan hape, tak sengaja saya menggunakan flash. Padahal itu beneran gak sengaja, karena kepencet flash. Saya pun langsung dihampiri sama mbak yang bertugas di dekat pintu masuk.

“Tolong jangan pakai flash ya mbak kalau ngambil gambar’ ujarnya. 
“Iya maaf mbak, Emang kenapa kalau pakai flash?” Tanya saya.
“Karena benda-bendanya akan terkena radiasi cahaya, jadi bisa merusak” jawab si mbak.

Nah, itu alasanya kenapa gak boleh motret pakai flash atau lampu, terutama untuk pajangan kertas.


Jangan Mencuri

Nyolong uang saudara saja gak boleh, apalagi ngambil benda-benda bersejarah di museum. Tapi, saya lihat di museum ini koleksi benda-bendanya di taruh di tempat yang aman. Barang pecah belah misalnya, dipajangkan dalam lemari kaca. Koleksi batu-batuan juga diamankan dalam etasase kaca.  jadi tidak ada barang yang berukuran kecil yang dipajang tanpa ada penutup. Museum ini juga memasang banyak CCTV.

Meski begitu, sebagai warga negara yang baik, kudu men-camkan juga dalam diri sendiri untuk jangan iseng mencuri benda-benda atau properti gedung yang ada di museum.

Nilai artistik tempo dulu yang tersemat di bangunan, semisal bentuk jendela, kusen pintu, tangga, lantai dan lain-lain adalah bagian cagar budaya yang harus kita rawat.

Keramik

Pelan-pelan Saja

Iya, pelan-pelan saja kalau jalan di museum ini, terutama jika sedang menapaki lantai dari kayu. Jadi, di museum ini, ada bagian gedung yang lantainya kayu, dan ada lantai semen.

So, menapaki lantai kayu, meskipun terlihat masih kokoh, namun tetap was-was kalau kayunya jadi rusak, lecet atau patah. Untuk Anda yang membawa anak kecil, mohon dijaga buah hatinya agar jangan berlari-lari di lantai berkayu, sebab takut itu kayu jadi patah. Sayang, kan sudah merusak fasilitas museum, apalagi biaya renovasi itu tidaklah murah.

Galih Utama Putra, Kepala Satuan Pelayanan Museum mengatakan kepada saya, 85 persen lantai bangunan dipugar sejak 2014. Untuk perawatannya, pengelola gedung melakukan injeksi dan fumigasi (pengendalian hama menggunakan pestisida) untuk mencegah atau menghilangkan rayap yang bisa menggerogoti lantai kayu atau mebel.
 
Lantai kayu di pintu masuk museum


Jangan Nyampah, dong!

Ini nih masalah klasik dari dulu.

Walapun saya tidak menemukan sampah di dalam area museum, tapi di halaman belakang dan halaman depan, waduh...itu sampah bergelimpangan.

Di halaman belakang yang dekat area kantin atau tempat berjualan makanan, kotak sampahnya penuh. Isinya sampai ‘muncrat-muncrat'. Belum agi yang tercecer di halaman lainnya. Perlu ditambah deh jumlah dan titik penempatan tong sampahnya. Karena saya melihat kotak sampah hanya tersedia di dekat tempat makan saja dan satu lagi ada di pojok tangga museum belakang gedung.

Sementara, di halaman depan gedung, lebih banyak lagi sampah berserakan. Bekas kertas, plastik jajanan dan wadah air kemasan menghiasi halaman wisata yang penuh sejarah itu. Duh!

Padahal, menjaga cagar budaya itu, tak hanya sekadar merawat gedungnya saja, tapi isinya (benda-benda) dan juga halaman di sekitar juga perlu perlu diperhatikan dan dirawat agar bersih, sehat dan sedap dipandang mata. Selain itu juga membantu meringankan petugas kebersihan.

Kawasan Kota Tua, di depan Museum Sejarah Jakarta saat weekend, November 2019

Datang dan Sebarkan!

Tak jauh untuk mengenang dan melihat sejarah Jakarta. Datang saja ke museum ini, buka setiap hari termasuk hari libur nasional, pukul 09.00-17.00 WIB.

Untuk lebih mempromosikannya, bisa banget menyelenggarakan kegiatan sosial, pendidikan atau budaya di lokasi museum ini. Ajak dong pengelola gedung memfasilitasi pelaksanaan promosi tersebut. Misalnya saat 17-an mengadakan event yang berkaitan dengan sejarah cagar budaya.

Selain mempromosikan cagar budaya, seperti yang saya katakan di atas tadi, jangan sungkan juga untuk mendaftarkan cagar budaya yang baru. Siapa tahu Anda menemukan cagar budaya baru yang belum banyak diketahui orang atau tersembunyi.

Setelah itu, ceritakan pengalaman Anda pada teman dan keluarga atau sebarkan di media sosial atau tulisan di blog. Menuliskan pengalaman dan cerita tentang bangunan cagar budaya di blog ini, termasuk juga bagian merawat cagar budaya, agar orang tak lupa dengan sejarah dan perjuangan bangsa kita.

Suasana bagian halaman belakang gedung
Museum ini luas lho, jika Anda kecapekan karena mengelilingi area museum, bisa beristirahat di taman atau di halaman belakang museum. Di taman ini, Anda bisa duduk santai menikmati makanan dan minuman sambil melihat penjara bawah tanah, sumur tua, Monumen Pecah Kulit, Patung Dewa Hermes atau melihat betapa antusiasnya pengunjung berswafoto di tempat ini.

Jika ingin mengelilingi Kawasan Kota Tua, tempat  cagar budaya ini berdiri, ada juga sepeda syantik yang dicat dengan warna-warni  lengkap dengan topi bundarnya, bisa Anda sewa.

Berjalan kaki juga tak masalah, karena ada banyak spot-spot cakep, benda-benda masa lalu seperti meriam,  jajanan, lukisan dan berbagai hiburan yang bisa Anda singgahi.

Untunglah kawasan ini dikelola dengan baik oleh pemerintah dan dijadikan tempat wisata sejarah, jadi sekali dayung,  dua - tiga pulau terlampaui, berwisata sambil belajar sejarah. Andai saja gak dijadikan spot wisata dan dipercantik, mungkin orang akan malas bertandang ke museum yang ada di kawasan ini, boro-boro mau tahu lebih banyak tentang sejarah Jakarta. 


Sepeda warna warni yang bisa disewa untuk mengelilingi kawasan kota

Segala bentuk hiburan, keramaian dan kemeriahan yang kini menghiasi Kawasan Kota Tua, mengelilingi Museum Sejarah Jakarta, memang tak bisa menghilangkan nestapa atau kesedihan yang pernah terjadi di balik kokohnya gedung ini. 

Namun, dengan nestapa itulah kita belajar untuk menghargai perjuangan dan menjaga kehidupan yang beradab. Mendamaikan hati dari segala hawa nafsu, perbedaan dan kebencian, serta merawat bangunan dan sejarahnya agar tetap lestari.

Semoga tak ada lagi kisah penjara yang tak manusiawi dan kejamnya hukuman. Jangan pancing lagi keributan yang bisa menciptakan nestapa lain di Indonesia. 

Jadi, kapan Anda bertandang ke Museum Sejarah Jakarta?

Terlihat hanya gambar pintu dan jendela. 
Namun di balik jendela dan pintu penjara itu, ada kepiluan yang tak manusiawi. Jadi, rawatlah sejarah ini!


Tulisan ini saya ikut sertakan pada Kompetisi Blog "Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!” sebagai salah satu kontribusi merawat cagar budaya.

#CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN





Sumber foto: dokumen pribadi
Sumber:
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id 
https://www.nativeindonesia.com/museum-fatahillah
https://kumparan.com
https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016080100067/museum-sejarah-jakarta
https://travel.kompas.com

43 comments

  1. Ya Allah sedihnya ngebayangin penjara masa itu. Itu mah membunuh dengan cara yang biadab ya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan kondisi penjara yang tak layak dan sempit, itu namanya membunuh pelan-pelan ya mbak :( itulah penderitaan yang dirasakan pejuang kita.

      Delete
  2. Kota Tua Jakarta ini kereeennn buanget!
    Millenials dan kita semua wajib banget concern akan cagar budaya.
    sama2 menjaga dan melestarikan.
    ini wujud kebanggaan kita semua sebagai warga yg baik, ya kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, kalau main ke Kota Tua Jakarta, lengkap deh isinya. Selain ada beragam museum yang sudah menjadi cagar budaya, ada juga hiburan, lukisan, jualan pernak pernik, cafe modern tapi gedugnya jadul, atau foto-foto dengan orang yang menggunakan seragam perang atau none Belande, hehehe.... Pokoknya harus pinter ngerawatnya.

      Delete
  3. Di balik museum yang megah ternyata ceritanya memilukan. Mirip sama Lawang Sewunya Semarang ya Mbak. Ada kisah sedih juga di balik bangunan megah itu. Cagar budaya ini supaya kita tidak melupakan sejarah bangsa kita sendiri. Thank you Mbak Eka atas sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kalau gak dijelasin sama pemandunya, gak akan tahu kisah yg ada di balik penjara itu, kirain sekedar penjara kebanyakn. Rupanya memilukan kisahnya.

      Delete
  4. sedih deh waktu main ke kota tua bawa anak2 naik kereta dari bogor, ehh museum fatahilah tutup krna lagi direnov. duh, ga gugling dulu sih. akhirnya kita keliling di museum sekitarnya aja. alhamdulllah anak2 senang. kapan2 balik lagi buat mampir ke museum fatahilab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah ini emang menjadi titik sentral-nya kawasan Kota Tua ya mba. Kalau main ke kawasan ini, rasanya wajib masuk ke museum, melihat benda-benda maslalu, suasananya dan juga sejarahnya...

      Delete
  5. Kompliiit sekali Eka, senang bacanya!

    Beneran ini informasinya sangat bermanfaat, deh. Selama ini emang tau di Museum Fatahillah ada ini dan itu, tapi keterangan kompliiit pliit baru baca ini! Keren buangeeet ulasannya. Semoga menang yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Tanti, kalau diniati mengulik lebih dalam jadi memang dapet rasanya, ketimbang cuma main-main saja ke sana, heheheh

      Delete
  6. Pemandu museumnya paham banget soal sejarah ya Mbak ... salut saya. Jarang lho pemandu seperti Mas Rafli ini.

    BTW, cerita pilu tentang penjara itu duh ..... menyedihkan ya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain paham, pemandu saya juga ramah mbak. Dan waktu saya pulang ke rumah dan kelupaan ada hal yang blm saya tanyakan, saya WA Rafli-nya(pemandu). Dan dia selalu membalas dan menjelaskannya ;)) Malah dia bilang itu memang tugas dia dan pemandu lainnya yang selalu melayani pertanyaan-pertanyaan tentang museum.

      Delete
  7. Baru tahu pengaruh blitz ke benda. Baiknya di tulis larangan dan efeknya yaa. Orang awam cuma berfikir karna takut ditiru . Terimakasih info lengkapnya,Mbak. Jadi lebih menghargai peninggalan sejarah dan kagum pada pengelolanya yang setia merawat, tentu biayanya tdk sedikit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya mbak, efek pemakaian flash atau kamera berlampu juga harusnya dituliskan atau ditempel di dinding museum ya, biar pengunjung jadi tahu dan peduli. Makasih sarannya mbak :))

      Delete
  8. Aku belum pernah masuk ke museum ini. Pengen banget bisa masuk dan keliling. Pintu penjaranya tebel banget kayunya. Aku merinding lihat foto-foto penjara bawah tanah. Padahal cuma foto saja nih. Namun meski begitu aku paling seneng wisata ke museum. Seru banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat saya berencana mau ke museum ini, yang pertama yang ingin saya dalami memang soal penjara ini mbak. Karena ingin tahu apa yg terjadi di masa pemerintahan Belanda dulu.

      Iya pintunya tebal banget tapi justru terlihat artistik. :))

      Delete
  9. Wah...lengkap banget mak ulasannya, jadi ikutan terbayang bagaimana tersiksanya tawanan-tawanan dahulu, nah...ini juga bisa menjadi poin pembelajaran untuk anak-anak, pengunjung, dan terutama pelajar karena untuk mendapatkan kemerdekaan seperti yang kita nikmati sekarang perjuangannya berdarah-darah. Selain itu, masalah klasik sampah, PR banget itu mak karena aku masih sering kalau pas lagi berwisata banyak orang yang dengan entengnya buang sampah sembarangan, padahal lokasi wisata tersebut adalah cagar budaya yang harus dipelihara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak,ada banyak banget sejarah yg tersimpan di setiap museum. Nah di Museum Sejarah Jakarta justru banyak kesedihan dan kekejaman, salah satunya hukuman pancung.... "lsg mewek"

      Dan soal sampah...iya haduh.... jorok sekali itu, padahal saat saya ke sana banyak orang dari luar negri juga yg berkunjung... maluuu

      Delete
  10. Itu beneran aroma pesing masih ada ya mbak? Aku penasaran dengan Monumen Kulit Pecah, apa sih itu? KAyaknya museum Fatahilah ini terkenal horor ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak..

      Bau pesingnya memang tidak semenyengat kalau kita mencium bau air seni pria yg sering pipis di balik pohon.

      Namun sisa bau pesing itu tetap ada.

      Monumen pecah kulit itu, menurut pemandu saya, menceritakan ttg seorang tuan tanah yang akan melakukan makar terhadap pemerintah Belanda. Karena tanahnya diserobot Belanda.

      Namun sebelum aksi makarnya dilakukan, sdh ketahuan dulu sama Belanda. Akhirnya ia dihukum dengan cara: kedua tangan dan kaki diikatkan pada 4 kuda pilihan dan handal, lalu ditarik oleh 4 kuda itu secara berlawanan hingga kulitnyapun atau badannya terpecah. :(((

      Meski begitu, menurut pengelola musuem jangan dikaitkan museum ini dgn kisah mistis, mbak. Hehehe

      Delete
  11. Aku sudah ke sini Mbak..dan miris sekali emmang lihat penjara bawah tanahnya hiks
    Oh ya masalah pemandu benar juga. Saat itu aku datang berombongan sekitar 50 orang dan pemandunya cuma satu. Ah, enggak bisa nyimak an akutu,,,
    Tapi apapun melihat bangunan ini terjaga sudah senang rasanya. Tinggal dilakukan penambahan fasilitas dan menjaga kelestariannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, satu pemandu harusnya bisa ditetapkan untuk berapa quota pengunjung, agar sejarahnya lebih dapat diserap pengunjung. Kalau satu pemandu untuk 50 orang seperti yang dialami Mbak Dian, walahh...yang ada cuma jalan-jalan aja itu tapi gak dapat pengetahuannya, hehehe

      Delete
  12. Terakhir masuk ke museum Fatahilah kayaknya waktu SD sekalian tour sama teman-teman gitu. Kebayang sih keadaan dalamnya karena aku pun pasti enggan masuk kedalamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keadaaan dalam penjara maksudnya ya mbak, hehehe.. Iya atuh, sempit, pengap dan gak ada toilet, dan gak dikasih makan pula, ...gimana itu rasanya,... :((

      Delete
  13. Aku bacanya sambil merinding ini loh mbak, apalagi aku takut tempat sempit. Membayangkan pahlawan kita seperti Cut Nyak Dien di dalam penjara wanita tuh rasanya pengen nangis. Semoga kedepannya museum-museum di kawasan kota tua ditambah lagi ya pemandunya, seiring dengan banyaknya pengunjung yang datang. Biar seimbang gitu. Btw saya juga pengen banget ke kota tua setelah baca buku 400 tahun Batavia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk mbak ke kawasan Kota Tua Jakarta, jgn lupa mampir ke meseum ini dan minta ditemani pemandu, hehehe... iya aku juga baru tahu kalau Cut Nyak Dien sempat mencicipi tahanan di sini, cediiiihh :((

      Delete
  14. Masya Allah, horor bener ya, betapa penjajahan itu kejam, peninggalan seperti ini bisa jadi reminder kita agar jangan terulang lagi kesedihannya, kekejamannya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kejaaaammmm mbak, perih dan sakit yang dirasakan pejuang kita tentunya. Semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.. Aamiinn...

      Delete
  15. Dibalik kokohnya museum Fatahillah, tersimpan banyak kepiluan dan bukti juang para pejuang Indonesia sebelum merdeka :3
    Miris dan ngebayangin para tahanan di penjara kecil itu mbak, sedihh
    Kalau flashback begitu, jadi sedih, plus jadi tambah tahu kejadian dulu,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, itulah gunanya museum untuk kita dan generasi mendatang mengenang sejarah, dan tugas kita untuk merawatnya :))

      Delete
  16. Cagar budaya ini warisan Indonenesia yaa...
    Ak termasuk orang yang bisa dibilang jarang banget wisata ke cagar budaya.. Karena nggak semua daerah kayaknya punya cagar budaya yang harus dilestarikan gitu kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Rachma tinggal di daerah manakah? Disearching aja mbak adakah cagar budaya di daerahnya mbak. Karena biasanya di tiap daerah ada bangunan2 peninggalan zaman dulu, hehehhe

      Delete
  17. Nggak kebayang dahulu mereka hidup berdesak-bmdesakan di penjara dengan bandul beton sebesar itu di kaki. Ya Allah serem banget ya kehidupan masa itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, aku bersyukur hidup di zaman now, yang tak merasakan kesedihan, siksaaan atau kekejaman. Kalau ingat zaman dulu sebelum kita merdeka, aduhh...perihnya...

      Delete
  18. makin pengen ke Jakarta dan datang melihat bagaimana Museum Fatahillah. saya baru tahu ternyata nama aslinya museum sejarah jakarta. seram yaaa ada penjaranya jg, saya kira cm museum tempat simpan benda2 sejarah perjuangan.. huhu terharu perjuangan bangsa kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, namanya Museum Sejarah Jakarta, belum berubah sampai sekarang, hehehe.

      Karena museum ini dulunya kan kantor balaikota/ pemerintahan, juga kantor pengadilan, maka itu ada penjaranya, hehehe

      Delete
  19. Melihat keadaan tahanan dan cerita yang ada di sana, kayaknya sedih banget membayangkan leluhur kita sewaktu disiksa oleh penjajah. Membayangkannya saja, buat saya bergidik

    ReplyDelete
  20. Aku baru sekali masuk museum itu tapi gak bener2 menikmati krn ngajakin krucils, kapan2 pengen liat lbh jeli lagi ah. Soalnya pas bagian penjaranya waktu itu jg gak masuk, pas pula lagi mau hujan hehe.
    Nah pemandu ini penting banget mbak, pernah sekali ke sana krn event sih, ada pemandu yg ngajakin kita muterin kota tua, seneng banget bisa dapat banyak penjelasan yg mungkin gk ada di buku atau brosur :D

    ReplyDelete
  21. Ternyata ada tumpukan kesedihan yang mewarnai masa lalu. Jadi merinding dan miris bacanya. Betapa pedih pengorbanan para tahanan politik di situ ya.

    ReplyDelete
  22. waini ikon Jakarta nih... meksi pernah kesini ngajak anak2.. tp gak ke museumnya euy..

    ReplyDelete
  23. Yaahhh blom punya kesempatan nih ke museum sejarah jakarta.Padahal pengen banget. Kalau museum gini enaknya sudah mulai tertata dan dikelola baik ya mbak. Bandingin deh ama museum yang di Solo tu, museum radya pustaka, udah kondisinya memprihatinkan, koleksinya banyak dicuri pula.

    ReplyDelete
  24. Saya sempat main ke kawasan kota tua tapi gak sempat ke Museumnya. Bawa anak-anak takutnya bosan, ntar deh aga gedean kan mereka udah sekolah jdi seklaian edukasi.

    ReplyDelete
  25. Astaghfirullah. Bacanya bikin perih ati Mak. Begitu berat ya ujian orang-orang jaman dulu. Semoga dunia ini kini semakin aman. Tidak ada lagi penjara yang begitu menyakitkan.

    ReplyDelete

Hai,

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap di hati. Okeh..